Amalan-amalan yang Allah subhanahu wa ta’ ala suka adalah ketika seorang hamba memperhatikan apa yang Allah SWT wajibkan kepadanya. Allah SWT berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ
Artinya: “Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya” (H. Qudsi)
Kata Taqarraba memiliki 2 makna, yang pertama memiliki makna melakukan perbuatan secara berulang-ulang. Dalam proses mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dibutuhkan ketekunan dan keseriusan.
- Bertaqarrub
“Taqarrub ilallah (berusaha mendekat kepada Allah SWT), seseorang dikatakan berusaha bertaqarrub kepada Allah SWT dengan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang,” terang KH. Mas'ud.
Kedua, Taqarraba memiliki makna dikerjakan dengan serius. Selain mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara yang berulang-ulang, harus juga bersungguh-sungguh dalam melakukannya.
Lalu pada lanjutan hadis Qudsi diatas, Allah SWT berfirman:
وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Artinya: “ Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya” (H. Qudsi)
Seringkali kita memandang shalat sunnah itu hanya sekedar sunnah. Namun, Allah SWT sangat mencintai orang yang mendekati-Nya dengan نَّوَافِلِ (nawa fil) hingga seseorang menjadikan hal Allah SWT yang paling disukai.
Dalam proses taqarrub, selain melakukan hal yang wajib, seharusnya sebagai umat Muslim mementingkan sifat nawa fil. Sebagai contoh, kita melakukan hal yang mustahab seperti shalat sunnah, berdzikir, dan tambahan lainnya.
2. Berdoa dan Shalat
Allah juga sangat menyukai hamba yang berdoa kepada-Nya, sebagaimana yang terdapat dalam hadis, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Artinya: “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dari Rabbnya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa” (Hadits Riwayat Muslim no.482)
Hadis ini mengatakan pada diksi sajjidun yang berarti sujud sambil meresapi makna sujud. Sujud diartikan merendah dilihat dari posisinya. Terdapat 3 Posisi utama dalam shalat, yaitu qiyam (berdiri), ruku’, dan sujud.
“Ulama mengajarkan bahwa posisi qiyam merupakan posisi kesadaran diri untuk menunjukkan betapa kecilnya di hadapan Allah SWT, karena pada posisi ini kita masih merasa punya ini dan itu. Maka, kesadaran terbaik dari orang yang melaksanakan ibadah shalat adalah yang mampu meruntuhkan ego pribadi,” jelas KH. Mas’ud.
Dalam shalat, kita harus meninggalkan segala ego kita untuk menunjukkan betapa besarnya Sang Maha Pencipta. Ketika posisi ruku’, kita harus ruku’ bersama orang ruku’ lainnya. Hal ini menandakan kesadaran sosial bahwa seorang Muslim setara dengan yang lainnya.
Posisi terbaik seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Kesombongan dan kesadaran sosial dibawa sujud dan merendah dihadapan Allah SWT. KH. Mas’ud menegaskan bahwa sujud adalah lebur dalam ke Maha Tunggalan Allah SWT. “Sujud adalah ketika kita mampu mengimplementasikan seluruh hidup dari makna sujud,” tambahnya.
Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak doa, terutama dalam sujud terakhir. Seringkali kita mengartikan doa sebagai permohonan kebutuhan kepada Allah SWT saja, namun hakikat doa adalah tentang kesadaran bahwa manusia adalah makhluk lemah dihadapan Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Artinya: “Dan Rabb-mu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, nescaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-Mu’min [40]:60)
Bahwasanya, doa merupakan kesadaran ketidaksombongan manusia. Siapa yang enggan berdoa kepada-Nya, Allah SWT akan murka. Allah SWT Maha Tau, tanpa kita berdoa, Allah SWT kebutuhan hambanya, namun Allah SWT menginginkan seorang hamba yang berdoa kepada-Nya.
Oleh karena itu, kesadaran diri terhadap kelemahan dihadapan Allah SWT harus diterapkan di kehidupan sehari-hari, agar tidak selalu sombong dalam melakukan apapun.
3. Konsisten Beramal
Amalan-amalan yang Allah SWT suka selain yang disebutkan diatas adalah istiqamah atau konsistensi umat Muslim dalam beramal. Allah SWT tidak melihat seberapa besarnya ukuran perbuatan manusia, melainkan kualitas. Dalam hadis ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبَُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR Muslim)
Di akhirat, Allah SWT akan melihat amal kebaikan lebih berat daripada amal keburukan. Kualitas amal yang konsisten sangat disukai oleh-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ, فَهُوَ فِى عِيشَةٍۢ رَّاضِيَةٍۢ, وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ , فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌۭ
Artinya: “Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang).Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hāwiyah” (QS. Al- Qariah [101] :6-9)
Balasan bagi orang-orang yang istiqamah adalah janji dari Allah SWT. Bagi orang yang telah berikrar bahwa Allah SWT adalah Rabb mereka dan kemudian secara istiqamah memberikan bukti konkret dalam amal perbuatan, mereka akan mendapatkan karunia berupa turunnya malaikat secara berulang-ulang (tatanazzalu alaihimul malaikah). (TANZA/ Humas dan Media Masjid Istiqlal)