Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam QS. Al-Mu'min (Ghafir) (40) ayat 60, Allah subhanahu wata'ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." (QS. Al-Mu'min (Ghafir)[40] ayat 60)
Dalam kajian zuhur membahas kitab Al-Azkarun Nawiyah, KH A. Dzulfatah Yasin, M.Ag, memaparkan doa-doa dan amalan yang dianjurkan dalam Islam dan dapat menjadi bekal spiritual kita, mari simak pembahasannya!
1. Berdoa Saat Memasuki Shaf Shalat Berjamaah
Syekh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, dalam kitab Al-Adzkâr al-Muntakhabah min Kalâmi Sayyid al-Abrâr (Surabaya: Kharisma, 1998), hal. 54, menyebutkan bahwa bagi makmum yang sedang meluruskan shaf, disunnahkan untuk membaca doa di bawah ini:
اللهم آتـِنِي أَفَضْلَ مَا تُـؤْتِي عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ Allâhumma âtinî afdlala mâ tu’tî ‘ibâdakash shâlihîn
Artinya: “Ya Allah, berilah padaku apa-apa yang Engkau berikan pada hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Doa yang dibaca laki-laki tersebut, dipaparkan KH Dzulfatah bahwa doa tersebut dipuji Rasulullah SAW, dan dianggap dapat membuat seseorang dicatat sebagai mati syahid di jalan Allah.
Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqash, dia berkata;
جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لَنَا ، فَقَالَ حِينَ انْتَهَى إِلَى الصَّفِّ : اللَّهُمَّ آتِنِي أَفْضَلَ مَا تُؤْتِي عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالَ : مَنِ الْمُتَكَلِّمُ ؟ قَالَ : أَنَا . قَالَ : إِذًا يُعْقَرُ جَوَادُكَ وَتُسْتَشْهَدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Ada seorang laki-laki dating dan Nabi Saw shalat mengimami kami. Ketika sampai di shaf, laki-laki tersebut berkata, ‘Allohumma atini afdhola ma tu’ti ‘ibadakas sholihin.’ Setelah Nabi Saw selesai shalat, beliau bertanya, ‘Siapa yang mengucapkan?’ Dia menjawab, ‘Saya.’ Nabi Saw berkata, ‘ Jika begitu, maka disembelih kudamu yang kencang larinya dan kamu tercatat sebagai orang yang mati syahid di jalan Allah.”
2. Amalan Hendak Mendirikan Salat
Mengenai amalan yang sangat dianjurkan sebelum mendirikan salat, KH Dzulfatah menyampaikan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Ummu Rafi' untuk membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan istigfar masing-masing 10 kali, ketika hendak shalat.
Hal tersebut tertera dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah, diterangkan bahwa Rasulullah SAW suatu ketika didatangi oleh Salma Ummu Rafi’, salah seorang mantan budak perempuan yang telah dimerdekakan oleh Nabi Muhammad.
Salma Ummu Rafi’ menanyakan perihal amalan yang dapat dipraktikkan sebelum sholat. Lalu, Rasulullah SAW kemudian menjawab sebagai berikut:
"Saat engkau hendak menunaikan shalat, bertasbihlah kepada Allah 10 kali, bertahlillah 10 kali, bertahmidlah 10 kali, bertakbirlah 10 kali, dan beristighfarlah 10 kali."
"Setelah engkau bertasbih, Allah mengatakan 'Ini untuk-Ku', setelah engkau bertahlil, Allah mengatakan 'Ini untuk-Ku', setelah engkau bertahmid, Allah mengatakan 'Ini untuk-Ku', setelah engkau bertakbir, Allah mengatakan 'Ini untuk-Ku', setelah engkau beristighfar, Allah mengatakan 'Aku telah mengampunimu'."
3. Doa Saat Iqamah Dikumandangkan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا
“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad)
Dalam riwayat yang lain disebutkan,
الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ
“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Tirmidzi)
Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz,
لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Abu Dawud)
Jika kita menunaikan shalat lima waktu dengan berjamaah, maka bedoalah, panjatkan doa apapun yang kita hajatkan kepada-Nya saat waktu tersebut, insyaAllah, yakin Allah akan mudahkan urusan dunia dan akhirat kita.
Intinya adalah, bagaimana kesungguhan kita berbakti dan taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, kita amalkan ilmu yang diketahui meskipun sedikit. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ḥasyr [59]:7,
مَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ
"Apa saja (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. (Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. Al-Ḥasyr [59]:7)
Ayat di atas mengandung prinsip-prinsip umum agama Islam, yaitu agar menaati Rasulullah dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya, karena menaati Rasulullah saw pada hakikatnya menaati Allah juga. Segala sesuatu yang disampaikan Rasulullah berasal dari Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ٣ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ ٤
Artinya: "Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (an Najm/53: 3-4)
Rasulullah saw menyampaikan segala sesuatu kepada manusia dengan tujuan untuk menjelaskan agama Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِۗ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ٤٤
Artinya: "(Mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Aż-Żikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan." (an-Naḥl/16: 44)
(FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.