Oleh: H. Moch. Taufiqurrahman, MA
(Direktur Madrasah Istiqlal Jakarta)
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah SWT, Marilah kita tiada hentinya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, serta kesehatan, sehingga kita dapat bersujud bersama di Masjid Istiqlal yang penuh berkah ini.
Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita terus meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT, takwa dalam arti yang sebenar-benarnya: menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di mana pun dan kapan pun kita berada.
Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT, Dalam catatan Sejarah Islam, para nabi dan rasul merupakan teladan yang Allah turunkan kepada umat manusia agar bisa menjadi penuntun menuju jalan kebenaran. Salah satu Nabi yang menjadi teladan penting setelah Rasulullah SAW dalam membangun watak, moral, dan spiritual umat yaitu Nabi Ismail AS. Nama beliau menjadi simbol kesabaran dan ketaatan seorang hamba kepada Allah dan juga bakti murni seorang anak kepada orang tua yang erat kaitannya dengan ibadah kurban, haji, dan pembangunan Kabah.
Perjalanan penuh keteguhan, kesabaran serta ketaatan Nabi Ismail AS diabadikan oleh Allah SWT dalam Al Qur'an salah satunya adalah Surah As Shaffat ayat 102. Dalam ayat ini, Allah memperlihatkan kepada kita semua sebuah fragmen dialog paling dramatis, sekaligus paling indah dalam sejarah umat manusia. Allah SWT berfirman dalam Qur'an Surat As-Saffat ayat 102,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
(QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]:102)
Dalam ayat tersebut terlihat bagaimana dialog yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dengan anaknya dilakukan secara bijaksana, bukan dengan paksaan. Begitupun Respons Nabi Ismail AS sebagai anak, mencerminkan kedalaman iman, kematangan emosi, dan kepatuhan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan dan kesabaran Nabi Ismail AS lahir dari proses pendidikan yang dibangun atas dasar cinta, keteladanan, dialog, dan penguatan tauhid.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa pendidikan yang efektif lahir melalui pendekatan berbasis cinta (love-based education), komunikasi yang inklusif, dan pembelajaran mendalam (deep learning) sehingga membentuk pribadi yang tangguh dan berakhlak mulia.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, Refleksi pendidikan berbasis cinta dan keteguhan iman ini sangat penting bagi kita dalam menghadapi masalah pendidikan generasi saat ini yang kita kenal dengan Generasi Alpha. Pencetus Generasi alpha yaiut Mark McCrindle seorang sosiolog asal Australia menyebutkan bahwa Gen A adalah generasi yang paling akrab dengan teknologi digital dan generasi yang diklaim paling cerdas dibandingkan generasi generasi sebelumnya.
Generasi Alpha juga memiliki kekurangan yaitu tidak bisa lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, daya kreativitas menurun dan bersikap individualis. Mereka menginginkan hal-hal yang instan dan kurang menghargai proses.
Berdasarkan hal tersebut, dalam menghadapi karakteristik generasi yang tumbuh di tengah percepatan teknologi dan perubahan sosial yang kompleks, dibutuhkan upaya internalisasi empat pilar karakter utama yang bersumber dari nilai-nilai profetik Nabi Ismail AS, sebagai fondasi pembentukan kepribadian yang tangguh, spiritual, dan berakhlak mulia yaitu:
1. Literasi Media dan Tradisi Tabayyun Digital
Sebagaimana telah disebutkan bahwa generasi Alpha dibesarkan di dunia maya yang dipenuhi oleh derasnya arus informasi. Tanpa benteng nalar yang sehat, mereka sangat rentan terombang-ambing oleh hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian. Di sinilah pentingnya mengajarkan mereka esensi Tabayyun sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Hujurat : 6,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Ḥujurāt [49]:6)
Pelajaran tabayyun tersebut juga diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS kepada Nabi Ismail dengan merefleksikan sebuah wahyu mimpi dengan mendalam, bukan menerimanya secara reaktif. Untuk itu, tugas pertama kita sebagai orang tua adalah mendampingi anak-anak kita agar cerdas menyaring informasi sebelum membagikannya, membedakan mana kebenaran esensial dan mana kepalsuan digital. Dengan kata lain kita harus mengajarkan saring sebelum sharing.
2. Pengelolaan Emosi pada Masa Serba Cepat.
Hidup di era digital yang serba cepat membuat anak- anak Gen A rentan terhadap sindrom kepuasan instan (instant gratification). Kecenderungan menginginkan penghargaan yang cepat dan sering kali dirundung kecemasan mendalam jika tidak mendapatkan umpan balik (feedback) yang instan dari lingkungannya menjadi ciri lainnya.
