Foto: Warijan

Islam Memandang Perbedaan sebagai Sunnatullah

Muhammad Rizki Putra Ramadhan 02 Sep 2026

Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dan plural. Keberagaman suku, etnik, agama, dan budaya dapat menjadi kekayaan yang memperkuat bangsa, tetapi juga bisa menjadi ancaman apabila perbedaan justru dipertajam oleh kepentingan kelompok dan subjektivitas. Karena itu, tantangan generasi bangsa bukan menghilangkan perbedaan, melainkan menjadikannya sebagai kekuatan bersama.

Islam sendiri tidak memandang keberagaman sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Perbedaan merupakan bagian dari ketetapan Allah Swt. yang perlu diterima dengan sikap bijaksana. Al-Qur'an menegaskan:

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?”(QS. Yunus [10]: 99)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak diciptakan dalam keadaan seragam, termasuk dalam persoalan keimanan. Tugas manusia adalah menyampaikan kebenaran dan petunjuk, sedangkan persoalan seseorang menerima atau menolak petunjuk merupakan hak prerogatif Allah Swt. Bahkan kepada Nabi Muhammad Saw., Allah mengingatkan:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Artinya: "Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki."(QS. Al-Qasas [28]: 56)

Karena itu, keberagaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling memaksakan keyakinan ataupun mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Setiap umat memiliki aturan dan jalan masing-masing sebagai bagian dari kehendak Allah Swt. Yang diperintahkan justru bukan menyeragamkan manusia, melainkan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dalam konteks Indonesia, pemahaman tersebut menjadi penting untuk menjaga kemajemukan sebagai kekayaan bangsa. Perbedaan agama dan etnik tidak perlu dipandang sebagai ancaman selama masyarakat mampu menempatkannya dalam semangat saling menghormati dan hidup berdampingan.

Pada akhirnya, kita tidak perlu mempertanyakan mengapa Allah Swt. menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan. Dalam perspektif tasawuf, keberagaman tersebut dapat dipahami sebagai salah satu perwujudan Al-Asma' Al-Husna yang beragam. Setiap nama-Nya memiliki tuntutan untuk mengejawantah dalam kehidupan. Dengan demikian, perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dihapuskan, melainkan bagian dari sunnatullah yang perlu dirawat agar menjadi sumber kekayaan dan keberkahan bagi kehidupan bersama.

Sumber : Buku Nasionalisme Indonesia Oleh Prof. Dr. K.H. Nasarudin Umar. M.A

Fotografer
Warijan

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.