Oleh : Dr. KH. Ali Nurdin, MA
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) didirikan di atas fondasi kemajemukan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Kebhinekaan ini adalah anugerah sekaligus tantangan. Bela negara bukan hanya tentang angkat senjata, melainkan juga menjaga keutuhan dan stabilitas sosial. Inti dari menjaga keutuhan bangsa yang majemuk adalah melalui praktik nyata persaudaraan (ukhuwah) dan toleransi (tasamuh). Persaudaraan, baik ukhuwah imaniyah (sesama mukmin) maupun ukhuwah wathaniyah (sesama warga bangsa), serta sikap toleran terhadap perbedaan adalah manifestasi tertinggi dari kesadaran berbangsa dan bernegara yang selaras dengan nilai-nilai luhur agama. Bagaimana konsep persaudaraan (ukhuwah) dan toleransi (tasamuh) dipandang dalam ajaran Islam (Al-Qur'an dan Hadis)? Bagaimana menjaga persaudaraan dan bersikap toleran dapat diimplementasikan sebagai wujud nyata aksi bela negara? Mari bersama kita mencari jawaban dalam sumber agama, al-Qur’an dan hadis.
Konsep Persaudaraan (Ukhuwah)
Persaudaraan dalam Islam memiliki cakupan yang luas. Pertama, Persaudaraan sesama umat manusia universal. Pada mulanya manusia adalah satu. Kondisi satu umat dan satu tujuan hidup ini sebenarnya juga merupakan keinginan manusia sepanjang masa dari dahulu hingga sekarang. Hal ini menunjukkan dan menjadi kewajiban bersama untuk mewujudkan persaudaraan serta persatuan dan kesatuan antar umat manusia demi mencapai kehidupan yang damai di muka bumi. Dalam konteks ke Indonesia menjadi sangat penting karena Indonesia negara yang sangat majemuk dalam berbagai aspeknya.
Penegasan bahwa pada mulanya manusia adalah umat yang satu juga disebutkan pada beberapa ayat yang lain, diantaranya Surah al-Anbiya’/21 ayat 92 :
اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ
Artinya: “Sesungguhnya ini (agama tauhid) adalah agamamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu. Maka, sembahlah Aku”.
Demikian juga pada surah al-Mu’minun/23 ayat 52 :
وَاِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ
Artinya: “Sesungguhnya (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Akulah Tuhanmu. Maka, bertakwalah kepada-Ku.”
Kata umat dalam kedua ayat ini dipahami sebagai agama tauhid. Namun demikian spirit dari penggunaan redaksi pada kedua ayat di atas bahwa pada mulanya manusia terikat dalam satu akidah yang sama dan inilah yang menjadi misi semua rasul yang diutus Allah swt yaitu menyampaikan risalah tauhid. Dan itu berarti mengandung spirit untuk tetap menjaga persaudaraan, persatuan dan kesatuan diantara umat manusia.
Qur'an Surah an-Nisa’/4 ayat 1 :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.143) Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Para ulama tafasir ketika menjelaskan frasa :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu”, menyatakan bahwa kondisi khusus di mana Allah subhanahu wata'ala merupakan Zat yang menciptakan manusia dari satu jiwa merupakan faktor yang karenanya manusia wajib menaati segala perintah-Nya dan menjauhi dari bermaksiat kepadanya.
Banyak argumentasi yang dapat digunakan untuk menjelaskannya secara ideal. Di antaranya adalah, bahwa penciptaan seluruh manusia dengan beragam keunikannya masing-masing dari asal satu jiwa sangat jelas menunjukkan kesempurnaan kuasa-Nya.
Yaitu dari sisi andaikan penciptaan manusia terjadi berdasarkan proses thabi’i (alami) dan berdasarkan kekhasannya, maka semua keturunan yang dilahirkannya semestinya juga akan sangat mirip sifatnya, bentuknya, dan tabiat tahu sifat alaminya.
Karenanya, ketika faktanya kita lihat masing-masing manusia ada yang berkulit putih, hitam, kemerah-merahan, dan kecoklat-coklatan; ada yang bagus dan ada yang buruk; ada yang tinggi dan ada yang pendek; semua itu menunjukkan bahwa Zat yang mengatur penciptaan dan yang menciptakannya adalah Zat yang maha berbuat dan berkedaulatan penuh atau sangat independen.
Dari uraian tersebut dapat dipetik pelajaran tentang pentingnya manusia terus berusaha menjaga persaudaraan, persatuan dan kesatuan, karena meskipun manusia berbeda dalam banyak aspeknya namun mereka berasal dari keturunan yang sama.
Qur'an Surah al-Hujurat/49 ayat 13 :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti”.
Para ulama tafsir sepakat bahwa ayat ini dan juga surah al-Hujurat secara keseluruhan tergolong madaniyyah (turun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Hijrah), yang ciri utamanya adalah panggilan kepada orang-orang yang beriman.
Namun pada ayat ini dimulai dengan wahai manusia. Ini untuk menunjukkan universalitas pesan yang disampaikan. Ayat ini menghapus kasta dan fanatisme suku dalam masyarakat Arab. Hal ini menegaskan kembali bahwa sebagai hamba Allah bukan nasab, harta, bentuk rupa atau status pekerjaan yang menentukan keutamaan hamba Allah, tetapi ketakwaan. Dan ketakwaan itu tidak bisa dibeli atau diraih dengan mengandalkan keutamaan nasab, suku atau marga, tapi dengan amal shalih.
