Oleh : Dr. KH. Muchlis M. Hanafi, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dunia global sedang mengalami krisis kemanusiaan. Konflik dan peperangan terjadi di berbagai wilayah dunia mengakibatkan jutaan nyawa melayang. Manusia seakan tak ada harganya.
Sekadar contoh, agresi Israel terhadap waraga Palestina sejak 7 Oktober 2023 hingga hari ke-179 (30/4/2024) mengakibatkan 34.535 orang meninggal dunia, dan 77.704 orang luka-luka.
Berbagai kerusakan di darat, laut dan udara terjadi akibat manusia tidak mengindahkan etika dan moral. Perilaku ketidakadilan dan kezaliman merajalela di berbagai sektor kehidupan; ekonomi, politik, sosial, budaya dan lainnya.
Manusia modern semakin menjauh dari nilai-nilai profetik dan ketuhanan. Dalam mengatasi berbagai krisis kemanusiaan di atas, agama dan nilai-nilai spiritualitas perlu dihadirkan kembali.
Kendati berbeda dalam ajaran dan keyakinan, tetapi terdapat banyak titik kesamaan dalam agama-agama yang perlu dipertemukan. Salah satunya ajaran “sepuluh perintah Tuhan” yang terdapat dalam ajaran Yahudi, Kristen dan Islam. Hal serupa juga ditemukan dalam tradisi ajarama ajaran lainnya, seperti Budha dan lainnya.
Dalam tradisi agama-agama Ibrahim dan agama Buddha, dikenal ajaran “Sepuluh Perintah Tuhan”. Dalam Al-Qur'an dan Alkitab, sepuluh perintah tersebut mencerminkan aturan agama dan sosial yang sangat penting.
Jika seseorang mengikuti dan menjalankan perintah tersebut dalam hidupnya, ia akan bahagia dan membahagiakan orang lain, karena mengatur hubungan seseorang dengan Tuhannya, dirinya sendiri, alam semesta, dan manusia lainnya.
Sepuluh Perintah Allah adalah hukum yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel pada zaman dahulu. Hukum ini juga disebut “Sepuluh Kata,” yang merupakan terjemahan harfiah dari frasa Ibrani “aserith hadevarim”, yaitu lima kitab pertama dari kitab Suci (Keluaran 34:28; Ulangan 4:13; 10:4).
Padanannya dalam bahasa Yunani adalah frasa deka (sepuluh) logos (kata-kata). Dalam bahasa Ibrani Biblika, Sepuluh Perintah Allah disebut (ditransliterasikan aseret ha-d'varîm) dan dalam bahasa Ibrani Rabinik (ditransliterasikan asereth ha-dibrot), keduanya dapat diterjemahkan menjadi "kesepuluh kata", "kesepuluh firman" atau "kesepuluh hal".
Dalam Perjanjian Lama, Kitab Ulangan: 20, sepuluh perintah Allah tersebut diungkapkan antara lain sebagai berikut:
20:2"Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.
20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat ….. :
20:12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
20:13 Jangan membunuh.
20:14 Jangan berzinah.
20:15 Jangan mencuri.
20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
20:17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."
Dalam tradisi Yahudi-Kristen, Sepuluh Perintah Allah yang tertulis pada dua loh hukum tersebut diterima oleh Musa di Gunung Horeb. Perintah tersebut dianggap sebagai “ringkasan dari hukum dasar perilaku manusia. (bersambung)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.