Kabid Riayah BPMI KH. Zainuri Anwar dalam Mimbar Ramadhan, menyampaikan pesan rohani yang sangat relevan dengan realitas sosial masa kini, yakni fenomena flexing atau pamer kemewahan di media sosial.
Bulan Ramadhan bukan hanya ujian untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga ujian untuk menjaga niat, hati, dan sikap di tengah kemewahan atau kesederhanaan.
Dalam ceramahnya, H. Zainuri Anwar mendefinisikan flexing sebagai tindakan memamerkan kekayaan, keberhasilan, maupun barang-barang mewah demi mendapatkan pengakuan duniawi. Secara psikologis, tindakan ini sering kali lahir dari rasa tidak percaya diri yang akut.
"Apa yang mendorong orang-orang itu melaksanakan flexing? Pertama, menurut ahli psikologi, karena dia tidak percaya diri, sehingga dia mencari validitas dari orang lain. Dia ingin mencari penilaian, persetujuan, bahkan pujian dari orang lain," tegasnya.
Islam sangat menekankan sikap tawadhu (rendah hati) dan melarang keras segala bentuk kesombongan (kibr). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
Artinya: “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. Luqmān [31]:18)
Menurutnya, dosa kesombongan adalah perkara berat. Beliau mengingatkan perbedaan antara dosa kelalaian Nabi Adam AS yang diampuni, dengan dosa kesombongan.
Sering kali kita melihat fenomena pamer harta di media sosial dan menjebak seseorang ke dalam jerat riya (ingin dilihat orang lain). Padahal, segala nikmat yang ada di tangan manusia hanyalah titipan dari Sang Khaliq.
Seperti kisah Qarun, yang berawal dari orang yang shaleh dan miskin, tapi berubah menjadi angkuh setelah bergelimang harta dan mengaku bahwa kekayaannya adalah hasil ilmunya sendiri.
“Apa bedanya dengan orang-orang sekarang yang pasang kemewahan di foto kemudian dikomentari dalam fotonya 'usaha tidak membohongi hasil'. Itu sama dengan Qarun yang mengatakan ini karena ilmu saya. Ia lupa bahwa semua adalah pemberian dari Allah SWT,” tegasnya.
Hal ini selaras dengan Surah At-Takatsur yang bercerita tentang bermegah-megahan yang melalaikan manusia hingga saat datangnya ke liang kubur. “Flexing akan membuat kita lalai kepada Allah SWT," tambah H. Zainuri Anwar.
Marilah kita ganti budaya flexing dan pamer harta dengan budaya berbagi. Alih-alih memamerkan kemewahan di layar ponsel, alangkah lebih mulia jika nikmat tersebut disalurkan dalam bentuk shadaqah yang nyata manfaatnya bagi sesama. (TANZA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)