Seseorang terlahir dari orang tua yang berlatar belakang suku bangsa, agama, dan budaya apapun bukanlah pilihannya melainkan ketetapan-Nya. Dalam hal ini seseorang tidak bisa memilih. Hal ini juga diisyaratkan dalam Qur'an surah al- Qashash/28 ayat 68 :
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ وَيَخْتَارُ ۗمَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۗسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Artinya: “Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”.
Sungguh tepat pesan Allah subhanahu wata'ala pada ayat 13 surah al-Hujurat tersebut; agar tetap tercipta kehidupan yang harmonis, dalam bingkai keragaman kata kuncinya adalah lita’arofu saling mengenal, saling memahami dan akhirnya akan lahir sikap saling mengasihi dan melindungi. Inilah pilar utama terciptanya persatuan dan kesatuan.
Serangkaian ayat-ayat di atas dapat dimaknai sebagai petunjuk agar manusia menjaga persaudaraan, persatuan dan kesatuan secara universal.
Kedua, Persaudaraan sesama muslim atau persaudaraan, persatuan dan kesatuan di internal umat Islam. Dalam konteks keIndonesiaan ini juga tidak kalah pentingnya. Kalau umat Islam Indonesia dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan maka sebagai penduduk mayoritas otomatis akan memberi dampak signifikan bagi Indonesia yang lebih baik.
Qur'an Al-Hujurat/49 ayat 9 - 10 :
وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ,اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
Artinya: “Jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, perangilah (golongan) yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), damaikanlah keduanya dengan adil. Bersikaplah adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil. ng mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati”.
Konsep Toleransi (Tasāmuh)
Toleransi adalah kesediaan menghormati dan menghargai keyakinan, pendapat, dan perilaku yang berbeda dari diri sendiri. Dalam konteks kebangsaan, ini berarti menghormati hak setiap warga negara untuk menjalankan keyakinan dan budayanya.
Mengenai kebebasan beragama, Allah subhanahu wata'ala berfirman: (yang artinya) “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kāfirūn [109]: 6)
Ayat-ayat ini menetapkan prinsip fundamental bahwa dalam hal akidah dan ibadah, tidak ada toleransi yang berarti pencampuran atau pemaksaan; sebaliknya, yang ada adalah
penghormatan dan pengakuan atas batas-batas keyakinan masing-masing. Demikian juga dalam hadis Rasulullah.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata; ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau bersabda: “Al-Hanīfiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran/mudah)” (HR. Bukhari dan Ahmad).
Dari Ibnu Abbas, ia berkata; ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau bersabda: “Al-Hanīfiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran/mudah)” (HR. Bukhari dan Ahmad).
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kemudahan (samhah) dan jauh dari kesulitan serta pemaksaan, menjadi teladan bagi sikap toleran dalam interaksi sosial.
Menjaga Persaudaraan dan Toleransi sebagai bentuk nyata Aksi Bela Negara
Persaudaraan dan Toleransi sebagai Ketahanan Sosial. Bela negara adalah mempertahankan eksistensi bangsa dan negara. Ancaman terhadap eksistensi kini seringkali berupa perpecahan sosial akibat konflik SARA, ujaran kebencian, dan radikalisme.
- Mencegah Disintegrasi Sosial: Persaudaraan (ukhuwah wathaniyah) menciptakan ikatan emosional antara warga negara, yang secara efektif menangkis upaya pihak luar atau dalam yang ingin memecah belah bangsa. Tanpa persaudaraan yang kuat, potensi konflik internal menjadi tinggi, dan ini adalah titik lemah pertahanan negara.
- Memperkuat Kohesi Nasional: Toleransi menciptakan ruang bagi dialog dan kerja sama lintas perbedaan. Ketika setiap warga negara merasa dihargai dan diakui hak-haknya, loyalitas terhadap negara akan menguat. Ini adalah investasi strategis dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan.
Implementasi Nyata Aksi Bela Negara
Menjaga persaudaraan dan toleransi diimplementasikan melalui aksi-aksi nyata berikut: Sikap Adil (Al-’Adl) kepada Semua Warga. Bela negara diwujudkan dengan memastikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila. Keadilan menghilangkan jurang pemisah dan bibit perpecahan.
Melawan Ekstremisme dan Radikalisme: Gerakan radikal dan ekstremis seringkali muncul dari semangat intoleransi dan antipati terhadap perbedaan. Aksi bela negara di sini adalah dengan menyebarkan narasi moderasi beragama (wasathiyyatul Islam) yang menekankan persaudaraan dan toleransi, sesuai dengan ajaran Al-Hanifiyyah As-Samhah.
Pada surah al-Hujurat ayat 13 di atas, Ayat ini secara eksplisit menjadikan perbedaan suku dan bangsa sebagai sarana untuk ta’aruf (saling mengenal), yang merupakan langkah awal menuju persaudaraan yang kokoh dan aksi bela negara yang inklusif.
Akhirnya, Menjaga persaudaraan (ukhuwah) dan bersikap toleran (tasamuh) adalah ajaran fundamental dalam Islam yang memiliki relevansi langsung dengan aksi bela negara di Indonesia. Persaudaraan, baik di tingkat internal umat maupun antarwarga negara, berfungsi sebagai perekat sosial yang menjaga persatuan. Toleransi menjamin kebebasan dan hak-hak dasar setiap warga, yang pada akhirnya memadamkan potensi konflik. Dengan mengamalkan kedua nilai ini, umat beragama secara aktif terlibat dalam menjaga stabilitas dan keutuhan NKRI, membuktikan bahwa iman dan kewarganegaraan dapat berjalan seiring dalam aksi nyata membela negara.