Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani
Oleh: KH. Moch. Taufiqurrahman, M.A.
Menjalankan aktivitas ibadah harian merupakan wujud keimanan setiap muslim. Namun, di antara sekian banyak perilaku dan amalan kebaikan, terdapat perkara-perkara yang secara manusiawi terasa sangat berat untuk dilaksanakan.
Dalam kajian rutin di Masjid Istiqlal yang membedah kitab Nashaihul Ibad karangan Syekh Nawawi Al-Bantani, KH. Moch. Taufiqurrahman, M.A. memaparkan petuah hikmah (maqalah) keempat dari sahabat Nabi, Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A., mengenai empat amalan yang paling berat dilakukan oleh manusia biasa:
Naskah Maqalah Sayyidina Ali R.A.:
"أَصْعَبُ الْأَعْمَالِ أَرْبَعُ خِصَالٍ"
“Amalan yang paling berat itu ada empat perkara.”
1. Menjaga Kesucian Diri Saat Sendirian (Al-'Iffah fil Khalwah)
Menjaga kesucian akhlak ('iffah) saat berada di tengah keramaian jauh lebih mudah karena adanya pengawasan sosial (pujian atau penilaian orang lain). Ujian keimanan yang sesungguhnya adalah saat berada dalam kesendirian (khalwah), di mana tidak ada manusia lain yang melihat.
Apalagi pada era digital saat ini, tontonan dan informasi dapat diakses dengan mudah di dalam kamar melalui gawai. Seorang mukmin sejati akan menghidupkan sifat muraqabah (merasa senantiasa diawasi oleh Allah SWT dan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid).
2. Memaafkan Saat Marah Memuncak (Al-'Afwu 'Indal Ghadhab)
Mengendalikan diri ketika emosi atau amarah sedang meluap merupakan hal yang sangat sulit karena emosi sering kali membiaskan akal sehat. Kendati demikian, kemampuan menahan amarah dan memberikan maaf adalah salah satu indikator utama dari sifat takwa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali 'Imran: 134)
Dalam Al-Qur'an, perintah yang ditekankan adalah memaafkan (wal 'afina 'anin-nas), bukan sekadar meminta maaf. Memaafkan orang lain saat diri sendiri sedang menguasai amarah adalah derajat akhlak yang sangat tinggi.
3. Bersikap Dermawan di Saat Sulit (Al-Judu fil 'Usrah)
Menjadi sosok yang dermawan ketika memiliki kelapangan harta adalah hal yang lumrah. Namun, tetap berbagi ketika kondisi ekonomi sendiri sedang sempit (usrah) membutuhkan tingkat keimanan yang sangat tebal. Mengenai sifat kedermawanan, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang sahih:
Dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ"
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2588)
Orang yang berorientasi pada kehidupan akhirat memahami bahwa kedermawanan di saat sulit dapat menolak bala, menyembuhkan penyakit, serta membuka pintu rezeki yang tak terduga.
4. Menyampaikan Kebenaran kepada Orang yang Ditakuti atau Diharapkan (Qaulul Haqqi Li Man Yakhāfu aw Yarjū)
Hal berat keempat adalah berani menyampaikan kebenaran (qaulul haq) secara jujur kepada pihak yang disegani, ditakuti, atau yang diharapkan bantuannya (seperti pejabat, atasan, atau pemuka masyarakat).
Islam mengajarkan agar nasihat atau pesan kebenaran (watawashau bil-haqqi) disampaikan dengan tata cara yang penuh kasih sayang (marhamah):
- Secara Empat Mata (Private): Menyampaikan teguran di depan umum sama saja dengan membuka aib.
- Bahasa yang Santun: Menggunakan kalimat yang membangun, memotivasi, dan tidak menghakimi (justifikasi).
Bagi seorang mukmin yang memiliki visi kehidupan abadi di akhirat, keempat amalan berat di atas bukanlah hal yang mustahil untuk dilaksanakan. Dengan senantiasa memohon kemudahan dari Allah SWT, amalan-amalan ini dapat membentuk kepribadian yang tangguh, membawa ketenangan jiwa, serta mendatangkan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.