Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Zuhur Pilihan: Nominator Pewaris Surga Firdaus

Admin 29 Nov 2024 Warta Istiqlal

(QS. Al Mu’minun : 1-11; Tafsir Ibnu Katsir)
Oleh : Dr. Budi Utomo, MA.

 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kajian ini membahas sifat-sifat orang beriman yang akan menjadi penghuni surge Firdaus. Allah Subhanahu wa Ta’ala  menjelaskan perinciannya dalam:
{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Gambaran Surga Yang Allah Janjikan

1. Orang Yang khusyuk dalam shalat
Ciri pertama orang yang telah beruntung, berbahagia, dan beroleh keberhasilan mereka yang beriman lagi mempunyai ciri khas seperti berikut, yaitu:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ

Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya” (QS. Al-Mu’minun : 2)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Khasyi'un," bahwa mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah lagi tenang. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan Az-Zuhri. Telah diriwayatkan dari Ali ibnu Abu Talib radhiallahu anhu bahwa khusyuk artinya ketenangan hati. Hal yang sama dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha'i. Al-Hasan Al-Basri mengatakan, ketenangan hati mereka membuat mereka merundukkan pandangan matanya dan merendahkan dirinya.

Khusyuk hanya dapat dilakukan oleh orang yang memusatkan hati kepada shalatnya, menyibukkan dirinya dengan shalat, melupakan hal yang lainnya dan lebih baik mementingkan shalat daripada hal lainnya. Dalam keadaan seperti ini barulah seseorang dapat merasakan ketenangan dan kenikmatan dalam shalatnya

2. Orang Yang Berpaling Dari Hal Tak Berguna
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ

Artinya : “Dan orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (QS. Al-Mu’minun : 3).

Laghwu adalah hal-hal yang batil yang juga mencakup kemusyrikan dan kemaksiatan. Mencakup pula semua perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, sebagaimana dalam ayat : "dan apabila mereka bersua dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya" (QS. al-Furqan : 72).

3. Orang Yang Menunaikan Zakat/Menjaga Kesucian Jiwa
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فٰعِلُوْنَ ۙ

Artinya : “orang-orang yang menunaikan zakat” (QS. Al-Mu’minun : 4)

Menurut kebanyakan ulama, makna yang dimaksud dengan zakat dalam ayat ini ialah zakat harta benda, padahal ayat ini adalah ayat Makkiyyah; dan sesungguhnya zakat itu baru diwajibkan setelah di Madinah, yaitu pada tahun dua Hijriah. 

Dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud dengan zakat dalam ayat ini ialah zakatun nafs (membersihkan diri) dari kemusyrikan dan kekotoran. Namun bisa juga diartikan bahwa makna yang dimaksud adalah kedunya, yaitu zakat jiwa dan zakat harta. Karena sesungguhnya termasuk di antara zakat ialah zakat diri (jiwa), dan orang mukmin yang sempurna ialah orang yang menunaikan zakat jiwa dan zakat harta bendanya.

4. Orang Yang Menjaga Kemaluan/Kehormatan Diri
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

 وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ
Artinya : “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya” (QS. Al-Mu'minūn : 5).

اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ
Artinya : ‘kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki.506) Sesungguhnya mereka tidak tercela (karena menggaulinya)” (QS. Al-Mu'minūn : 6).

فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ ۚ

Artinya : “Maka, siapa yang mencari (pelampiasan syahwat) selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Mu'minūn :7)

Artinya, orang-orang yang memelihara kemaluan mereka dari perbuatan yang diharamkan. Karena itu mereka tidak terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, seperti zina dan liwath (homo seksual dan lesbian). Hanya melakukannnya kepada pasangan yang sah. Imam Syafii dmenjadikan ayat ini sebagai dalil dari akan haramnya onani atau mastrubasi

5. Orang Yang Menjaga Amanah dan Perjanjian

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ

Artinya : “(Sungguh beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka” (QS. Al-Mu’minun : 8)  

Yakni apabila mereka dipercaya, tidak berkhianat; bahkan menunaikan amanat itu kepada pemiliknya. Apabila mereka berjanji atau mengadakan transaksi, maka mereka menunaikannya dengan benar, tidak seperti sikap orang-orang munafik yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai ciri khas berikut, melalui, sabdanya:
آيَةُ الْمُنَا فِقِ ثلَا ثٌ : إذَا حدَّ ث كَذَ بَ، وَإذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، واذا اؤتمن خَا نَ
Artinya : “Pertanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila berbicara, dusta; apabila berjanji, ingkar; dan apabila dipercaya, khianat”.

6. Orang Yang Menjaga Shalat
Firman Allah subhanahu wa ta’ala

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ

Artinya : “serta orang-orang yang memelihara salat mereka”. (QS. Al-Mu'minūn : 9)

Maksudnya, mengerjakannya secara rutin tepat pada waktunya masing-masing. Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing, menerangkan bahwa perbuatan yang paling Allah cintai adalah:

"الصلاة في أول وقتها"
Artinya : “Mengerjakan shalat pada permulaan waktunya”.

Allah subhanahu wata'ala membuka penyebutan sifat-sifat yang terpuji itu dengan menyebutkan shalat, kemudian diakhiri pula dengan penyebutan shalat. Hal ini menunjukkan keutamaan shalat. Setelah Allah menyifati orang-orang mukmin, bahwa mereka memiliki sifat-sifat yang terpuji dan melakukan perbuatan perbuatan yang terbaik, kemudian Allah subhanahu wata'ala berfirman: Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (QS. al-Mu’minun : 10-11). 

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
إذَا سأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَا سْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإ نَّهُ أَ عْلَى الجَنَّةِ وَأَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُأَنْهَا رُ الْجَنَّةِ، وَفَوْ قَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ
Artinya : “Apabila kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus itu adalah surga yang tertinggi dan paling pertengahan, darinya bersumberkan semua sungai surga, dan di atasnya terdapat 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Maha Pemurah”. (RST/HUMAS DAN MEDIA MASJID ISTIQLAL)

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.