Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Nasib Buruh dalam Perspektif Islam

Administrator 11 May 2026 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. Bukhori Sail Attahiry, Lc. MA.

Hari ini, Jum'at, 1 Mei 2026, masyarakat dunia memperingatinya sebagai Hari Buruh Internasional atau biasa dikenal dengan May Day. Peringatan ini sebagai salah satu bentuk kepedulian masyarakat dunia terhadap nasib buruh sebagai kaum lemah. Betapa seringnya kita melihat, mendengar, atau bahkan merasakan sendiri, perjuangan saudara-saudara kita para buruh, para pekerja. Mereka adalah tulang punggung perekonomian, nadi penggerak roda kehidupan, namun tak jarang nasib mereka terabaikan, hak-hak mereka terlantar, dan keringat mereka seolah tak dihargai. Hati kita tentu merasa pilu melihat realita ini.

Pertanyaannya, bagaimana Islam, agama yang sempurna ini, memandang nasib para buruh? Apakah Islam memiliki panduan yang jelas untuk menjaga martabat dan hak-hak mereka?

Islam adalah agama yang sangat menghargai kerja keras dan profesi apa pun selama itu halal. Tidak ada pekerjaan yang hina dalam pandangan Islam, kecuali kemalasan dan meminta-minta tanpa alasan syar'i. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah mengajarkan kepada kita tentang kemuliaan bekerja dengan tangan sendiri. Beliau bersabda:

Artinya: "Tidak ada seorang pun yang makan makanan lebih baik daripada makanan yang dimakan dari hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud Alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang yang mencari nafkah dengan keringatnya sendiri. Ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan, tapi juga tentang kehormatan dan martabat. Oleh karena itu, jika kerja keras saja sudah mulia, maka tentu nasib para pekerja yang bekerja keras itu haruslah dimuliakan pula.

Lalu, bagaimana Islam mengatur hubungan antara pekerja dan majikan? Allah dan Rasul-Nya telah memberikan garis besar yang sangat adil dan penuh kasih. Salah satu prinsip terpenting adalah kewajiban membayar upah pekerja dengan layak dan tepat waktu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: َ

Artinya: "Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering." (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Hadis ini bukan sekadar anjuran, melainkan perintah yang mengandung makna yang sangat dalam. ”Sebelum keringatnya kering” berarti segerakan pembayaran, jangan ditunda-tunda. Ini bukan hanya masalah waktu, tetapi juga soal menghargai jerih payah, energi, dan waktu yang telah dikorbankan seorang pekerja. Bayangkan, bagaimana hati seorang pekerja tidak bahagia dan bersemangat jika ia tahu haknya akan segera terpenuhi setelah ia menunaikan kewajibannya?

Penundaan upah, apalagi pemotongan sepihak atau pembayaran di bawah standar kelayakan, adalah bentuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat. Lebih dari sekadar upah, Islam juga menekankan pentingnya perlakuan yang baik terhadap para pekerja. Mereka bukan sekadar mesin produksi, melainkan manusia yang memiliki perasaan, keluarga, dan harga diri. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: "Saudara-saudara kalian (para pelayan/pekerja) adalah pembantu-pembantu kalian. Allah menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Maka barangsiapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaklah dia memberinya makan dari apa yang ia makan, memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah kalian membebaninya dengan pekerjaan yang ia tidak sanggup. Apabila kalian membebaninya dengan pekerjaan yang ia tidak sanggup, maka bantulah dia." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, hadis ini dengan gamblang menyamakan kedudukan pekerja sebagai "saudara". Ini adalah puncak dari penghormatan! Majikan diperintahkan untuk memberi makan dan pakaian yang setara dengan apa yang ia makan dan pakai. Lebih jauh lagi, majikan dilarang membebani pekerja dengan pekerjaan yang di luar batas kemampuannya. Dan jika memang terpaksa, maka majikan wajib turun tangan membantu.

Ini adalah manifestasi keadilan dan kasih sayang yang luar biasa, menjaga agar pekerja tidak merasa diperas, terhina, atau dieksploitasi. Ketika hak-hak para buruh ini dipenuhi, ketika mereka diperlakukan dengan adil dan manusiawi, apa yang akan terjadi? Tentu saja produktivitas akan meningkat. Semangat kerja akan membara. Rasa memiliki terhadap pekerjaan dan perusahaan akan tumbuh.

Ini bukan hanya menguntungkan pekerja dan majikan secara individu, tetapi juga akan membawa kemaslahatan besar bagi masyarakat dan negara secara keseluruhan. Ekonomi akan bergerak lebih dinamis, stabilitas sosial akan terjaga, dan keadilan akan merata. Inilah wujud nyata dari cinta tanah air, membangun negeri ini dengan dasar keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh elemen masyarakatnya, termasuk para buruh.

Sebaliknya, jika nasib buruh terabaikan, jika hak-hak mereka dicampakkan, maka bukan hanya kerugian di dunia yang akan mereka hadapi, tetapi juga kemurkaan Allah di akhirat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam keras para majikan yang zalim:

Artinya: "Allah berfirman: 'Ada tiga golongan yang Aku adalah musuh mereka pada hari kiamat: (1) Seseorang yang bersumpah atas nama-Ku lalu berkhianat, (2) Seseorang yang menjual orang merdeka (budak) lalu memakan harganya, dan (3) Se s eorang yang mempekerjakan seorang pekerja, lalu pekerja itu telah menunaikan pekerjaannya, namun ia tidak memberikan upahnya'." (HR. Bukhari)

Ancaman ini adalah peringatan yang sangat serius bagi siapa saja yang menggantungkan hidupnya dari keringat orang lain namun enggan menunaikan hak-hak mereka. Menjadi musuh Allah adalah kerugian yang tiada tara. Oleh karena itu, marilah kita jadikan ajaran Islam ini sebagai pedoman dalam setiap interaksi kita, baik sebagai majikan maupun sebagai pekerja.

Bagi para majikan, penuhilah hak-hak buruh dengan sempurna, perlakukan mereka dengan ihsan dan kasih sayang. Anggaplah mereka sebagai saudara, bukan sekadar alat. Bagi para buruh, tunaikanlah amanah pekerjaan dengan sebaik-baiknya, jujur, dan profesional. Dengan demikian, kita bersama- sama membangun sebuah tatanan masyarakat yang adil, makmur, dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga kita semua senantiasa berada di dalam bimbingan-Nya. Amiin.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.