Www. istiqlal.or.id - Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin mengenang sosok K.H. Abdul Wahab Chasbullah atau akrab disapa Mbah Wahab, sebagai salah satu figur ulama bangsa penggerak perubahan dan pencetus solusi kebangsaan, saat menghadiri acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-52 K.H. Abdul Wahab Chasbullah di Masjid Istiqlal, Ahad (15/10).
“Saya melihat Mbah Wahab itu sebagai seorang yang faqihun, muharriqun, munafzimun, mutawarri’un, artinya beliau itu seorang faqih, seseorang yang mengerti hukum Islam, bukan hanya masalah-masalah ibadah, tetapi juga menyelesaikan persoalan bangsa dan negara,” ungkap Wapres, dalam sambutannya di Masjid Istiqlal, Ahad (15/10).
Salah satu ulama pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama ini dikenal sebagai tokoh yang mumpuni dalam pengembangan ajaran Islam di tanah air dan juga seorang pejuang kemerdekaan yang gigih dalam membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan.

Hal tersebut salah satunya dibuktikan saat terjadi kemelut di era awal kemerdekaan, di mana saat itu Bung Karno dipersoalkan keabsahannya sebagai Presiden oleh banyak pihak, karena tidak dipilih langsung oleh rakyat.
Tetapi Mbah Wahab dengan para ulama berdiri tegak dengan keyakinan bahwa Bung Karno adalah Presiden Republik Indonesia yang sah. "Kalau Presiden tidak sah, Menteri Agama tidak sah, kalau Menteri Agama tidak sah maka Kepala KUA tidak sah, kalau Kepala KUA tidak sah maka ketika menikahkan pasangan suami-istri tidak sah, yang berarti mereka akan melahirkan anak di luar nikah semua," terang KH Maruf Amin.
Oleh karena itu, Mbah Wahab dan para ulama sepakat bahwa Bung Karno harus sah sebagai presiden. Meskipun tidak dipilih langsung oleh rakyat, Bung Karno secara fiqih dianggap memiliki syarat untuk menjadi Presiden karena memegang kekuasaan dalam keadaan darurat. "Maka ditetapkanlah Bung Karno sebagai Presiden yang sah karena beliau adalah waliyul amri dhoruri bissyaukah (pemimpin dalam keadaan darurat)," tegas Wapres.

Hal tersebut, menurut KH Maruf Amin, yang mengokohkan Mbah Wahab sebagai pencetus solusi kebangsaan dan kenegaraan. Karena kedalaman ilmu fiqihnya, sehingga ia dapat mengubah dalil keagamaan menjadi solusi masalah kebangsaan. "Kalau beliau bukan ahli fiqih, tentu tidak bisa memutuskan hal itu," jelasnya.
Selain itu, Wapres menuturkan bahwa Mbah Wahab juga merupakan seorang penggerak. Hal itu dibuktikan ketika Mbah Wahab berani membuat forum diskusi yang bernama Taswirul Afkar. "Beliau itu ulama muda yang memiliki kreativitas tinggi sekali, sehingga melahirkan Nahdlatul Wathan, seseorang yang menggerakkan kebangkitan tanah air," ungkapnya.
Forum tersebut menjadi cikal bakal munculnya gerakan nasional yang mengandung prinsip "hubbul wathan minal iman" atau cinta tanah air adalah bagian dari iman. Kemudian prinsip tersebut juga diwujudkan dalam gubahan lagu Ya Lal Wathan.
"Di Taswirul Afkar itulah lahir gerakan, sehingga saya sampaikan Mbah Wahab adalah penggerak gerakan cinta tanah air (hubbul wathan)," ucapnya.

Bahkan hingga saat ini, menurut Wapres, hubbul wathan dalam hal ini menjaga tanah air telah menjadi bagian dari prinsip besar dalam menjalankan syariah (maqashid syariah). Karena dengan menjaga tanah air, secara otomatis maqashid syariah yang lain seperti menjaga agama, kehidupan, harta, keturunan, keamanan, dan lingkungan akan dapat diwujudkan.
Selain itu, diketahui bahwa Mbah Wahab juga termasuk penggerak bangkitnya para pengusaha (nahdlatul tujjar), terutama pengusaha yang bergerak sesuai prinsip syariah. "Beliau menggerakkan pengusaha-pengusaha, karena memang peran pengusaha itu penting. Negara tidak cukup mampu untuk melakukan pembangunan, maka harus ada peran pengusaha," tutur KH Maruf Amin.
Terakhir, KH Maruf Amin juga menjabarkan kiprah besar Mbah Wahab bersama K.H. Hasyim Asy’ari dalam menggerakkan para ulama melalui pendirian Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi revolusioner yang melakukan perbaikan- perbaikan dalam berbagai bidang. "Yang diperbaiki tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga kemasyarakatan termasuk ekonomi, pendidikan, budaya, termasuk politik," pungkasnya.
Acara ini turut diiringi penampilan 1000 hadroh dan dilakukan pembagian santunan terhadap 100 anak yatim.

Turut hadir dalam kegiatam ini Ibu Wapres RI Hj. Wury Ma’ruf Amin, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah, Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi, Imam Besar Masjid Istiqlal K.H. Nasaruddin Umar, MA, Habib Jindan Bin Novel, Ustadz Das’ad Latief, serta para Dzuriyah K.H. Abdul Wahab Chasbullah di antaranya K.H. Abdul Wahab Chasbullah, Machfudhoh Aly Ubaid, K.H. Hasib Abdul Wahab, K.H. Roqib Abdul Wahab, Ny. Hj. Munjiddah Abdul Wahab, Ny. Hj. Hizbiyyah Abdul Wahab, dan Gus Ubaidillah Sadewa. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.