Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Ibadah Haji dan Pengaruhnya Terhadap Kesalihan Sosial Global

Admin 01 Jul 2024 Warta Istiqlal

(Intisari Khutbah Jum’at, 21 Dzulhijjah 1445 H / 28 Juni 2024 M)

Oleh : Assoc. Prof. Dr. Muhammad Hariyadi, M.A. (Ketua Program Studi S3 Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Hadirin yang dimuliakan Allah. Haji merupakan ibadah paripurna, yang menjadi rangkaian terakhir dari rukun Islam yang lima. Hal itu tidak lain, karena ibadah haji menggabungkan antara manisfestasi tauhid dalam ritual syahadat, shalat, puasa dan zakat, sehingga kesempurnaan ritual haji menggambarkan kesempurnaan amaliyah kita dalam bersyadat, shalat, puasa dan zakat.

Oleh karenanya menjadi masuk akal, ketika Allah subhanahu wata'ala memerintahkan manusia untuk menjalankan ibadah haji, redaksi yang digunakan adalah وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ (dan sempurnakanlah haji dan umrah semata-mata kerena Allah), karena kalimat “sempurnakan” mengandung makna ritual yang sudah biasa dilakukan dan kali ini minta disempurnakan.

Karena itu pulalah, maka ibadah yang paripurna ini seyogyanya memberikan pengaruh yang juga paripurna bagi pribadi yang melaksanakannya, sehingga seseorang yang telah selesai menjalankan ibadah haji seyogyanya menjadi lebih luas cakrawala pandangnya, lebih enjoy dalam menghadapi aneka persoalan, lebih bijaksana dalam menetapkan segala sesuatu, dan menjadi gambaran sosok pribadi yang paripurna (insan kamil).

Ibadah haji juga merupakan ibadah global dan internasional. Ia dilakukan di global village yang bernama ummul qura, atau Mekkah yang menjadi tempat pertemuan tahunan terbesar seluruh umat muslim di dunia; yang bahkan pada zaman dahulu mampu melahirkan para pembaharu Islam di pelbagai negara; dan menjadi penggerak amar ma’ruf nahi mungkar melawan kolonialisme dunia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ اُمَّ الْقُرٰى وَمَنْ حَوْلَهَاۗ وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ وَهُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحٰفِظُوْنَ

Artinya: "Ini (Al-Qur’an) adalah kitab suci yang telah Kami turunkan lagi diberkahi yang membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar engkau memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Orang-orang yang beriman pada (kehidupan) akhirat (tentu) beriman padanya (Al-Qur’an) dan mereka selalu memelihara salatnya." (QS. Al-An‘ām  [6]:92)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ

Artinya: "Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah)107) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam." (QS. Āli ‘Imrān [3]:96)

Tidak ada syiar agama yang monumentalnya melebihi syiar ibadah haji. Tidak ada peribadatan yang dahsyatnya dan dampaknya melebihi ibadah haji.

Oleh sebab itu, para hujjaj yang telah menjalankan ibadah haji, sesungguhnya telah memiliki pengalaman internasional, bukan saja dalam sisi peribadatan yang dilakukan di tempat internasional, melainkan juga dalam hubungan kamanusian global antar bangsa, sehingga dampaknya para hujjaj seharusnya mampu membawa isuisu lokal dan nasional menjadi isu yang terselesaikan dengan dukungan masyarakat global dan memberi solusi terhadap isu-isu internasional kekinian.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Haji adalah ibadah spiritual yang syarat dengan sisi kemanusiaan dan ketuhanan. Dari keberangkatan hingga kepulangan, haji bukanlah ibadah sendirian, melainkan ibadah komunal yang meniscayakan kerjasama kemanusiaan pada tingkat lokal, nasional, bilateral dan multilateral.

Satu demi satu manasiknya pun dilakukannya dengan cara jamaiyah, bukan fardiyah, sehingga akan selalu berkaitan dan bersentuhan dengan jamaah dalam setiap waktu, tempat dan keadaan. Pada saat yang sama, penegasan pelestarian bertauhid :

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya: "(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.58) Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ,59) berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Al-Baqarah  [2]:197)

menghiasi diri dengan ketakwaan serta pelarangan keras atas penghinaan, pengucapan kata kotor dan bersilang lidah menjadi syarat wajib yang mengiringi spiritualitas ibadah haji, agar tujuan penggabungan spiritualitas kemanusiaan dan ketuhanan dalam membangun idealitas kemasyarakatan yang menyemaikan kebajikan dan menolek keburukan dapat terimplementasikan.

Haji adalah juga napak tilas perjalanan spiritual perjuangan Nabi Ibrahim alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menegakkan kalimat tauhid.

Kesucian kota Makkah, keindahan Ka’bah, ketegaran Arafah, Mina dan Muzdalifah serta kesyahduan kota Madinah adalah tempattempat syiar yang mampu mengetarkan hati, meluluhkan jiwa, membuat mata menangis dan menjadikan pikiran melayang jauh pada sosok manusia sempurna yang mampu membebaskan kota Makkah dan Madinah dari kekufuran dan menjadi suri teladan bagi seluruh umat manusia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Aḥzāb [33]:21)

Napak tilas perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam harus mampu menjadi spirit perjuangan amar ma’ruf nai munkar para Jemaah haji dalam memperjuangkan tantangan yang di hadapi.

Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah. Semua penggambaran tentang ibadah haji tersebut, pada intinya memberikan penegasan kepada kita semua bahwa ibadah haji mengandung elan vital transformasi pribadi dan sosial dalam kehidupan.

Jika ibadah haji sebagai ibadah paripurna dapat dimaknai dengan sosok pribadi dalam peribadatan dan hubungan sosial kemasyarakatan. Jika globalitas dan internasionalisasi haji dapat dimaknai dengan globalitas cakrawala pemikiran dan perhatian pada peningkatan grade internasional.

Jika ibadah haji mampu menggabungkan idealitas spiritual kemanusiaan dan ketuhanan, dan jika napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menginspirasi dan menjadi spirit perjuangan amar ma’ruf nahi munkar kekinian, maka disitulah substansi dari haji mabrur yang balasannya tidak lain adalah surga.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجَّةُ الْمَبْرُورَةُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya: “Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR An-Nasa’i)

(FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.