Kajian Zhuhur Pilihan: Dr. KH Bukhori Sail Attahiri, Lc., MA.
Kitab Maraqi al-Ubudiyah Syarah Bidayatul Hidayah, karya Syekh Nawawi al-Bantani | Tema: Adab Menjaga Lisan
Kajian ini kita membaca kitab syarah dari kitab syarah yang ditulis oleh Imam an-Nawawi, Maraqil Ubudiyah pada halaman 119. Musanif rahimahullahu ta’ala menyatakan:
وَأَمَّا اللِّسَانُ فَإِنَّمَا خُلِقَ لَكَ لِتُكْثِرَ بِهِ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى وَتِلَاوَةَ كِتَابِهِ.
"Adapun lidah, maka sesungguhnya ia diciptakan untukmu agar kamu memperbanyak zikir kepada Allah Ta'ala dan membaca kitab-Nya (Al-Qur'an)."
Lisan lidah atau mulut kita sebagai alat yang bisa tajam, lebih tajam daripada pedang, bisa melukai yang tidak bisa disembuhkan. Lisan diciptakan oleh Allah agar kita memperbanyak zikir pada Allah subhanahu wa ta’ala.
Bukan memperbanyak, menyakiti orang dengan mulut tetapi untuk zikir pada Allah Subhanahu wa ta’ala. Untuk membaca kitab-kitab Allah atau membacaAl- Qur`an, membaca hadis untuk belajar agama, memperdalam ilmu agama agar beribadah dengan benar.
..وَتُرْشِدَ بِهِ خَلْقَ اللهِ تَعَالَى إِلَى طَرِيقِهِ، وَتُظْهِرَ بِهِ مَا فِي ضَمِيرِكَ مِنْ حَاجَاتِ دِينِكَ وَدُنْيَاكَ، فَإِذَا اسْتَعْمَلْتَهُ فِي غَيْرِ مَا خُلِقَ لَهُ فَقَدْ كَفَرْتَ نِعْمَةَ اللهِ تَعَالَى فِيهِ.
"...dan agar kamu memberi petunjuk (membimbing) makhluk Allah Ta'ala menuju jalan-Nya, menampakkan (mengungkapkan) apa yang ada di dalam hatimu berupa kebutuhan-kebutuhan agama dan duniamu. Maka apabila kamu menggunakannya untuk tujuan selain dari apa ia diciptakan, sungguh kamu telah mengkufuri nikmat Allah Ta'ala pada lidah tersebut."
Kita mencari petunjuk melalui lisan. Belajar dan berzikir akan memberikan petunjuk kita ke surganya Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan menunjukkan kita kepada jalan yang diberikan oleh Allah melalui Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam juga para sahabatnya. Itulah bila lisan kita gunakan dengan benar sesuai petunjuk manual book-nya, sesuai dengan petunjuk penggunaannya ya.
Karena kita ini kan diciptakan oleh Allah. Setelah Allah Menciptakan manusia dan makhluk-Nya Memberikan petunjuk penggunaannya. Memperlihatkan apa yang ada dalam hati kita, dari kebutuhan-kebutuhan kita baik yang duniawi maupun ukhrawi.
Jika engkau itu untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kegunaannya maka engkau telah kufur nikmah. Karena lisan kita itu adalah nikmat, menggunakan lisan tidak sesuai dengan peruntukannya berarti kita mengkufuri nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala.
Pengarang menyetir satu bait syair dari Bahrul Kamil berwazan mutafa'ilun:
اِحْفَظْ لِسَانَكَ وَاسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهِ، إِنَّ اللِّسَانَ هُوَ الْأَلَدُّ)الْعَدُوُّ( الذَّابِحُ
"Jagalah lidahmu dan berlindunglah dari keburukannya, sesungguhnya lidah itu adalah musuh paling licik yang menyembelih (bisa menghancurkan pemiliknya)."
Diantara keburukan lisan: ghibah, mengadu domba orang, menyakiti orang lain Bahaya lisan seperti dari musuh yang bisa menyembelih kita. Lisan itu lebih tajam daripada pedang, maka lisan itu bisa membunuh.
Terkait lisan Nabi Daud shallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَرْبَعًا: لِسَانًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا شَاكِرًا، وَبَدَنًا صَابِرًا، وَزَوْجَةً تُعِينُنِي عَلَى أَمْرِ دُنْيَايَ وَآخِرَتِي
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu empat perkara: Lidah yang selalu berzikir, hati yang selalu bersyukur, tubuh yang tabah menghadapi ujian/musibah, dan pasangan (istri) yang membantuku dalam urusan agama dan akhiratku."
Lisan kita untuk berzikir pada Allah, menyebut asma Allah, memuji Allah, membaca Quran, mengaji hadis Nabi, membaca kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama agar kita mempunyai informasi-informasi mempunyai ilmu Islam yang benar.