Menurut data Kementerian Kesehatan yang dikutip oleh Center for Public Mental Health sekitar 5% anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa yang mengakibatkan mereka mengalami kecemasan (ansietas), stress dan gangguan mental lainnya. Penyebabnya adalah media sosial yang mendikte emosi mereka melalui hitungan interaksi digital. Untuk itu, mari kita renungkan sebuah Hadits dari Rasulullah SAW yang mengingatkan pentingnya kelembutan mengelola emosi:
“Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan ia akan membuatnya buruk." (HR. Muslim)
Dari hadits di atas kitab isa belajar bahwa pendampingan emosional terhadap anak melalui pendekatan kasih sayang (cinta) merupakan upaya menghadirkan lingkungan keluarga yang aman, suportif, dan penuh ketenangan spiritual. Pendekatan ini dilakukan dengan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosi, memperoleh penerimaan psikologis, serta penguatan nilai moral dan spiritual.
Penanaman cinta kepada Allah, penghargaan diri, dan kasih sayang kepada sesama menjadi fondasi penting bagi perkembangan emosional, intelektual, dan spiritual anak secara utuh.
3. Melatih Ketekunan dan Menghargai Proses.
Pernyataan Nabi Ismail AS dalam Al-Qur'an, “Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shaffat: 102), merepresentasikan bentuk ketahanan mental (resilience) yang kokoh dalam perspektif pendidikan Islam. Ungkapan tersebut menunjukkan kemampuan mengelola emosi, kesiapan menghadapi ujian, serta kepatuhan spiritual yang dibangun di atas keimanan dan tawakal kepada Allah SWT.
Dalam kajian psikologi modern, resilience dipahami sebagai kemampuan individu untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dalam menghadapi tekanan atau situasi sulit. Nilai ini tampak kuat pada diri Nabi Ismail AS yang menampilkan sikap sabar, emosi yang stabil, dan penerimaan positif terhadap ketentuan Allah tanpa kehilangan keteguhan moral dan spiritualnya.
Di era digital yang serba cepat dan instan dibutuhkan penanaman pendidikan karakter seperti disiplin, ketangguhan, dan kemampuan berpikir mendalam serta budaya menghargai usaha, terutama mengedepankan kesabaran dalam berproses agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah agar tidak menghilangkan ketekunan dan daya juang Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar memiliki semangat, ketangguhan, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi kehidupan. Beliau SAW bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah (mudah menyerah).” (HR. Muslim)
4. Internalisasi Nilai Spiritual Ekologis untuk Kelestarian Bumi.
Tantangan masa depan Generasi Alpha bukan hanya krisis moral dan digital, tetapi juga krisis eksistensial berupa kerusakan lingkungan, krisis iklim, dan cuaca ekstrem yang tinggi (high climate volatility). Dunia masa depan akan terasa lebih "panas" secara harfiah maupun kiasan. Oleh karena itu, kurikulum berbasis cinta tidak boleh berhenti pada dimensi humanis saja, melainkan harus meluas pada dimensi alam semesta melalui penanaman Ekoteologi (Spiritualitas Lingkungan).
Sejarah mencatat, lokasi pengorbanan Nabi Ismail di lembah Makkah yang gersang, justru menjadi awal mula memancarnya mata air Zamzam yang menghidupkan ekosistem dan peradaban di sekitarnya. Karakter Ismail AS adalah karakter yang membawa kesuburan, kehidupan, dan kelestarian bagi lingkungan.
Mendidik Generasi dengan ekoteologi berarti melatih mereka sejak dini untuk menghemat air, menanam pohon, mengurangi sampah, dan memperlakukan alam dengan penuh rasa hormat (stewardship of the earth).
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah SWT, Mari kita jadikan keluarga sebagai tempat tumbuhnya iman, kasih sayang, dan keteladanan. Didiklah anak-anak kita dengan kesabaran, doa, dan cinta yang tulus, karena mereka bukan hanya generasi penerus keluarga, tetapi juga penentu masa depan umat dan bangsa. Dengan meneladani kesabaran, ketaatan, dan keteguhan iman Nabi Ismail AS, kita diajarkan bahwa pendidikan sejati lahir dari proses pengorbanan, keikhlasan, kepatuhan, dan cinta kepada Allah SWT.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.