Oleh : Dr. Budi Utomo, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Faktanya, semua manusia adalah keturunan Nabi Adam. Semulia apapun jalur keturunan, tetap yang Allah nilai adalah ketakwaan. Nasab biologis tidak menjadikan seseorang memiliki idiologi yang sama secara otomatis. Anak biologis, kadang ketika tidak menggambarkan kemuliaan dan kemuliaan yang dimiliki oleh bapaknya, menjadi kekecewaan bagi sang bapak dan menjadikan sebab penolakan dari masyarakat luas ketika anak itu dihubungkan dengan kemuliaannya. Anak ideologis, meskipun secara biologis tidak merupakan darah daging sang bapak, melahirkan legitimasi bapak dihadapan orang banyak, sehingga menyatakan, " Ini anak saya."
Sebuah hikmah menyatakan:
كُن اِبْنَ مَنْ شِئتَ وَاكْتَسِبْ أَدَباً . يُغنيكَ مَحْمُو دُهُ عَنِ النَسَبِ فَلَيسَ يُغني الحيبُ نِسبَتَهُ . بِلا لِسَا نٍ لَهُ وَلاَ أَدَبِ إنَّ الفَتى مَن يُقو لُ ها أنا ذا . لَيسَ افَقى مَن يُقو لُ كَانَ أَبي (علي بن أبي طا لب)
Silahkan menjadi putra biologis siapa pun. Namun perjuangkan budi pekerti, maka para pemuja nasab tidak akan menuntut nasabmu. Para ahli hasab tidak mencukupkan nasab saja tanpa disertai tutur kata dan budi pekerti. Pemuda sejati adalah yang lantang menyatakan, “Inilah aku,” Bukanlah pemuda yang berkata, “Dulu Bapakku adalah ... ”(Ali bin Abi Thalib).
Umumnya dalam memandang kedudukan di masyarakat digunakan dua pendekatan besar, pendakatan melalui nasab dan pendekatan mengenai hasab. Nasab adalah relasi yang dikaitkan langsung dengan hubungan darah dengan leluhur asal, dari jalur ayah maupun ibu. Sedangkan hasab adalah sesuatu yang dikaitkan dengan sifat-sifat terpuji seperti kemuliaan, keilmuan, keberanian dan ketakwaannya.
Rakyat biasa dari kalangan paling bawah dalam strata sosial di masyarakat, yang lisan dan adabnya sangat mulia, bisa mendadak naik kasta, dan diperlakukan masyarakat sebagaimana golongan ningrat. Sebaliknya, para pembesar, dan petinggi masyarakat, yang tidak mampu menjaga lisan dan memiliki adab yang rendah, bisa tiba-tiba turun kasta dan mendadak menjadi masyarakat kelas biasa. Akhlak seseorang kadang juga dapat berdampak pada keadaan ekonominya. Namun, pada hakekatnya, manusia yang berakhlak kepada Rabbnya dia adalah Abdul Ghaniy, sebenar-benarnya hamba dari Yang Maha Kaya, sehingga menjadi kaya di dunia walau tanpa harta benda. Dan manusia serakah, dia adalah orang yang selalu kekurangan dan tak akan pernah bisa bersyukur walau memiliki segalanya. Sebaliknya, kepemilikan harta dan kekuasaan seringkali menjadi alat ukur yang efektif untuk melihat kualitas diri seseorang. Perubahan keadaan ekonomi dan status sosial seseorang berpotensi untuk merubah adab dan akhlak seseorang.
Sebuah hikmah menyebutkan.
شَيْئاَ نِ يُحَدِّ دَا نِ مَنْ أَنْتَ : صَبْرُ كَ عِنْدَ مَا لاَ تَمْلِكُ شَيْئاً وَأَ خْلاَ قُكَ عِنْدَ مَا تَمْلِكُ كُلَّ شَيْءٍ
“Dua keadaan yang dapat mendefinisikan siapa kamu, kesabaranmu ketika tak memiliki apapun dan attitudemu ketika memiliki segalanya”.
Terkait dengan perbuatan-perbuatan yang dianggap sebagai ekspresi dari keburukan budi pekerti yang kita lihat di hadapan mata kita, mari berhati-hati dengan sikap kita sendiri. Kadang reaksi kita atas sesuatu yang kita anggap salah atau jahat malah menggelencirkan kita kepada kesalahan yang lebih besar dan sampai menjadi pesakitan.
Dalam pribahasa disebutkan, "Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri." Makna asli pribahasa ini adalah:
1. Apabila seseorang berbuat sesuatu yang jahat, akibat buruk dari perkara itu akan kembali kepada dirinya sendiri.
2. Berbuat buruk sama dengan melakukan sesuatu yang memalukan nama baik sendiri.
Namun seseorang terkadang tergelincir kepada keburukan yang lebih besar dari kesalahan orang lain yang dikritisi dan dikriminalisasi olehnya, sadar ataupun tidak.
Sebuah potongan qasidah, yang diketahui bersumber dari Abu Al-Aswad Al-Du’aliy: “Tak usah melarang seseorang dari akhlak (yang buruk), sedang kamu malah melakukannya. (Hal ini) memalukan dirimu sendiri, jika berbuat demikian, kamu benar-benar keterlaluan”.
Bait ini bersesuaian dengan petunjuk Allah dalam Al-Qur'an: “Mengapa kalian mengajak manusia untuk berbuat kebajikan sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, apakah kalian tidak berpikir?” (QS. Al-Baqarah/2 : 44)
Sebuah hadis yang juga terdapat dalam Bulugh al-Maram menyebutkan: Dari Mu'adz ibn Jabal radhiallahu anhu berkata, Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali melakukan dosa tersebut” (HR. Tirmidzi).
Ingatlah, segala sesuatu yang kita saksikan, berupa kebaikan atau keburukan, semua adalah ujian. Dalam banyak hal, diam lebih baik dari pada membinasakan pahala kebajikan. Masih di Bulugh al-Maram, terdapat dalam riwayat al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman, dari Anas bin Malik bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Diam itu bijaksana, namun sedikit sekali pelakukannya?”.
Hikmah di atas sudah sangat akrab di telinga kita, dan mungkin sudah sangat melekat dalam ingatan. Waktunya untuk diimplementasikan. Waktunya untuk melatih diri menjadi bijak bestari. (CTR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.