Oleh: H. Ahmad Mahrus Iskandar, B.Sc | Kitab Taisirul Khalaq karya Syekh Hafidz Hasan Al-Mas’udi
Dalam kehidupan bermasyarakat, interaksi antarmanusia bukan sekadar rutinitas tanpa makna. Di balik setiap pertemuan, terdapat aturan dan etika yang menentukan kualitas hubungan kita. Mengetahui pentingnya hal ini, H. Ahmad Mahrus Iskandar, B.Sc dalam kajian rutin di Masjid Istiqlal, membahas hakikat dan adab bersosial bersumber dari kitab klasik Taisirul Khalaq karya Syekh Hafidz Hasan Al-Mas’udi.
Dalam kajian ini kita diingingatkan bahwa ibadah tidak hanya bersifat fi'liyyah (gerakan fisik), tetapi juga harus ulumiyyah (berlandaskan ilmu). Salah satu ilmu yang paling dekat dengan keseharian kita adalah Adabul Muasyarah atau adab dalam bergaul.
1. Pesona Wajah dan Kelembutan Lisan
Langkah pertama dalam bersosialisasi dimulai dari apa yang tampak. Ustadz Mahrus menekankan pentingnya Thalaqatul Wajhi, yakni wajah yang berseri-seri dan lepas. Pandangan pertama seringkali menjadi penentu apakah orang lain merasa nyaman untuk melanjutkan komunikasi dengan kita atau tidak.
Selain itu, prinsip Linul Janib (lemah lembut) menjadi kunci. Lemah lembut bukan berarti tidak tegas, melainkan cara berbicara yang enak didengar dan mudah dipahami. Etika ini juga mencakup kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik. Jika kita ingin didengar, kita harus memiliki kerelaan untuk mendengarkan orang lain terlebih dahulu.
2. Rendah Hati: Filosofi Ilmu Padi
Sifat sombong adalah penghalang terbesar dalam hubungan sosial. Kajian ini mengingatkan kita pada peribahasa "ilmu padi"—semakin berisi, semakin menunduk. Seseorang yang benar-benar berilmu justru akan menunjukkan ketenangan (sakinah) dan ketawaduan.
Ada beberapa hal yang sering memicu kesombongan dalam pergaulan yang harus dihindari:
Menyombongkan Jabatan (Jahi): Berbangga diri atas pangkat yang dimiliki.
Menyombongkan Kekayaan (Ghina): Pamer harta yang secara alami justru akan menggugurkan rasa hormat orang lain secara tulus.
Bercanda Berlebihan: Rasulullah saw. pun sering bercanda, namun beliau melarang senda gurau yang menghina atau melampaui batas hingga mengeraskan hati.
3. Tiga Syarat "Besti" Sejati
Berdasarkan syair yang dibahas dalam kitab, Ustadz Mahrus menyebutkan bahwa seorang teman yang tidak memiliki tiga kriteria ini lebih baik ditinggalkan, karena tidak ada harganya dalam persahabatan sejati:
Memenuhi Janji dan Jujur: Tidak ada lagi istilah "OTW" (sedang di jalan) padahal baru mau mandi. Kejujuran adalah fondasi kepercayaan.
Dermawan: Memiliki jiwa sosial dan kemurahan hati untuk membantu sesama.
Menjaga Rahasia: Mampu menyimpan "aib" atau cerita pribadi temannya di dalam hati, bukan malah menyebarkannya dengan dalih "cerita ke satu orang saja" yang akhirnya diketahui seribu orang.
4. Tantangan Orang Tua di Era Digital
Sebuah catatan menarik dalam kajian ini ditujukan bagi para orang tua. Di era sekarang, banyak anak yang merasa lebih nyaman "curhat" atau mengadu kepada kecerdasan buatan (AI) daripada orang tuanya sendiri.
Hal ini terjadi jika orang tua gagal membangun adab pergaulan di dalam rumah. Ustadz Mahrus menyarankan agar orang tua bisa memosisikan diri sebagai teman agar anak tidak merasa terasing. Beliau menyebut ada tiga hal yang biasanya membuat anak murung: masalah dengan orang tua, masalah ekonomi, dan masalah pertemanan (bestie).
Mengamalkan adab pergaulan bukan hanya soal sopan santun, melainkan cara kita menjaga marwah diri dan menghormati sesama sebagai hamba Allah. Dengan meneladani adab yang diajarkan para ulama, pergaulan kita tidak hanya luas secara kuantitas, tetapi juga berkah secara kualitas.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.