Foto: Dok. Media Istiqlal

Hawamisy Istiqlal: Waspada Topeng Kemunafikan dalam Diri

02 Sep 2026

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 10–16

Oleh: KH. Warso Winata, Lc., MA

Al-Qur'anul Karim merupakan petunjuk utama bagi umat manusia dalam mengarungi kehidupan. Di awal surah Al-Baqarah, Allah SWT tidak hanya memaparkan karakter orang-orang yang beriman dan kafir, tetapi juga menjelaskan secara terperinci serta panjang lebar mengenai sifat dan karakteristik orang-orang munafik.

 Dalam kajian Hawamisy di Masjid Istiqlal, KH. Warso Winata, Lc., MA (pengasuh Pondok Pesantren Darurahmah Cirebon) membedah kelanjutan tafsir surah Al-Baqarah ayat 10 hingga 16. Beliau menekankan bahwa penjabaran karakter munafik dalam Al-Qur'an disampaikan bukan untuk menilai atau menghakimi orang lain, melainkan sebagai media penafsiran dan evaluasi terhadap diri sendiri.

 Penyakit Hati sebagai Akar Kemunafikan

Mengapa seseorang dapat menampilkan sikap bermuka dua, di mana perkataan dan perbuatannya di depan umum berbeda dengan apa yang ada di belakang? KH. Warso Winata menjelaskan bahwa pangkal dari masalah tersebut adalah keberadaan penyakit di dalam hati (maradh).

Dalam bahasa Arab, terdapat perbedaan istilah untuk penyakit. Kata daa' digunakan untuk merujuk pada penyakit fisik (zahir), sedangkan kata maradh digunakan oleh Allah SWT untuk menggambarkan penyakit batin atau hati. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 10:

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ۠ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

"Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta." (QS. Al-Baqarah: 10)

Penyakit hati tersebut mencakup rasa iri, dengki, kesombongan, penolakan terhadap kebenaran, serta enggan menerima nasihat. Apabila penyakit batin ini terus dibiarkan tanpa ada usaha untuk menyembuhkannya, Allah SWT akan menambah penyakit tersebut hingga membuat perbuatannya kian menyimpang.

 Merasa Memperbaiki Padahal Merusak

Salah satu dampak nyata dari penyakit hati yang dipelihara adalah hilangnya rasa kepekaan moral. Ketika ditegur atas tindakan destruktif atau keburukan yang dilakukan, orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit kemunafikan justru merasa sedang melakukan kebaikan dan perbaikan.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 11:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi,' mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.'" (QS. Al-Baqarah: 11)

KH. Warso Winata mencontohkan fenomena ini dalam konteks kehidupan modern, seperti seseorang yang menyebarkan kebohongan atau mengumbar aib sesama dengan dalih demi kebaikan organisasi, ataupun pengrusakan alam atas nama kesejahteraan, padahal pada hakikatnya tindakan tersebut merusak tatanan sosial dan alam.

 Memandang Rendah Orang Lain dan Keimanan

Sifat berikutnya dari orang yang terjangkit penyakit kemunafikan adalah keengganan untuk menerima kebenaran atau nasihat apabila disampaikan oleh orang-orang yang status sosial, ekonomi, atau pendidikannya dianggap lebih rendah.

Allah SWT menggambarkan respons mereka dalam surah Al-Baqarah ayat 13:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا كَمَآ اٰمَنَ النَّاسُ قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ كَمَآ اٰمَنَ السُّفَهَاۤءُۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاۤءُ وَلٰكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman,' mereka menjawab, 'Apakah kami harus beriman sebagaimana orang-orang yang picik (bodoh) itu beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang picik, tetapi mereka tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 13)

Sifat ini tercermin ketika seseorang merasa lebih mulia karena harta, jabatan, gelar akademik, atau bahkan merasa paling suci karena tingkatan ibadahnya, sehingga menolak nasihat kebaikan dari sesama dan memandang rendah orang lain.

 Bermuka Dua dan Memilih Kesesatan

Karakteristik utama kemunafikan yang paling kentara adalah sikap bermuka dua. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa ketika mereka bertemu dengan orang-orang beriman, mereka mengaku beriman. Namun, ketika kembali kepada kelompoknya, mereka mengaku hanya berpura-pura dan mengolok-olok.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 14:

وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْۙ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ

"Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, 'Kami telah beriman.' Tetapi apabila mereka menyendiri dengan setan-setan (pemimpin-pemimpin) mereka, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami bersamamu, kami hanya berolok-olok.'" (QS. Al-Baqarah: 14)

Sikap tersebut berujung pada kerugian yang amat besar di mana mereka menukar petunjuk (huda) dengan kesesatan (dhalalah), sebagaimana diabadikan dalam firman-Nya:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الضَّلٰلَةَ بِالْهُدٰىۖ فَمَا رَبِحَتْ تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ

"Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perdagangan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 16)

 

Melalui paparan kajian ini, KH. Warso Winata mengimbau seluruh jemaah untuk senantiasa meneliti dan membersihkan hati dari segala bentuk penyakit batin. Sebelum mempelajari dan mengamalkan hukum-hukum ibadah yang lebih jauh, pembersihan jiwa dari sifat kemunafikan harus diutamakan agar ibadah dan amalan yang dikerjakan tidak bernilai kesia-siaan di hadapan Allah SWT. Semoga kita tidak tergolong ke dalam orang-orang yang hatinya dikunci dari petunjuk-Nya.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.