Foto: Dok. Media Istiqlal

Dialog Zuhur Istiqlal: Percikan Air untuk Menuju Ketaatan Bersama Pasangan

Admin 09 Jan 2026 Warta Istiqlal

Oleh:  Ustadzah Hj. Sumayyah Ba'Abduh, Lc. MA


Ustadzah Hj. Sumayyah pada kajiannya menggarisbawahi pesan yang erat bahwa rumah tangga bukan sekedar hubungan legal, melainkan sebuah lembaga pendidikan kecil yang didirikan untuk saling membantu dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ ، فَصَلَّى وَأيْقَظَ امْرَأَتَهُ ، فَإنْ أبَتْ نَضَحَ في وَجْهِهَا المَاءَ ، رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ ، فَصَلَّتْ وَأيْقَظَتْ زَوْجَهَا ، فَإن أبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ )) رواه أَبُو داود بإسناد صحيح

Artinya: “Allah merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya.” (HR. Abu Daud)

Bahwasanya, percikan air tersebut tidak berarti tindakan kasar, melainkan simbol komitmen, kasih sayang, dan kelembutan. Percikan air tersebut menunjukkan pasangan suami istri yang tidak keberatan dan tidak marah demi melaksanakan qiyamullail sebagai komitmen bersama. 

Selain itu, dalam tolong menolong ketaatan, pasangan sangat mustahil bisa saling menasehati jika urusan duniawi masih penuh dengan pertengkaran. "Karakter tolong-menolong dalam urusan duniawi biasanya terbentuk lebih dahulu sebelum tolong-menolong dalam urusan ukhrawi," tegas Ustadzah Hj. Sumayyah

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا 

Artinya: “Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan penyabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar” (Q.S Al-Aḥzāb [33]:35)

Kesalehan dalam Islam, menurut beliau, tidak boleh bersifat individualis. Kesalehan yang sejati harus mampu mendorong orang terdekat untuk ikut mendekat kepada Allah. 

Ustadzah Hj. Sumayyah menjelaskan sosok Sayidah Khadijah radhiallahu anha sebagai prototipe istri pendukung. Sifat khawatirnya terhadap Nabi Muhammad SAW ketika berpulang dari gua hira dalam keadaan bergetar dan memberikan selimut kepada Rasulullah SAW. Khadijah memberikan dukungan, penghormatan, dan nasihat kepada Rasulullah SAW dengan mengatakan, 

كَلاَّ أَبْشِرْ فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمِ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

Artinya: “Sekali-kali tidak, bergembiralah! Demi Allah sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah.” (HR. Al-Bukhari I/4 no. 3 dan Muslim I/139 no. 160)

Kisah Rasulullah SAW menarik garis besar bahwa dukungan maknawi seorang istri adalah nikmat besar dari Allah SWT. Pada saat suami di titik rendah, gagal, atau menghadapi kesulitan, istri yang shalehah akan memberikan dukungan tanpa merendahkan, Begitu pula dengan suami yang harus mengakui kebaikan istri dan mengucapkan terima kasih sebagai bentuk timbal balik yang ma’ruf. “ Hendaknya para suami mengakui kebaikan-kebaikan istrinya, mengucapkan terima kasih, merawat fisik dan perasaan, dan mempergauli dengan cara yang baik,” tegas Ustadzah Hj. Sumayyah.

Ustadzah Hj. Sumayyah mengutip perkataan Rasulullah SAW bahwa setiap Muslim harus memiliki 3 aset berharga, yaitu lisanan dzakiron, wa qolban syakiron, wazawjan shalihan yuinunii 'ala amrii diini wa dunyaya.  Aset yang hendaknya dimiliki setiap mukmin adalah lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri yang shalihah dan beriman kepada Allah SWT yang menolong suaminya dalam perkara akhirat,” lanjutnya. 

Suami dan Istri seharusnya saling mendukung untuk mengoptimalkan kewajibannya. Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan laki-laki dan perempuan itu dengan perbedaan, lalu Allah SWT telah menetapkan tugas dan fungsi laki-laki dan perempuan itu berbeda sesuai dengan fitrah dan karakter. (TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.