Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Kabar Gembira

15 Sep 2026

Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain

Ada saatnya manusia tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia hanya membutuhkan satu kalimat yang membuatnya kembali memiliki harapan. Ada orang yang sedang berjuang dengan kesulitan hidup, ada yang kehilangan sesuatu yang dicintainya, ada yang lelah menunggu doanya terjawab, ada pula yang merasa perjalanan hidupnya begitu berat. 

Pada saat seperti itulah sebuah kabar gembira menjadi sangat berharga. Menariknya, Al-Qur’an berulang kali menggunakan ungkapan yang begitu indah “wa basysyir” (dan sampaikanlah kabar gembira). Seakan-akan Allah SWT mengajarkan kepada kita bahwa agama bukan hanya datang membawa perintah dan larangan, tetapi juga membawa harapan; bukan hanya mengingatkan manusia tentang kesalahan, tetapi juga menunjukkan bahwa pintu kebaikan selalu terbuka.

Allah SWT berfirman: “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata, ‘Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.’ Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang disucikan. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 25). 

Kabar gembira pertama adalah bahwa tidak ada iman dan kebaikan yang sia-sia. Mungkin amal kita tidak selalu dilihat manusia, mungkin kebaikan kita tidak selalu mendapatkan penghargaan, tetapi Allah melihatnya. Iman yang hidup melahirkan amal saleh, dan setiap amal saleh mempunyai tempat dalam perhitungan Allah.

Namun, kehidupan tidak selamanya berjalan sesuai keinginan. Ada waktunya kita diuji. Allah SWT berfirman, “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Perhatikanlah, Allah SWT menyebut kabar gembira justru ketika berbicara tentang ujian. Artinya, kabar gembira tidak selalu datang setelah persoalan selesai. Kadang-kadang ia hadir ketika air mata masih mengalir, ketika jalan keluar belum terlihat, dan ketika doa masih terus dipanjatkan. Kepada siapa kabar itu diberikan? kepada orang-orang yang sabar.

Siapakah mereka? Allah SWT melanjutkan, “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).” (QS. Al-Baqarah [2]: 156). 

Lalu Allah SWT menjanjikan, “Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 157)

Maka sabar bukan berarti tidak menangis, bukan pula berarti tidak merasakan sakit. Sabar adalah kemampuan menjaga hati agar tetap bersama Allah SWT ketika kehidupan tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan.

Kabar gembira juga diberikan kepada mereka yang memiliki hati yang lembut. Allah SWT berfirman, “Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).” (QS. Al-Hajj [22]: 34). 

Siapakah mereka? Allah SWT menjelaskan, “(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar, sabar atas apa yang menimpa mereka, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj [22]: 35)

Hati seorang mukmin bukan hati yang keras. Semakin dekat kepada Allah, semakin lembut hatinya; semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hatinya.

Dan ada satu pesan yang sangat indah bagi siapa pun yang sedang diliputi ketakutan dan kesedihan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat [41]: 30)

Ada dua beban besar yang sering memenuhi hati manusia: takut terhadap apa yang akan terjadi dan sedih terhadap apa yang telah terjadi. Al-Qur’an menjawab keduanya: “jangan takut dan jangan bersedih”. Masa depan berada dalam kekuasaan Allah SWT, dan masa lalu berada dalam ilmu serta kasih sayang-Nya.

Karena itu, janganlah kita menjadi orang yang membuat manusia kehilangan harapan kepada Allah SWT. Jadilah pembawa kabar gembira. Kepada orang yang sedang diuji, sampaikan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. 

Kepada orang yang pernah salah, bukakan jalan untuk kembali. Kepada orang yang sedang berbuat baik, kuatkan agar ia istiqamah. Kepada orang yang sedang kehilangan harapan, ingatkan bahwa pertolongan Allah SWT selalu mungkin datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Sebab dunia telah cukup penuh dengan berita yang membuat manusia takut, cemas, marah, dan bersedih. Maka kehadiran seorang mukmin semestinya menghadirkan sesuatu yang berbeda: keteduhan, pengharapan, dan keyakinan kepada Allah SWT. 

“Sampaikanlah kabar gembira”, karena boleh jadi, satu kalimat penuh harapan yang kita sampaikan hari ini menjadi sebab seseorang kembali tersenyum, kembali berdoa, kembali berbuat baik, dan kembali menemukan jalan menuju Allah SWT. Wallaahu A’lam.


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.