Oleh: Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, SH, M.IP
Jakarta, ww.istiqlal.or.id - Hadirin shalat tarawih Masjid Istiqlal pada bulan Ramadhan di hari ke-3 ini, mari kita sejenak belajar bersama tentang perjalanan hidup kita sebagai manusia, sekalian juga pada bulan puasa ini adalah untuk bertakwa. Karena bertakwa itulah yang membedakan kemuliaan kita sebagai sesama manusia.
Pada dasarnya manusia itu setara, sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau mulia derajatnya antara yang satu dengan yang lain, kecuali satu, yaitu ketakwaannya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal." (QS. Al-Hujurat/18 : 13)
Dari ayat di atas, kita ketahui bahwasanya Allah SWT menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, untuk saling mengenal, memaklumi, menghargai dan menerima. Karena semuanya itu setara.

Saudara sekalian, oleh sebab itu lawan dari kesetaraan adalah kesombongan. Maka, kalau kita sebagai manusia itu sombong, nerasa lebih tinggi dari manusia lain kecuali dalam tugasnya pada fungsional pembagian tugas, berarti manusia itu merupakan lawan dari ketakwaan.
Maka dari bulan puasa ini, marilah kita hayati untuk bertakwa itu, antara lain adalah memperlakukan diri kita setara dengan orang lain dan orang lain setara dengan kita.
Jangan sampai karena perbedaan kelompok, tadi sebagaimana ayat Al-Quran yang dibacakan (QS. Al-Maidah/5: 8), lengkapnya sebagai berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Maidah/5: 8)
Jangan sampai karena perbedaan, atau kebencianmu terhadap seseorang atau kelompok lain menyebabkanmu tidak adil. Saudara sekalian, ini yang harus dipraktikkan dalam hidup kita. Kadangkala ini hanya dihafal, tapi tidak dipraktikkan.
Saudara, saya akan ambil kisah-kisah yang menarik tentang pembahasan kesetaraan manusia ini.
1. Peristiwa Penaklukkan Yerusalem yang Mengandung Hikmah
Kisah menarik, pada abad ke-47 hijrah, kota Yerusalem jatuh kepada kaum muslimin ditaklukan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Penguasa kota saat itu, walikota yang memegang kunci kota tersebut, bernama Patriark Sophronius, mengatakan pesan bahwasanya dirinya hanya akan menyerahkan kota Yerusalem langsung kepada khalifah Umar bin Khattab RA, "saya ingin kenal dengan Khalifah Umar bin Khattab RA," ungkapnya. Jadi tidak diserahkan ke panglima perangnya, Abu Ubaidah bin Jarrah.
Banyak yang menarik dari kisah ini, misalnya Umar shalat di satu tempat agar tidak dianggap menduduki atau menguasai tempat ibadah orang Kristen. Tetapi yang menarik dari kisah kesetaraan ini, ketika Khalifah Umar bin Khattab RA mau masuk ke kota itu, dia bersama pengawal atau ajudannya, hal unik yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab RA adalah mengajak ajudannya naik unta bergantian sekali setiap satu kilo meter.
Ajudan menjawab, "Kenapa Khalifah kok seperti itu?" Khalifah Umar bin Khattab RA menjawab, "Ya karena kamu juga capek. Masa saya terus yang di unta." Kata Khalifah Umar bin Khattab RA, ajudan ini sama-sama manusia, hanya beda tugas saja. Saya kebetulan penguasa tugasnya membuat keputusan-keputusan dan mengarahkan, dan kamu kebetulan tugasnya membantu saya.

Jadi ini naik unta bergantian, yang menariknya ketika berada di pintu kota dan dijemput oleh Sophronius, kebetulan yang naik kuda adalah ajudannya, Khalifah Umar bin Khattab RA sedang menuntun.
Para pejabat, tentara-tentara, barisan penjemput semuanya memberi hormat kepada ajudan karena dia ada di atas unta. Khalifah yang menuntun. Namun Khalifah Umar bin Khattab RA biasa saja, kemudian ajudan tersebut mengatakan, "itu lho khalifahnya, bukan saya." Sehingga setelahnya hormatnya mengarah ke Khalifah Umar bin Khattab RA.
