Di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, nilai toleransi dan penghormatan terhadap sesama menjadi pondasi penting dalam menjaga persatuan. Islam melalui keteladanan Nabi Muhammad SAW. telah memberikan contoh nyata bagaimana membangun hubungan yang harmonis dengan berbagai kelompok masyarakat, termasuk mereka yang berbeda agama dan latar belakang.
Sejak masa mudanya, Rasulullah. telah menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh agama lain. Ketika mengikuti perjalanan dagang ke Syiria, beliau pernah bertemu dengan seorang pendeta yang melihat tanda-tanda kenabian pada dirinya. Begitu pula setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah. memperoleh penjelasan dari seorang pendeta yang memahami tanda-tanda kenabian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi dan dialog dengan pemeluk agama lain telah menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau sejak awal.
Dalam menjalankan dakwah, Rasulullah. juga mengajarkan pentingnya memberikan perlindungan kepada siapa pun yang tidak memusuhi umat Islam. Beliau membangun kehidupan masyarakat yang damai dengan menghormati hak-hak setiap individu serta menegakkan keadilan tanpa memandang latar belakang agama.
Bahkan ketika menghadapi peperangan, Rasulullah. menetapkan aturan kemanusiaan yang sangat luhur. Beliau melarang membunuh anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia. Beliau juga melarang merusak rumah ibadah, menghancurkan pepohonan, maupun merusak benda-benda yang menjadi bagian dari peradaban suatu kaum.
Salah satu teladan penting yang patut direnungkan adalah kisah Usamah bin Zaid. Dalam sebuah peperangan, Usamah membunuh seorang lawan yang sebelumnya telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika peristiwa itu sampai kepada Rasulullah, beliau menegur Usamah dengan tegas. Saat Usamah beralasan bahwa syahadat tersebut diucapkan hanya untuk menyelamatkan diri, Rasulullah. mengingatkan bahwa manusia tidak berhak menghakimi isi hati seseorang.
Sebagaimana sabda Rasulullah:
أُمِرْتُ أَنْ أَحْكُمَ بِالظَّاهِرِ وَاللَّهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرَ
"Aku diperintahkan untuk menghukumi yang zahir, sedangkan Allah-lah yang menguasai segala yang tersembunyi."
Pesan hadis ini sangat relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang hidup dalam keberagaman. Islam mengajarkan agar seseorang dinilai berdasarkan apa yang tampak secara lahiriah, sementara urusan hati merupakan hak Allah Swt. Sikap saling mencurigai, menghakimi, bahkan mengkafirkan orang lain tanpa dasar yang jelas bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah.
Tidak hanya itu, Rasulullah. juga dikenal sebagai sosok yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. Mulai dari sengketa pertanian, persoalan pengairan, masalah warisan, hingga hubungan antarkelompok masyarakat, semuanya diselesaikan dengan prinsip keadilan, musyawarah, dan kemaslahatan bersama. Bahkan berbagai pihak di luar komunitas Muslim pun mempercayai beliau sebagai penengah dalam menyelesaikan konflik.
Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah. bukan hanya seorang nabi bagi umat Islam, tetapi juga sosok pembawa rahmat yang menghadirkan perdamaian, menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, sudah semestinya umat Islam menjadikan beliau sebagai teladan dalam membangun kehidupan yang damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang di tengah masyarakat yang beragam.
Semangat toleransi, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia yang dicontohkan Rasulullah. menjadi pengingat bahwa Islam adalah agama yang mengajak umatnya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin), sehingga nilai-nilai tersebut terus hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sumber: Buku Moderasi Beragama dan Tantangan Masa Depan Umat Oleh Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.