Oleh : Dr. Abdul Rosyid Teguhdin, M.Pd
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Pada hari Minggu, tanggal 10 November 2024 bangsa Indonesia akan memperingati hari pahlawan Nasional, sebenarnya peringatan hari pahlawan itu jatuh setiap hari Senin dalam rangkaian upacara yang dilaksanakan seluruh sekolah dari tingkat SD/MI sampai SMA,SMK/MA, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan mengheningkan cipta, pembina upacara mengucapkan “Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah mendahului kita, mari kita mengheningkan cipta, mengheningkan cipta mulai”. Marilah kita renungkan bait-bait lagu dari Mengheningkan cipta dibawah ini;
Dengan seluruh angkasa raya memuji, Pahlawan negara Nan gugur remaja diribaan bendera, Bela nusa bangsa Kau kukenang wahai bunga putra bangsa, Harga jasa, Kau Cahya pelita, Bagi Indonesia, Merdeka.
Semua hafal bait lagu tersebut, karena menjadi rutinitas yang selalu kita ikuti bahkan menjadi lagu wajib setiap upacara pada hari Senin. Dalam bait lagu tersebut, ada beberapa point yang menjadi renungan begitu pentingnya nilai-nilai kepahlawanan;
Pertama, pahlawan negara. Seorang yang berbuat kebaikan maka ia akan mendapat ganjaran/balasan pahala dari Allah SWT, maka ketika orang tersebut menjadi pahlawan negara sebenarnya ia sedang berbuat baik untuk negaranya maka yang merasakan kebaikan tersebut adalah bangsa yang ada dalam negara. Rasulullah SAW bersabda “ Khairunnisa anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya (HR. Ahmad) Maka jadilah pahlawan yang berjuang untuk negaranya bukan untuk kepentingannya belaka.
Kedua, bendera. Lambang ini menjadi simbol kemerdekaan sebuah negara. Ketika memasang bendara pasti diletakkan di tempat yang tinggi menandakan bahwa bendara merupakan sumber persatuan bangsa, ketika bendera dikibarkan maka ada kebanggaan yang dirasakan seperti ketika Rizki Juniansyah dan Veddriq Leonardo memenangkan lomba pada perhelatan olah raga dunia Olimpiade Paris 2024.
Ketiga, bela nusa bangsa. Kewajiban setiap warna negara untuk melindungi dan menjaga nusa bangsa. Setiap warga negara memiliki identitas seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk) di bagian belakang tertulis Kartu Tanda Penduduk Republik Indonesia dan ada lambang Pancasila. Kemana-mana pergi identitas tersebut selalu dibawa. Maka jangan pernah benci kepada nusa bangsa karena identitas kita adalah warga negara Indonesia, dimanapun berada selalu membela nusa dan bangsa dengan kemampuan yang kita miliki.
Keempat, putra bangsa. Dimana kita berada, di dalam maupun di luar negeri. Negara Indonesia tetap kucinta seperti syair lagu “Tanah air ku tidak kulupakan kan terkenang selama hidupku”. Dan juga dalam bait sumpah pemuda, kami putra putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia. Sebagai putra bangsa jangan kau lupakan bunda pertiwi. Sebagaimana konsep “Hubbul wathon Minal Iman” Cinta Tanah Air sebagian dari Iman, digunakan oleh para ulama untuk memupuk jiwa nasionalisme dan patriotisme putra bangsa.
Kelima, harga jasa cahya pelita. Pengorbanan para pahlawan untuk kemerdekaan bangsa, mereka berjuang tidak mencari harta dan kedudukan. Mereka berjuang untuk harga dan jasa yang menjadi cahaya pelita bagi negara dan sebagai tanda ketaatan terhadap ajaran agamanya;
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). (QS. Al-Bayyinah : 5).
Wallahu ‘alam bi murodi.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.