Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Istiqlal: Meneladani dan Menghargai Jasa serta Semangat Heroisme para Pahlawan

Admin 07 Nov 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. H. Darwis Hude, MA

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa memelihara dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala dengan sebenar-benarnya takwa. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa berada di jalan-Nya, menjalankan segala perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya.

Hari ini, izinkanlah khatib mengangkat tema Meneladani dan Menghargai Jasa serta Semangat Heroisme Para Pahlawan. Para pahlawan adalah insan-insan mulia yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta, serta segala kenyamanan hidup, demi tegaknya kehormatan, kemerdekaan, kebebasan, serta kebaikan bangsa dan masa depan kedaulatan negeri tercinta. 

Mereka hadir dari berbagai kalangan dan latar belakang berbeda, namun disatukan oleh sebuah tekad: membela dan membebaskan tanah air dari penjajahan dan kezaliman serta menegakkan kebenaran dan keadilan.

Di dalam Al-Qur’an, kita temukan banyak kisah tentang para pejuang dan pahlawan iman, seperti Nabi Ibrahim a.s. yang tegar dalam menghadapi berbagai cobaan dari tirani Namrudz, Nabi Musa a.s. yang berani melawan kezaliman Raja Diraja Fir’aun untuk membebaskan bangsanya (Bani Israil), begitu pula kelompok muda Ashabul Kahfi, dan sederet nama sampai para sahabat-sahabat Nabi saw. yang rela berkorban demi menegakkan agama Allah dan membebaskan manusia dari perbudakan, penjajahan, dan kezaliman. Semua kisah tersebut menjadi cermin bagi kita untuk meneladani keberanian, keikhlasan, dan semangat juang yang tak pernah padam.

Kemuliaan itu senantiasa terpatri pada goresan tinta emas tentang semangat heroisme para pejuang tersebut meskipun jasadnya telah berkalang tanah. Karena itu, Al-Qur’an menggambarkan mereka senantiasa tetap hidup selamanya. 

Salah satu diantara firman Allah subhanahu wata'ala  tentang status kemuliaan ini terdapat pada Surah Ali ‘Imran/3: 169, Allah menjelaskan,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ

“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.”

Dalam catatan kaki terjemahan Kementerian Agama dijelaskan bahwa maksud ayat itu adalah hidup di alam yang lain, bukan di alam dunia. Mereka mendapatkan berbagai kenikmatan di sisi Allah Swt. meski hanya Allahlah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup di alam lain. 

Hal tersebut tentu sangat wajar karena mereka telah mengorbankan segalanya untuk sebuah aksi luar biasa dalam menumpas penjajahan, kezaliman, kesewenang-wenangan, dan penindasan terhadap kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam Islam. Mereka berjuang bukan untuk dirinya, melainkan demi generasi penerus, termasuk kita yang hari ini menikmati kemerdekaan dan merasakan kehormatan bangsa.

Begitu mulianya para pahlawan yang telah gugur sebagai syuhada mereka akan selalu bersama, atau paling tidak, telah disebut secara berurutan oleh Al-Qur’an dengan orang-orang yang telah mendapat anugerah luar biasa lainnya. Hal itu dijelaskan di dalam firman Allah Surah An-Nisa’/4: 69 sebagai berikut.

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Pahlawan adalah mereka yang berjuang di jalan Allah, baik dengan kekuatan fisik, ilmu, maupun harta. Mereka adalah pelita penerang di tengah gelapnya zaman. 

Semangat heroisme sebagai teladan dari para pahlawan tentu saja bukan sekadar keberanian di medan perang, tapi juga kegigihan dalam memperjuangkan keadilan, persatuan, dan kemaslahatan umat sebagai kontribusi positif dalam mengisi kemerdekaan yang telah dinikmati bersama. 

Ada beberapa turunan dari sikap heroisme yang harus diwujudkan dalam mengisi kemerdekaan, antara lain:
⦁ Sikap dan nilai-nila kejuangan yang terus menggelorakan perdamaian dan cinta dimanapun ia berada. Ia menebarkan cinta dan kasih sayang terhadap semua makhluk ciptaan Sang Kekasih, Khaliqul ‘Alam. Mereka yakin betul, apabila seorang hamba mencintai dan menyayangi sesamanya maka ia akan dicintai dan disayangi pula oleh Allah. Rasulullah saw. bersabda:

الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ

Orang-orang yang senantiasa mengasihi sesamanya akan dikasihani pula oleh Yang Maha Rahman, Allah Yang Maha Agung. Maka oleh karena itu, sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka engkau akan disayangi Yang Di Langit. (Hadis riwayat Abu Dawud, Tirmizi, dan Ahmad)

⦁ Sikap dan nilai-nilai kejuangan yang terus mengkampanyekan dan mendedikasikan diri dalam pemeliharaan lingkungan alam tempat kita hidup bersama. Pantang menyerah dalam mencegah terjadinya kerusakan (fasad) pada alam, eksploitasi berlebihan (israf), dan tabzir yang merugikan generasi umat manusia, pada saat ini dan masa mendatang. 

Allah subhanahu wata'ala  telah menciptakan alam semesta ini dengan sangat sempurna, dengan ekosistem yang rapi, sunnatullah yang sangat stabil, sehingga tak boleh diganggu equilibriumnya. Cermati Surah Al-A’raf/7: 56 sebagai berikut.

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”

⦁ Sikap dan nilai-nilai kejuangan yang terus memberantas kebodohan dan keterbelakangan. Ia menjadi qudwah hasanah atau pionir dalam memberikan pencerahan (enlightenment) dan literasi ilmu pengetahun yang bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia lahir dan batin. 

Generasi umat manusia tak boleh dibiarkan lemah dari sisi akidah, pengetahuan, ekonomi, sosial, dan segala macam keterbelakangan. Hal ini diwanti-wanti oleh Al-Qur’an jangan sampai umat manusia yang hidup hari ini meninggalkan generasi yang lemah dari segala aspek kehidupannya. Surah An-Nisa’/4: 9 menjelaskan hal itu.

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).

⦁ Dan tentu masih banyak aspek lain yang harus diperjuangan dalam rangka mengisi kemerdekaan sebagai warisan heroik dari para pejuang pendahulu kita.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita renungkan, sudahkah kita menghargai jasa dan perjuangan mereka? Sudahkah kita berusaha meneladani semangat mereka dalam kehidupan sehari-hari? 

Jangan sampai kita menjadi generasi yang melupakan sejarah, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, dan terus berupaya melanjutkan semangat heroiknya dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia.

Akhirnya, mari kita semua bersama-sama mendoakan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah mereka, mengampuni segala dosa-dosanya, serta menempatkan mereka di surga bersama para syuhada dan orang-orang saleh. 

Selain itu, mari kita jadikan semangat heroisme para pahlawan sebagai inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita jadi pahlawan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa, sekecil apapun kontribusi yang bisa kita lakukan. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (H.R. Ahmad)

Ungkapan bijak yang dapat dipetik dari hadis ini adalah bahwa menjadi pahlawan tidak harus berperang, tetapi cukup dengan memberikan manfaat, menebar kebaikan, cinta tulus, menjaga kerukunan di tengah masyarakat majemuk, dan selalu berbuat baik sekecil apapun wujudnya. Wallahu a’lam.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.