Sosok Maryam memiliki kedudukan istimewa dalam Al-Qur’an. Ia tidak hanya dikenal sebagai ibunda Nabi Isa AS, tetapi juga menjadi gambaran tentang kesucian, keteguhan iman, dan kekuasaan Allah SWT. Kisahnya memperlihatkan bagaimana Allah memberikan kehormatan kepada seorang perempuan yang menjaga kesucian dirinya dan dipilih untuk menerima anugerah yang luar biasa.
Dalam buku Memahami Al-Qur’an di Masa Post-Truth, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, membahas Maryam melalui pendekatan esoteris. Ia menguraikan Maryam sebagai simbol orisinalitas kesucian (the original holiness), sekaligus menghubungkan sosoknya dengan figur Hawa dalam perspektif simbolik. Pembahasan tersebut mengajak pembaca melihat kisah perempuan dalam Al-Qur’an melalui makna yang lebih luas, tidak hanya sebatas peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai refleksi perjalanan spiritual manusia.
Kisah Maryam mendapat perhatian khusus dalam Al-Qur’an, bahkan diabadikan menjadi nama salah satu surah, yaitu Surah Maryam yang terdiri atas 98 ayat. Ia dikenal sebagai perempuan yang menjaga kehormatan dan kesuciannya, serta menerima ketetapan Allah untuk melahirkan Nabi Isa AS tanpa seorang ayah.
Peristiwa tersebut dijelaskan dalam Surah Maryam ayat 17–19.
فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًا ۗ فَاَرْسَلْنَآ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا قَالَتْ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِالرَّحْمٰنِ مِنْكَ اِنْ كُنْتَ تَقِيًّاقَالَ اِنَّمَآ اَنَا۠ رَسُوْلُ رَبِّكِ ۖ لِاَهَبَ لَكِ غُلٰمًا زَكِيًّا
Artinya: "Dia (Maryam) memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Lalu, Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, kemudian dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. Dia (Maryam) berkata (kepadanya), Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih darimu (untuk berbuat jahat kepadaku) jika kamu seorang yang bertakwa. Dia (Jibril) berkata, Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberikan anugerah seorang anak laki-laki yang suci kepadamu.”(Q.S. Maryam [19] : 17-19)
Kisah ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi Isa AS merupakan tanda kekuasaan Allah SWT. Maryam menjadi sosok yang menerima amanah besar tersebut dengan tetap menjaga ketundukan dan keimanannya. Dalam pembacaan esoteris yang disampaikan Nasaruddin Umar, Maryam dipandang sebagai simbol orisinalitas kesucian, yakni gambaran tentang kemurnian yang mengantarkan manusia kepada kedekatan dengan Allah.
Dalam pembahasannya, Nasaruddin Umar mempertemukan sosok Hawa dan Maryam sebagai dua figur perempuan yang memiliki makna simbolik berbeda. Hawa digambarkan sebagai simbol keterjatuhan manusia ke bumi, sedangkan Maryam menjadi simbol kesucian dan kenaikan spiritual manusia menuju Allah SWT.
Perbandingan ini tidak hanya berbicara tentang kedua sosok perempuan tersebut, tetapi juga menggambarkan dua arah perjalanan manusia. Hawa dikaitkan dengan keterjatuhan dan keterikatan manusia pada kehidupan duniawi, sementara Maryam melambangkan kesucian yang mengarahkan manusia kembali kepada nilai-nilai ketuhanan.
Beliau juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan tradisi keagamaan lain. Dalam tradisi Talmud Babilonia, misalnya, terdapat pembahasan mengenai Hawa yang dikaitkan dengan asal mula kejatuhan manusia. Sementara itu, dalam Kitab Kejadian 3:15 terdapat gambaran mengenai pertentangan antara keturunan perempuan dan ular. Ayat tersebut dalam tradisi Kristen kerap dipahami sebagai bagian dari pembahasan mengenai hubungan antara kejatuhan manusia dan harapan keselamatan.
Melalui perbandingan tersebut, Nasaruddin Umar memperlihatkan bagaimana figur Hawa dan Maryam dapat dibaca sebagai simbol yang saling berhadapan sekaligus berkaitan dalam pembahasan spiritualitas. Keduanya menghadirkan gambaran tentang dinamika kehidupan manusia, antara keterjatuhan dalam kesalahan dan upaya untuk kembali kepada kesucian.
Lebih jauh, pembahasan ini menghubungkan sosok Maryam dengan konsep Maya dalam tradisi Hindu. Dalam perspektif yang diuraikan penulis, Maya memiliki makna yang berkaitan dengan manifestasi dan penampakan realitas. Konsep tersebut digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua sisi kehidupan manusia, yakni keterikatan pada dunia dan dorongan untuk kembali menuju hakikat ketuhanan.
Hawa dan Maryam kemudian ditempatkan dalam gambaran simbolik tersebut. Hawa dikaitkan dengan sisi yang membawa manusia pada keterikatan duniawi, sedangkan Maryam melambangkan sisi yang membebaskan dan mengarahkan manusia menuju kesucian. Keduanya menggambarkan dinamika perjalanan spiritual, yaitu bagaimana manusia dapat terjebak dalam keterbatasan dunia, tetapi tetap memiliki jalan untuk kembali kepada nilai-nilai ilahiah.
Dalam pemikiran ini, kesucian Maryam menjadi gambaran tentang harapan bagi manusia untuk melampaui keterikatan terhadap hal-hal yang menjauhkan dirinya dari Allah. Kesucian bukan sekadar keadaan lahiriah, melainkan juga berkaitan dengan kejernihan batin dan kesadaran untuk senantiasa mengarahkan kehidupan kepada kebaikan.
Pembahasan tersebut pada akhirnya menempatkan Maryam sebagai simbol penting dalam perjalanan spiritual manusia. Melalui kisahnya, pembaca diajak memahami bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan pengalaman duniawi, tetapi juga memiliki dimensi batin yang mengarahkan manusia kepada Sang Pencipta.
Kisah Maryam dalam Al-Qur’an mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan sosial maupun penilaian manusia, melainkan oleh keimanan, kesucian, dan ketundukannya kepada Allah SWT. Sosok Maryam menjadi teladan tentang bagaimana menjaga kehormatan diri dan tetap teguh dalam menjalankan ketetapan-Nya. Dengan memahami pesan tersebut, umat Islam diharapkan dapat menjadikan kesucian hati sebagai bagian penting dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Muh. Asdar
Muhammad Adam
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.