Oleh Drs. KH. Dzulfattah Yasin, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id – Hendaklah diantara kalian terdapat sekelompok orang yang selalu mengajak kepada kebaikan. Rasulullah SAW memulai berdakwah di Mekkah hanya membahas mengenai perbaikan iman dan aqidah selama 13 tahun. Saat Rasulullah hijrah ke Yastrib atau kota Madinah barulah ada syariat perintah sholat, perintah puasa, dan lain–lain.
Apabila kita senantiasa mengajak orang–orang untuk berbuat kebaikan maka niscaya ini termasuk kedalam manziatun rofiah yang merupakan derajat yang tinggi dan termasuk kedalam pendekatan diri kepada Allah SWT yang agung. Amal ibadah dakwah ini sangat luarbiasa nilainya yang tentu saja diikuti dengan niat yang tulus dan ikhlas yang tujuannya hanya kepada Allah SWT semata. Jadi segala hal yang di dakwah kan kepada orang lain hendaklah diniatkan sebagai bentuk dalam beramal sholeh. Apabila kita memberikan contoh yang baik kepada sesama dan ditiru oleh orang yang melihatnya, maka pahala orang yang melihat kita akan sampai kepada kita tanpa dikurangi pahala orang yang mengerjakannya sedikitpun sampai hari kiamat. Begitupun sebaliknya, sesuatu perbuatan buruk atau perbuatan dosa karena melihat dan mencontohnya, maka dia juga akan mendapatkan dosanya hingga hari kiamat. Dan apabila ada seseoang menunjukan kebaikan kepada orang lain maka dia akan mendapatkan pahala dari kebaikan itu seperti apa yang dia tunjukan walaupun dia tidak melakukan kebaikan itu. Orang yang menjadikan kesibukannya sehari-hari dengan mengajak orang lain dalam berbuat baik maka dia telah mengambil keberuntungan yang sangat banyak dan sangat besar dari warisan Rasulullah sallahualaihi wassalam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Artinya : “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Yūsuf [12]:108).
Dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada Rasulnya, bahwasanya Rasulullah SAW diperintahkan untuk mengajak manusia untuk selalu meng–Esa kan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perintah ajakan ini jelas datangnya dari dalil dan petunjuk dari Allah SWT sebagai bentuk mukjizat Nabi Quranul Karim.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمِنَ الْاَحْزَابِ مَنْ يُّنْكِرُ بَعْضَهٗ ۗ قُلْ اِنَّمَآ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ وَلَآ اُشْرِكَ بِهٖ ۗاِلَيْهِ اَدْعُوْا وَاِلَيْهِ مَاٰبِ
Artinya : “Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepada mereka bergembira dengan apa (kitab) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara golongan-golongan itu (Yahudi dan Nasrani) ada yang mengingkari sebagiannya. Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (Ar-Ra‘d [13]:36)
Ini adalah misi dari Rasulullah SAW. Orang yang paling dekat kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam dan yang paling utama ketika masih hidup dan ketika di akhirat nanti adalah orang yang paling giat melakukan kegiatan dakwah, menyebarkan kebaikan, dan mengajak orang berbuat baik dan kesibukannya di dominasi oleh perbuatan baik maka dialah sempurna dan masuk kedalam kalangan orang–orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. (CTR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.