Oleh : Alfaqīr Ahmad Mulyadi
Jakarta, www.istiqlal.or.id - “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”(QS. Al-Hasyr [59]: 18)
Seberapa apik rencana masa depan dengan merancang rencana dan tujuan baru untuk masa-masa mendatang. Melintas batas dengan bersegera bangkit dari kesadaran mengingat akan adanya masa depan yang lebih jauh yang dijanjikan dengan hari esok berupa kematian yang pasti akan menjemput. Berulang kalimat tarji' dalam bela sungkawa “Innā lillāhi wa innā ilaihi Rāji'ūn” (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kapada-Nya).
Apakah ucapan tarji’ sekedar melintas di lisan dan tidak mengetuk sanubari terdalam yang dapat mengubah orientasi dan laku bathin dan zahir, seakan lintasan bersama historis si ‘pemutus kenikmatan’ belum dapat menjadi pengingat jitu terhadap perbaikan orientasi dengan perlunya mempersiapkan akan hari esok dengan ibadah dan amal saleh semaksimal mungkin untuk selalu siap menghadapi proses pengadilan Ilāhi.
Setiap insan akan maju untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya. Apakah sudah merasa mumpuni dengan pencapaian aktualisasi diri saat ini dan yakin dengan capaian sudah siap dan dapat menyelamatkan diri dari mizān ‘amāl saat tibanya yaumul hisāb. Paling tidak, sebuah upaya cerdas sejauh mungkin sejak dini mempersiapkan diri melalui muhasabah diri, mengkritisi diri seberapa baik dan benar orientasi hidup sebagai sosok mukmin dan muslim yang sejati yang menyadari akan kelemahan dan kekurangannya.
Keimanan yang benar dan kokoh harus dibuktikan dengan keislamannya yang kāffah melalui amal saleh yang nyata. Identifikasi akan potensi, kelebihan, kekuatan hingga kelemahan dan kekurangan melalui pengingat: “Barangsiapa menghitung-hitung amaliah dirinya sebelum dihisab, akan diringankan hisabnya di hari kiamat ... ”.
Berbenah dengan bijak melalui cara pandang yang segar dan penuh semangat untuk menjalani kehidupan dengan memandang dan memahami dunia melalui peran diri dalam analogi sederhana yang menyadarkan, tentang supir atau pengemudi dan penumpang mobil kehidupan. Seseorang dalam perannya sebagai supir (pengemudi), dia dapat mengukur kecepatan mobil dengan kondisi tubuhnya serta mental dan emosional, dengan beban kerjanya yang banyak memerlukan konsentrasi dengan mencurahkan jiwa dan raga agar tenang, nyaman dan kendaraan terkendali dari titik awal hingga sampai tujuan akhir dengan selamat.
Namun di sisi lain, ada peran lain yakni penumpang yang duduk penuh santai, dapat berbincang, bercanda, makan dan minum, ia hanya menikmati perjalanan, sedang sang sopir selalu fokus meniti jalan menuju tujuan dengan berupaya mengontol dan menyeimbangkan kemampuan diri dengan kualitas kendaraan serta kondisi jalan dan perjalanan yang ditempuhnya.
Sedang penumpang hanya duduk manis tanpa upaya hingga terperdaya, berapa banyak penumpang mengalami pusing, mabuk perjalanan dan bahkan muntah-muntah hingga pingsan tak sadarkan diri.
Jadilah sosok sopir dengan penuh kontrol dan kesadaran yang menghantarkan perjalanan panjang ini menuju keselamatan. Jangan tertipu dengan cassing dan cover yang indah akan tetapi memuat isi yang buruk, terlihat menawan tapi tak semenarik perangainya. Hidup setelah kematian hanyalah membawa buku catatan amal yang akan dibaca oleh khalayak umum.
Perbaiki tulisan di dalamnya, ingat suatu saat akan disodorkan “iqra' kitābaka” (bacalah kitab catatan amalmu sendiri), sebagaimana Allah subhanahu wata'ala berfirman: “Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu pada hari ini sebagai penghitung atas (amal) dirimu” (QS. al-Isrā'/17 :14).
(RST/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.