Foto: Dok. Media Istiqlal

Menyingkap Makna Sujudnya Malaikat dan Keangkuhan Iblis

Muhammad Rizki Putra Ramadhan 04 Sep 2026

​Dalam lembaran Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 34 menyajikan sebuah peristiwa kosmis yang sangat fundamental dalam sejarah penciptaan manusia:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

Artinya: "(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir."(Q.S Al-Baqarah [2]:34)

​Kajian tafsir yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA di Masjid Istiqlal menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan pelajaran spiritual mendalam tentang keilmuan, kerendahan hati, dan hakikat rohani manusia.

​1. Memahami Hakikat Sujudnya Malaikat
​Mengapa Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam AS? Apakah ini bentuk penyembahan makhluk kepada makhluk lain?

​Berdasarkan penjelasan Prof. Nasaruddin Umar, sujud di sini sama sekali bukanlah sujud ibadah (ubudiyah), melainkan bentuk penghormatan (takzim) dan pengakuan atas keistimewaan ilmu yang diberikan Allah kepada Adam. Sebelum perintah sujud diturunkan, Adam telah diajarkan ilmu al-asma' (hakikat segala sesuatu) dan menjadi guru yang mengajarkannya kembali kepada para malaikat. Maka, sujudnya malaikat adalah bentuk kepatuhan murid kepada gurunya atas perintah Allah.

​Lebih jauh lagi, terdapat pendekatan tasawuf terkait peristiwa ini. Perintah sujud tersebut turun tepat setelah Allah meniupkan roh ke dalam diri Adam (min ruhi). Manusia tidak hanya terdiri dari jasad dan nyawa—yang juga dimiliki oleh hewan—tetapi memiliki unsur ketiga yaitu roh suci. Unsur ilahi inilah yang membuat kedudukan manusia begitu mulia di hadapan para malaikat.

​2. Penolakan Iblis: Jebakan Kesombongan dan Rasionalitas Palsu
​Berbeda dengan malaikat yang taat, Iblis (Azazil) memilih untuk membangkang. Penolakan Iblis berakar pada dua hal utama:

  • Kesalahan Epistemologis dan Kesombongan (Istikbar)
    Iblis terjebak pada pandangan lahiriah dengan membandingkan asal penciptaan: api versus tanah. Ia merasa api lebih mulia daripada tanah. Padahal secara hakikat dan kimiawi, tanah jauh lebih kaya akan unsur kehidupan dibanding api. Kesombongan inilah yang membutakan hatinya.
  • Sudut Pandang Makrifat Ibnu Arabi
    Dalam perspektif tasawuf yang dikutip Prof. Nasaruddin, Iblis juga menjadi cermin manifestasi dari Asmaul Husna Allah, yaitu Al-Mudhil (Maha Menyesatkan), sebagaimana malaikat dan para nabi menjadi manifestasi dari sifat Al-Hadi (Maha Memberi Petunjuk).

​3. Implikasi Spiritual bagi Manusia
​Pemaparan materi dalam kajian tersebut memberikan beberapa kesimpulan penting bagi kehidupan spiritual:

  • Kemuliaan Manusia Ada pada Ilmu dan Roh
    Kedudukan manusia tidak ditentukan oleh nasab, latar belakang, atau materi, melainkan oleh sejauh mana ia mampu menghidupkan ilmu dan menjaga kesucian roh di dalam diri.
  • Bahaya Sifat Sombong (Kibar)
    Dosa pertama yang tercipta di alam semesta bukanlah dosa fisik, melainkan dosa hati berupa kesombongan. Merasa diri lebih baik dari pihak lain adalah bentuk penyimpangan moral yang dicontohkan Iblis.
  • Jalan Kebaikan yang Mendaki
    Meniti jalan ketakwaan sering kali terasa mendaki dan penuh rintangan, sementara jalan keburukan tampak lurus dan menggiurkan. Namun, hanya jalan ketakwaanlah yang membimbing roh manusia kembali fitrah ke hadirat Sang Pencipta.

​Peristiwa sujudnya malaikat dan pembangkangan Iblis dalam Surah Al-Baqarah ayat 34 pada hakikatnya menegaskan posisi serta martabat manusia di hadapan alam semesta. Kemuliaan hakiki manusia tidak terletak pada susunan fisik maupun asal-usul materi semata, melainkan pada keunggulan ilmu dan kesucian roh yang ditiupkan oleh Allah SWT. Sebaliknya, kejatuhan Iblis menjadi peringatan keras bahwa kesombongan dan klaim superioritas materi dapat membutakan akal serta menjauhkan diri dari hidayah. Menjaga kerendahan hati dan terus menutrisi roh dengan ketakwaan merupakan kunci utama agar manusia dapat mempertahankan martabat mulianya sebagai khalifah di bumi

 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.