Oleh : Saparwadi Nuruddin Zain
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Manusia yang diciptakan Allah subhanahu wata'ala menjadi khalifah di bumi, dibekali oleh-Nya dengan ilmu pengetahuan. Sejatinya, ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari Sang Penciptanya. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!”
(QS. Al-Baqarah [2]:31)
Nabiyullah Adam ‘alaihissalam, yang merupakan manusia pertama diciptakan, diajarkan ilmu pengetahuan oleh-Nya, yang kemudian mengajarkan kembali ilmu pengetahuan yang diterimanya dari Allah subhanahu wata'ala kepada anak keturunannya, yang selanjutnya diajarkan kepada manusia. Dari pengetahuan dasar tersebut, berkembang menjadi berbagai ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan tersebut, bahkan tidak diajarkan kepada para Malaikat, terbukti ketika Malaikat ditanya tentang nama-nama sesuatu, mereka berkata:
قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]:32)
Jawaban yang dikatakan oleh Malaikat tersebut, secara langsung dan tidak langsung menjadi pelajaran kepada manusia, bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki, merupakan anugerah pemberian dari Allah subhanahu wata'ala, tidak ada pengetahuan yang kita miliki kecuali apa yang diajarkan dan bersumber dari Allah subhanahu wata'ala.
Ilmu yang diajarkan dan dianugerahkan Allah subhanahu wata'ala kepada manusia hanya sedikit dibandingkan dengan ilmu dan hakikat Allah subhanahu wata'ala. “… Dan kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit saja” (QS. al-Israa’/17: 85).
Oleh karenanya tidak layak seorang manusia menyombongkan diri dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Syeikh Tuanguru Zainuddin Abdul Madjid Al-Anfenany mengibaratkan ilmu itu seperti “air”. Kemudian tempat penampungan air (ilmu pengetahuan) tersebut adalah hati manusia. Hati sangatlah luas, dapat menampung air sebanyak samudera, bahkan lebih luas.
Air (ilmu pengetahuan) tersebut dianugerahkan, diberikan kepada manusia, ada yang dengan perantaraan malaikat berupa wahyu kepada para Nabi dan Rasul yang dipilih Allah subhanahu wata'ala, ada juga yang berupa “ilham” kepada manusia, seperti halnya pada makhluk lain, sebagaimana “lebah” diilhamkan Allah subhanahu wata'ala untuk membuat sarangnya.
“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, buatlah sarang di gununggunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia” (QS. an-Nahl/16: 68).
Air (ilmu pengetahuan) yang dianugerahkan Allah subhanahu wata'ala kepada para Nabi dan Rasul, disampaikan kepada manusia lainnya, ada yang secara langsung, ada yang melalui perantaraperantara.
Perantara-perantara inilah menjadi “pipa-pipa” (sanad) untuk mengalirkan “air” ilmu pengetahuan kepada “telaga” hati manusia-manusia lainnya, yang tidak bertemu langsung dengan para utusan Allah subhanahu wata'ala.
Syeikh Zainuddin Abdul Madjid mengatakan, jika bagus sambungan-sambungan “pipa-pipa” ilmu pengetahuannya, maka bagus pula kualitas “air” (ilmu pengetahuan) yang diterima, dan ditampung di telaga hati manusia. Namun kadang kualitas “sambungan” pipa tersebut kurang bagus, atau cara penyambungan pipanya kurang bagus, atau sambungannya ada yang rusak atau dirusak sesuatu, maka “air” ilmu pengetahuannya tidak murni lagi, bercampur dengan berbagai macam “kotoran”, mungkin bisa jadi karena sambungan yang kurang bagus, sehingga masuk kotoran manusia atau kotoran binatang.
Ketika masuk ke dalam telaga hati manusia, maka kotorlah telaganya, bila tidak dibersihkan, akan berkerak, dan sulit dibersihkan. Marilah kita selalu membersihkan “telaga” hati kita, kemudian kita jaga kebersihannya dengan cara menjaga baik saluransaluran, pipa-pipa “air” ilmu pengetahuan, mencari dan menjaga “sambungan” pipa-pipa air ilmu pengetahuan.
“Pandai-pandailah mencari guru tempat ngaji”, carilah “sambungan-sambungan” pipa air ilmu pengetahuan yang berkualitas, yang sambungan pipanya bersambung sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melalui para ahli-ahli penyambungan pipa.
Walaupun kecil pipa airnya, namun karena pipa dan sambungannya berkualitas, maka murnilah, baguslah kualitas “air” ilmu pengetahuan yang masuk ke dalam telaga hati kita, apalagi jika pipanya besar, sambungannya bagus, dikerjakan pula penyambungannya oleh ahlinya. Wallaahu a’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.