Peristiwa tersebut menunjukkan cara menghayati hidup setara ialah dengan menghormati orang lain, meskipun dalam praktik saat ini tidak harus percis seperti itu. Namun menghargai kesetaraan manusia itu penting. Hal tersebut juga yang menyebabkan dakwah Islam juga diterima oleh orang banyak dengan begitu cepat, karena menganggap manusia setara. Sama semangatnya ketika kita membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dasarnya adalah kesetaraan manusia, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Artinya, harus menghargai martabat setiap orang, kemampuan kita menghargai martabat setiap orang juga menjadi bagian dari ketakwaan kita.
Hal yang membedakan kita itu adalah ketakwaannya saja. Maka ketika kita menganggap orang setara sebagai manusia, maka setara. Oleh sebab itu, hal tersebut juga yang menjadi prinsip keadilan. Dalam rangka keadilan tersebut juga penguasa tidak boleh sewenang-wenang.
2. Hikmah Kerelaan Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA Tunduk pada Keputusan Hakim yang Adil
Pengalaman perselisihan juga dialami Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA
Ada kisah lain yang menarik, pada suatu hari, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA kehilangan baju perangnya yang sangat dibanggakan, baju besi, hilang jatuh di suatu tempat ketika dalam suatu perjalanan, suatu saat diketahui bahwa baju Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA tersebut dimiliki dan sudah berpindah tangan kepada seorang nasrani.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA mengatakan, "ini baju kamu dapat dari mana?", "Ini baju besi milik saya," sahut yang mengambil.
"Tidak, ini baju besiku," kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. "Nyatanya ada di tanganku, tidak, ini milikku," kata yang mengambil.
Mereka saling bertengkar dan rebutan, sampai akhirnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA mengatakan, "Baik kalau begitu kita datang ke seorang hakim."

Nama hakim tersebut adalah Syuraih al-Qadhi, hakim yang sangat terkenal, jujur, dan berani.
Datang Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, mengadu, "Wahai Syuraih, baju besi ini adalah punya saya tapi tiba-tiba diambil. Baju besi ini jatuh di perjalanan ketika saya sedang capek, entah di mana."
Sementara yang memegang baju itu mengatakan, "Tidak bisa ini ada di tangan saya nyatanya. Mana buktinya kalau kamu yang punya?"
Lalu hakim mengatakan, "Amirul Mukminin Ali, apakah kamu mempunyai saksi? Nyatanya itu ada di tangan dia, kamu harus punya saksi bahwa itu milikmu."
"Ya, saya sanggup. Ini Hasan cucuku, kemudian pembantuku, bisa menjadi saksi."
"Hasan cucumu, tidak diperbolehkan menjadi saksi untukmu, karena pasti dia meringankanmu," jelas hakim.
"Apakah kamu tidak percaya dengan Hasan? Kan Hasan orang yang baik dan akan masuk syurga, masa tidak bisa menjadi saksiku?" jawab Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.
"Ya. Menurut hukum tidak boleh menjadi saksi untukmu, karena kamu berkepentingan dengan perkara ini."
Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA lalu berkata bahwa dirinya tidak memiliki saksi lain. Mendengar hal tersebut, hakim mengatakan, "Kalau begitu, baju besi ini milik orang Yahudi ini, kamu tidak punya saksi."
Lalu hal yang dilakukan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA sebagai penguasa saat itu adalah "Baik, kalau begitu saya berikan baju ini untuk dia karena saya tidak bisa membuktikan apa-apa, dan saya harus tunduk dengan keputusan hakim."
Dari cerita tersebut, seseorang menyatakan tunduk dengan keputusan hakim karena dia yakin dia benar, tetapi karena hakim mengatakan seperti itu dan dia tidak punya bukti dan saksi, akhirnya dia tunduk.
Hakim seperti Syuraih inilah yang bisa masuk syurga. Dia tidak takut mengadili penguasa dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA masuk syurga karena dia tidak mau melawan keputusan hakim yang sudah mencari kebenaran berdasarkan bukti-bukti yang ada.