Hatinya bersyukur dan badan yang sabar dan istri yang membantu membantu suami baik urusan dunia maupun akhirat. Kalau istri doanya, "Ya Allah, berikan kami suami yang dapat menuntun kami di dunia maupun akhirat." Karena istri peran penting istri Nabi Daud ‘alaihi as-salam sampai meminta kepada Allah, istri yang dapat membantunya untuk kesuksesan di dunia maupun di akhirat.
فَإِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ سَدًّا، وَمِنِ امْرَأَةٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ وَقْتِ الْمَشِيبِ، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَذَابًا لِي وَوَبَالًا عَلَيَّ، وَمِنْ جَارٍ إِنْ رَأَى مِنِّي حَسَنَةً كَتَمَهَا وَإِنْ رَأَى سَيِّئَةً أَفْشَاهَا.
"Dan aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara: , anak yang menjadi penghalang , serta pasangan yang membuatku beruban sebelum waktunya, harta yang mendatangkan azab dan malapetaka bagiku dan tetangga buruk yang jika melihat kebaikanku ia menyembunyikannya namun jika melihat keburukanku ia menyebarkannya.
Nabi Daud ‘alaihi as-salam memohon kepada Allah untuk dilindungi dari empat perkara. Yang pertama dijauhkan dari anak yang menjadi penghalang kebaikan bagi bapaknya. Maka kita mohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk diberikan anak-anak shalih dan shalihah.
Nabi Daud minta agar dilindungi dari istri yang membuat kepala beruban sebelum waktunya. Dan dari harta tidak berkah yang menyebabkan azab. Harta yang tidak berkah bisa jadi karena memperolehnya dengan cara tidak benar, banyak pun habis dan malah membawa azab dan membawa madarat kepada keluarga.
Terakhir, berlindung kepada Allah dari tetangga yang jika melihat kebaikan diam ada jika ada kebaikan tetangganya pura-pura tidak tahu. Yang baik adalah kalau ada kebaikan kita tunjukkan agar kebaikan itu kemudian menyebar dan ditiru orang. Kalau keburukann yang disampaikan akan menjadi sebab kebencian orang, maka jadi sebabhubungan tidak normal.
Ulama membagi ucapan manusia menjadi empat golongan:
1. Madharratan mahdhah, berbahaya murni, hal-hal yang hanya berisi kemudharatan.
2. Manfa'atan mahdhah, bermanfaat murni, seperti ilmu dan nasihat.
3. An yakuna fihi manfa'atun wa madharroh, mengandung manfaat dan mudharat sekaligus,
4. An la yakuna fihi manfa'atun wa la madharroh, tidak ada manfaat dan tidak membahayakan (sia-sia).
Diam menjadi wajib ditinggalkan untuk ghibah, dusta, fitnah dan sebagainya. Ketika mudharat dan manfaat bercampur, diam masih wajib karena keselamatan dalam menjaga diri dari mudharat jauh lebih utama daripada mengejar manfaat yang samar. Untuk kesia-siaan diam dianjurkan karena akan membuang-buang waktu yang berharga, meskipun tidak berdosa.
Untuk perkara-perkara seperti dakwah, belajar, dan nasihat maka bicara dipersilahkan.Tiga perempat dari seluruh jenis ucapan manusia menuntut kita untuk diam, dan hanya seperempatnya saja yang aman untuk diucapkan.
Diam seringkali lebih utama daripada berbicara yang tidak bermanfaat. Sebagaimana pepatah, "Diam itu emas" . Identitas seseorang di zaman sekarang, terutama di media sosial, sangat ditentukan oleh kualitas lisan dan tulisannya.
اِحْفَظْ لِسَانَكَ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ لَا يَلْدَغَنَّكَ إِنَّهُ ثُعْبَانُ
"Jagalah lisanmu wahai manusia, jangan sampai ia mematukmu karena sesungguhnya lisan itu bagaikan ular besar. Sebuah syair menyebutkan:
قَالُوا سُكُوتُكَ حِرْمَانٌ فَقُلْتُ لَهُمْ:
مَا قَدَّرَ اللهُ يَأْتِينِي بِلَا نَصَبِ
وَلَوْ يَكُونُ كَلَامِي حِينَ أَنْشُرُهُ
مِنَ اللُّجَيْنِ لَكَانَ الصُّمْتُ مِنْ ذَهَبِ
Mereka berkata, "Diammu itu adalah kerugian (menghalangi rezeki)." Maka aku jawab kepada mereka, "Apa yang telah Allah takdirkan untukku, pasti akan datang kepadaku tanpa harus bersusah payah."
Dan sekiranya ucapan yang aku sebarkan itu terbuat dari perak, niscaya diam itu terbuat dari emas.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.