Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1444 Hijriah, Masjid Istiqlal menggelar rangkaian kegiatan di Lantai Utama, di antaranya Simaan Al-Qur'an Al-Karim Bil Hifzhi yang dimulai sejak Sabtu, (30/7), Shalat Tasbih, Tahajjud dan Witir, Renungan Hijriyah oleh Imam Besar Masjid dan Talkshow dengan tema 'Lintas Generasi, Membangun dengan Cita-cita Luhur dan Karya', yang berlangsung pada Ahad (31/7), di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta.
"Hijriyah dikenal dengan qamariyah, karena yang dihitung bukan perputaran matahari, melainkan bulan. Jarak waktu miladiyah dan hijriyah yang dijadikan patokan kita adalah hijrahnya Rasulullah SAW ketika hijrah tahun 622 M," ujar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (31/7).
.png)
"Saya ingin mengingatkan kita semua untuk paham entitas identitas kita sebagai umat muslim untuk mengingat tahun hijriyah, Rasulullah SAW bangga dengan keunikan kita. Oleh karenanya Nabi selalu meminta diri dan agamanya memiliki keunikan sendiri. Misalnya saja, hari raya kita umat muslim adalah Jumat, (begitu juga) Rasulullah SAW meminta kiblat umat muslim diubah ke Ka'bah," jelas KH Nasaruddin.
KH Nasaruddin juga menerangkan bahwasanya Istiqlal juga akan merayakan akhir tahun Miladiyah dengan dzikir dan ibadah bersama di Lantai Utama Masjid Istiqlal. Hal tersebut dilakukan guna meminimalisir masyarakat datang ke tempat yang sia-sia. "Mari kita maknai hijrah ini dalam kualitas, negatif menjadi positif, itu hakikat hijrah," terangnya.
.png)
Setelah itu, Gebyar Tahun Baru Hijriah di Lantai Utama Masjid Istiqlal juga diisi dengan kegiatan Talkshow 'Lintas Generasi, Membangun dengan Cita-cita Luhur dan Karya', yang diisi oleh para narasumber, di antaranya Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Kabid Penyelenggara Peribadatan BPMI KH Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA, Kabid Diklat BPMI H. M. Faried F. Saenong, MA, Ph.D, Novelis Ahmad Fuadi, dan dimoderatori oleh Wakabid Penyelenggara Peribadatan BPMI KH. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc, MA.
Mengenai Cita-cita Luhur dan Karya, Ahmad Fuadi menjabarkan bahwasanya karya dapat menjadi wasilah kita untuk sampai pada tempat yang kita belum pernah bayangkan. Misalnya saja, Ahmad menerangkan, bahwa dengan buku, dia bisa menjelajahi 'karpet merah' dan 'karpet terbang'-nya. "Saya bisa diundang duduk di sini bersama Imam Besar dan para asatidz, dan diundang ke Amerika, (untuk menceritakan tulisannya), wasilahnya karena buku dan tulisan."
.png)
"Jadi tulisan bisa menerbangkan kita ke mana saja secara geografis, dan bisa menjadi amal jariyah kita ke depan. Dan menurut saya, awal hijriyah ini bisa kita jadikan catatan untuk membuat hal-hal baik, antara lain menulis kebaikan. (Menulis) dapat menjadi warisan, membuat kita melampaui zaman, karena tulisan akan lebih lama bertahan, dalam maknanya," jelas Ahmad.
"Mari kita naik level, kita terbiasa dengan membaca, maka setelahnya kita mulai untuk menulis," pesan Ahmad.
Sementara itu, Kabid Diklat BPMI Faried F. Saenong memaparkan bahwa peristiwa hijrah Rasulullah SAW dapat diteladani supaya dapat selalu mencintai tanah air kita. "Terdapat satu fragmen yang memberikan sinyal kuat bagi kita untuk cinta pada tanah air, negara, dan tempat kita dilahirkan. Bukan karena Mekkah sebagai tempat suci, tapi di sana merupakan tempat lahir Nabi SAW, di sana Nabi SAW meminum air buminya, di sana Nabi SAW memakan hasil buminya. Sehingga beliau SAW sangat cinta kepada Mekkah," paparnya.
.png)
"(Kecintaan Nabi SAW terhadap tanah airnya), dapat melindungi kita dari ideologi-ideologi radikal yang (misalnya) selalu ingin melakukan pemberontakan pada negara. Nabi SAW mengajarkan kita untuk cinta pada tanah airnya, dan karena itu juga, kita sebagai umatnya bisa meneladani beliau SAW dalam konteks ini," lanjut Faried.
Di samping itu, Faried menyebutkan, bahwasanya Nabi SAW juga mengajarkan kita untuk bisa bekerjasama bersama siapapun. "Dalam konteks bekerjasama dengan siapapun, dengan antarumat beragama, Nabi SAW juga mencontohkan kita cara yang sangat baik untuk bisa bekerjasama dengan siapapun, dan dengan bekerjasama kepada siapapun, maka pada dasarnya kita bisa melakukan upaya pencegahan agar kita tidak terjerat ke dalam ideologi radikal," tutupnya. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.