Oleh sebab itu, makanya dalam Islam disebutkan, kalau ada tiga hakim, hanya satu yang masuk syurga dengan jenis hakim seperti Syuraih. Mari kita serukan kepada seluruh hakim di Indonesia sebagai penegak hukum dan keadilan, agar senantiasa melakukan keadilan.
Selanjutnya, orang yang tidak memperlakukan manusia lain sebagai seorang yang setara sebagai keududukannya dengannya, itu disebut jahiliyah oleh Rasulullah SAW. Jadi Rasulullah SAW datang untuk membawa manusia dari alam jahiliyah ke alam hidayah.
3. Hikmah Pesan Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar bin Al-Ghifari Tentang Menghargai Sesama
Pada suatu saat, para sahabat melihat sahabat Rasulullah SAW, Abu Dzar Ali Ghifari, nampak memakai baju dan alas kaki yang kualitasnya sama dengan para pembantunya, lalu para sahabatnya bertanya, "kok tumben ada tuan yang pakaiannya sama dengan pembantunya, kok bisa sama?" Lalu Abu Dzar menceritakan bahwasanya dirinya pernah dimarahi oleh Rasulullah SAW karena pernah memarahi budak akibat malas bekerja (saat itu masih berlaku budak), "Kamu ini pemalas, kerjaan tidak selesai, kamu sama saja seperti ibumu yang pemalas, dasar budak." Anak tersebut nangis kemudian mengadu kepada Nabi SAW.
Kemudian Rasulullah SAW menegur Abu Dzar dan berkata, "Apakah benar kamu memarahi anak ini dengan menyebut nama ibunya? Kalau benar engkau lakukan itu, engkau masih jadi orang jahiliyah, belum mendapat hidayah. Menganggap orang lain lebih rendah itu sama saja seperti orang jahiliyah."
"Demi Allah SWT yang diriku ada dalam genggaman-Nya, kalau kamu punya pembantu, pegawai, perlakukan dia dengan baik. Berilah dia pakaian seperti yang kamu pakai, dan berilah dia makanan seperti yang kamu makan. Bantulah dia saat bekerja, karena sejatinya dia membantumu, pekerjaan pokoknya ada padamu." pesan Rasulullah SAW.
Sehingga kata Abu Dzar, "Sejak itu saya menjadi malu menjadi manusia. Oleh sebab itu saya senantiasa melakukan seseorang setara dengan saya, karena kata Rasulullah SAW, yang tidak menyetarakan orang lain adalah sifatnya orang jahiliyah."
Saudara sekalian, oleh sebab itu, mari hayati bulan Ramadhan ini sebagai empati untuk membangun kebersamaan. Bahwa semua orang itu punya harga diri, harkat martabat yang sama, juga punya keluhan, penderitaan dan kebahagiaan yang sama seperti kita. Sehingga berpuasa ini bisa membangun empati.
Saya tidak mengatakan kita harus sama dengan Abu Dzar, Abu Bakar RA, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya. Namun semangatnya harus seperti itu, semangat menyetarakan orang. Mari kita bangun ketakwaan diri dengan membangun empati. Kita jaga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sebagai negara yang merdeka, karena ingin membangun kesetaraan dan keadilan, bukan kesewenang-wenangan, kesetaraan di antara umat manusia ataupun di seluruh dunia, karena dikatakab bahwasanya kemerdekaan ialah hak seluruh bangsa. Penjajahan yang membedakan antara bangsa satu dengan yang lainnya harus dihapuskan karena melanggar kemanusiaan, dan atas berkat rahmat Allah SWT yang Maha Kuasa, maka kita nyatakan NKRI ini merdeka. Ini cara kita mengisi negara kita.
Kalau kita mau berbakti kepada negara kita, yang artinya juga ikut serta melaksanakan ajaran-ajaran agama, maka kita harus membangun kesetaraan, menghargai orang lain agar semuanya bisa berhak maju dan sejahtera bersama-sama, itulah Islam. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)