Oleh : KH. Abu Hurairah Abdul Salam, Lc., MA.
Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji biasanya mendapatkan penghargaan sosial yang lebih tinggi. Namanya berubah menjadi “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”, duduknya lebih dimuliakan, pendapatnya lebih didengar, bahkan terkadang dianggap lebih saleh dibanding sebelumnya. Penghormatan itu tentu merupakan sesuatu yang wajar sebagai bentuk apresiasi terhadap orang yang telah menyempurnakan rukun Islamnya. Namun persoalannya, di era modern hari ini, ibadah haji kadang perlahan bergeser hanya menjadi simbol status sosial dan prestise, bukan lagi momentum perubahan akhlak dan spiritualitas.
Fenomena ini tampak ketika sebagian orang lebih sibuk menunjukkan atribut hajinya dibanding menjaga nilai-nilai yang dibawa sepulang dari Tanah Suci. Gelar haji menjadi identitas sosial, bukan amanah moral. Foto-foto perjalanan dipamerkan berlebihan, cerita fasilitas dan kenyamanan lebih banyak dibicarakan daripada pelajaran ruhani yang diperoleh. Bahkan tidak sedikit yang setelah berhaji masih gemar merendahkan orang lain, mudah marah, tidak jujur dalam urusan bisnis, atau tetap mempertahankan perilaku yang menyakiti sesama.
Padahal inti ibadah haji bukanlah perjalanan wisata religius atau pencarian pengakuan sosial. Haji adalah perjalanan menuju Allah, perjalanan membersihkan hati, melatih kesabaran, dan menghancurkan ego manusia di hadapan kebesaran-Nya. Di Tanah Suci semua manusia memakai pakaian ihram yang sama, tidak ada simbol kekayaan, jabatan, maupun kelas sosial. Semua melebur menjadi hamba yang lemah di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia bukan diukur dari gelar, penampilan, ataupun status sosial, tetapi dari kualitas takwanya. Karena itu, gelar haji tidak otomatis membuat seseorang mulia apabila tidak melahirkan perubahan dalam sikap dan perilaku.
Rasulullah saw juga memberikan ukuran yang sangat jelas tentang haji yang benar. Beliau bersabda: “Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu tanda haji mabrur adalah berubahnya akhlak seseorang menjadi lebih baik setelah pulang dari haji. Ia menjadi lebih lembut lisannya, lebih jujur, lebih rendah hati, lebih peduli terhadap orang kecil, dan lebih takut berbuat zalim. Haji yang diterima bukan hanya terlihat pada kopiah putih, sorban, atau tambahan gelar di depan nama, melainkan pada perubahan hati dan perilaku sosial.
Sayangnya, di media sosial hari ini, ibadah sering kali tidak lepas dari budaya pencitraan. Tidak sedikit orang yang tanpa sadar lebih sibuk membangun kesan religius dibanding memperbaiki diri. Haji menjadi bagian dari “branding kesalehan”. Padahal ibadah yang terlalu haus pengakuan manusia berpotensi kehilangan keikhlasannya di hadapan Allah.
Tentu bukan berarti mendokumentasikan perjalanan haji adalah sesuatu yang salah. Yang perlu dijaga adalah niat dan orientasinya. Apakah perjalanan itu benar-benar mendekatkan diri kepada Allah, atau justru menjadi sarana mencari validasi sosial? Pertanyaan inilah yang penting direnungkan oleh setiap Muslim.
Haji sejatinya mengajarkan kesederhanaan. Saat thawaf, semua manusia bergerak mengelilingi Ka’bah tanpa melihat status. Saat wuquf di Arafah, jutaan manusia menangis dengan pakaian yang hampir serupa, menyadari bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah tanpa membawa jabatan dan kemewahan dunia. Pengalaman spiritual ini semestinya melahirkan pribadi yang lebih rendah hati, bukan justru merasa lebih suci dari orang lain.
Karena itu, ukuran keberhasilan haji bukanlah seberapa megah oleh-oleh yang dibawa pulang atau seberapa sering gelar haji disebut di depan nama. Ukuran sebenarnya adalah apakah setelah haji seseorang semakin dekat kepada Allah dan semakin baik kepada manusia. Apakah ia menjadi lebih jujur dalam bekerja, lebih lembut kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga, dan lebih mampu menahan ego serta amarahnya.
Masyarakat juga perlu membangun cara pandang yang lebih sehat terhadap ibadah haji. Menghormati orang yang berhaji memang baik, tetapi jangan sampai penghormatan itu melahirkan budaya simbolik yang hanya menilai kesalehan dari gelar dan penampilan luar. Sebab bisa jadi seseorang yang tidak bergelar haji memiliki akhlak dan ketakwaan yang jauh lebih mulia di sisi Allah.
Pada akhirnya, haji bukan sekadar gelar yang ditempel di depan nama. Haji adalah proses kelahiran kembali jiwa manusia. Ia adalah panggilan untuk hidup lebih bersih, lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Jika sepulang dari Tanah Suci seseorang masih mudah menyakiti orang lain, gemar memamerkan diri, dan merasa lebih tinggi dari sesama, maka mungkin yang berubah hanya status sosialnya, bukan hatinya.
Semoga setiap langkah menuju Baitullah benar-benar melahirkan manusia-manusia yang bukan hanya terlihat saleh di hadapan manusia, tetapi juga dicintai Allah karena akhlaknya, keikhlasannya, dan ketulusannya dalam beribadah.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.