Foto: Dok. Media Istiqlal

Hawamisy Istiqlal: Menelusuri Karakter Munafik Lewat Perumpamaan Obor dan Hujan Badai

28 Sep 2026

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 17–21

Oleh: KH. Warso Winata, Lc., M.A.


Pada bagian awal surah Al-Baqarah, Allah SWT mengelompokkan manusia ke dalam tiga golongan saat menerima petunjuk Ilahi: orang bertakwa (muttaqin), orang kafir (kafirun), dan orang munafik (munafiqun). Pembahasan mengenai sifat kemunafikan dijelaskan cukup panjang untuk menjadi sarana introspeksi diri bagi umat Islam.

Dalam kajian Hawamisy di Masjid Istiqlal, KH. Warso Winata, Lc., M.A. mengupas dua perumpamaan (tamtsil) utama dalam Al-Qur'an tentang watak orang munafik agar setiap muslim terhindar dari penyakit hati tersebut.

1. Perumpamaan Orang yang Menyalakan Api (Obor)

Allah SWT memberikan gambaran pertama mengenai orang munafik pada surah Al-Baqarah ayat 17–18:

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَّا يُبْصِرُونَ ۝ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menerangi) mereka, dan meninggalkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 17–18)

Berbeda dengan orang kafir yang menolak kebenaran secara total, orang munafik sebenarnya sempat menerima kebenaran dan merasakan 'penerangan' hidayah. Namun, alih-alih konsisten berjalan di bawah naungan syariat, mereka justru berpaling menuju kenikmatan semu dan mengabaikan hukum Allah. Akibatnya, Allah SWT membiarkan batin mereka berada dalam kegelapan sehingga indra spiritualnya tidak lagi berfungsi untuk menangkap kebenaran.

Batasan Syariat sebagai Penyelamat Manusia

Syariat Islam sering kali terasa berat bagi sebagian orang karena memuat pelarangan dan aturan yang ketat. Mengenai kondisi ini, Rasulullah ﷺ menggambarkan hakikat kehidupan dunia bagi orang beriman:

Dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah ﷺ bersabda:

"الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ"

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)

Aturan dan batasan dalam agama sejatinya berfungsi seperti tata tertib lalu lintas yang menjaga keselamatan pengguna jalan. Larangan berzina, penipuan, hingga konsumsi barang haram dipatok bukan untuk mengekang, melainkan untuk melindungi kebaikan hamba di dunia dan akhirat.

2. Perumpamaan Hujan Lebat di Malam Gelap

Perumpamaan kedua dijelaskan pada surah Al-Baqarah ayat 19–20:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guntur, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan jari-jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan kematian. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 19)

Hujan adalah simbol anugerah dan Hidayah Al-Qur'an. Namun, orang munafik hanya melihat petir dan kilatnya yakni ancaman, sanksi, dan kewajiban tegas yang ada dalam Al-Qur'an. Karena enggan menjalankan kewajiban dan menolak nasihat perbaikan, mereka memilih "menutup telinga" dan bersikap arogan (bebal).

Kasih Sayang dan Kesempatan Taubat dari Allah

Meskipun perilaku kemunafikan sangat buruk, Allah SWT tidak langsung membinasakan mereka seketika. Penundaan azab tersebut adalah bentuk rahmat Allah yang memberi kesempatan bagi setiap hamba untuk sadar dan bertobat. Oleh sebab itu, Allah menyeru seluruh manusia melalui ayat ke-21:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

Di akhir pemaparannya, KH. Warso Winata menyampaikan pesan pengingat yang mendalam mengenai hakikat kehidupan dan perbandingan dunia-akhirat:

"Kadang-kadang kita berdarah-darah untuk mendapatkan kehidupan yang layak, tetapi lupa bagaimana cara mati yang layak. Kita mati-matian membangun rumah yang mewah di dunia, tetapi lupa mempersiapkan rumah kita di akhirat."

Mengkaji sifat munafik bukanlah bertujuan untuk menilai atau memvonis orang lain, melainkan sebagai cermin diri agar kita senantiasa memohon petunjuk (ihdinas-shiratal mustaqim) dan menjaga kebersihan hati dari kesombongan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk tetap istikamah di jalan bertakwa.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.