Foto: Dok. Media Istiqlal

Menjaga Keseimbangan Eksoterisme dan Esoterisme dalam Beragama

Muhammad Rizki Putra Ramadhan 28 Jul 2026 Warta Istiqlal

Keberagaman cara memahami ajaran Islam merupakan sesuatu yang wajar dalam tradisi keilmuan Islam. Perbedaan tersebut lahir dari berbagai metode dalam menafsirkan Al-Qur'an dan hadis. Oleh karena itu, sikap saling menghargai menjadi hal penting agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi perselisihan, melainkan menjadi kekayaan intelektual yang memperluas wawasan umat.

Secara umum, terdapat dua pendekatan dalam memahami ajaran agama, yaitu pendekatan eksoteris dan esoteris. Pendekatan eksoteris lebih menitikberatkan pada pemahaman teks secara lahiriah dan aspek hukum syariat (fiqh oriented). Melalui pendekatan ini, penafsiran diarahkan untuk menjelaskan aturan-aturan yang berkaitan dengan kehidupan manusia, seperti perkara yang diperbolehkan maupun yang dilarang dalam agama. Pendekatan ini banyak ditemukan dalam berbagai kitab tafsir yang menjadi rujukan mayoritas ulama.

Sementara itu, pendekatan esoteris lebih menekankan pencarian makna batin yang terkandung di balik teks. Selain memahami bunyi ayat secara harfiah, pendekatan ini juga berusaha menggali hikmah, nilai spiritual, dan pesan moral yang lebih mendalam. Karena itu, tidak sedikit penafsiran yang menggunakan pendekatan simbolik atau metaforis untuk menjelaskan kandungan ajaran Islam.

Perbedaan kedua pendekatan tersebut seringkali melahirkan pandangan yang beragam. Namun, perbedaan metodologi bukan berarti salah satu harus dianggap lebih benar dan yang lain harus disalahkan. Setiap pendekatan memiliki ruang serta tujuan yang berbeda dalam memahami ajaran agama. Menilai pemikiran yang bercorak esoteris hanya dengan ukuran eksoteris, atau sebaliknya, justru berpotensi melahirkan penilaian yang tidak utuh dan kurang bijaksana.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, keseimbangan antara kedua pendekatan tersebut menjadi sangat penting. Bangsa Indonesia sejak awal telah mengenal corak keberagamaan yang memadukan keteguhan dalam menjalankan syariat dengan penguatan nilai-nilai spiritual, akhlak, dan budaya. Perpaduan inilah yang menjadikan dakwah Islam di Nusantara berkembang secara damai dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Memahami agama tidak cukup hanya berpegang pada aspek hukum semata, tetapi juga perlu diiringi dengan penghayatan terhadap nilai-nilai kasih sayang, kebijaksanaan, dan toleransi. Sebaliknya, penghayatan spiritual juga perlu berjalan seiring dengan pemahaman syariat agar tetap memiliki pijakan yang kuat. Dengan demikian, eksoterisme dan esoterisme bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam membentuk pemahaman Islam yang utuh.

Melalui keseimbangan tersebut, umat Islam diharapkan mampu membangun sikap yang lebih terbuka terhadap perbedaan pandangan, tanpa kehilangan komitmen terhadap ajaran agama. Semangat inilah yang perlu terus dikembangkan agar kehidupan beragama di Indonesia tetap harmonis, moderat, dan mampu menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, yaitu agama yang membawa kedamaian dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

Sumber: Buku Moderasi Beragama dan Tantangan Masa Depan Umat Oleh Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.