Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Hudan Lin-Naas, Cahaya Al-Qur’an yang Menuntun Manusia

Administrator 13 Jul 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain

Kita hidup pada zaman ketika ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui gawai kecil di tangan, manusia dapat mengakses ceramah, membaca ayat Al-Qur’an, mendengar hadis, mengikuti kajian, dan berdiskusi tentang agama kapan saja. Ini adalah nikmat besar yang patut disyukuri. Ilmu menjadi lebih mudah dijangkau, nasihat lebih cepat tersebar, dan dakwah dapat hadir melintasi batas tempat dan waktu.

Namun, di balik kemudahan itu, ada tantangan yang memerlukan perhatian sangat tinggi. Ruang digital keagamaan hari ini tidak selalu jernih. Hoaks, ujaran kebencian, provokasi, potongan dalil yang tidak utuh, dan informasi agama yang tidak otoritatif dapat tersebar dengan sangat cepat. Tidak sedikit orang membagikan pesan keagamaan tanpa memeriksa sumbernya. Ada pula yang menjadikan agama bukan sebagai jalan menumbuhkan kasih sayang, tetapi sebagai alat untuk menyerang, merendahkan, dan memecah belah.

Dalam situasi seperti ini, kita perlu kembali kepada Al-Qur’an sebagai hudan lin-nās, petunjuk bagi manusia. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil) … “ (QS. Al-Baqarah: 185). Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak cukup hanya memiliki akses kepada informasi. Manusia membutuhkan petunjuk. Sebab informasi dapat membuat seseorang tahu banyak hal, tetapi petunjuklah yang membuat seseorang berjalan ke arah yang benar.

Makna ini semakin terang dalam Al-Qur’an yang berbunyi: “Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, serta telah menurunkan Taurat dan Injil. sebelum (turunnya Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, dan menurunkan Al-Furqān (pembeda yang hak dan yang batil). Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi mereka azab yang sangat keras. Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit.” (QS. Ali ‘Imran: 3-5). Allah SWT menurunkan Al-Qur’an dengan hak, membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan sebelumnya telah menurunkan Taurat serta Injil sebagai petunjuk bagi manusia. Kemudian Allah menurunkan Al-Furqān, pembeda antara yang hak dan yang batil. Ini menunjukkan bahwa wahyu bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi juga memberi ukuran. Di tengah derasnya arus digital, kita membutuhkan ukuran itu: mana ilmu yang benar, mana pendapat yang bertanggung jawab, mana nasihat yang membawa rahmat, dan mana informasi yang hanya membakar emosi.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: “Mereka (Bani Israil) tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menurunkan kitab suci (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia? Kamu (Bani Israil) menjadikannya lembaran-lembaran lepas. Kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak diketahui baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” Katakanlah, “Allah.” Kemudian, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An‘ām: 91). Allah menegur orang-orang yang berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia, lalu menyebut kitab yang dibawa Nabi Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia. Wahyu adalah tanda kasih sayang Allah. Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa cahaya. Maka, ketika ruang digital menjadi gelap oleh kebencian, kebohongan, dan kebingungan, cahaya wahyu harus kembali dinyalakan.

Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam r.a:  “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang berat. Yang pertama adalah Kitab Allah; di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka ambillah Kitab Allah dan berpegangteguhlah kepadanya” (HR. Muslim). Hadits ini mengajarkan bahwa Al-Qur’an harus menjadi pegangan, termasuk dalam cara kita membaca, menilai, dan menyebarkan informasi keagamaan.

Dalam riwayat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah SAW juga bersabda “tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah SWT, membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya, melainkan turun kepada mereka ketenangan, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya. Majelis Al-Qur’an melahirkan sakinah, bukan kegaduhan; rahmat, bukan kebencian; kemuliaan, bukan kesombongan” (HR. Muslim).

Karena itu, solusi bagi ruang digital keagamaan adalah menghadirkan kembali adab Al-Qur’an. Pertama, biasakan “tabayyun” sebelum membagikan informasi. Kedua, rujuklah kepada sumber yang otoritatif dan ulama yang terpercaya. Ketiga, jangan memotong dalil untuk membenarkan emosi. Keempat, jadikan dakwah sebagai jalan rahmat, bukan arena permusuhan. Kelima, gunakan ruang digital untuk menyebarkan ilmu, ketenangan, dan persaudaraan.

Al-Qur’an sebagai “hudan lin-naas” mengajarkan bahwa petunjuk Allah SWT tidak hanya dibaca, tetapi harus menuntun cara kita berpikir, berbicara, berkomentar, dan bermedia. Di tengah derasnya informasi, jangan hanya menjadi penyebar pesan. Jadilah penjaga cahaya. Sebab siapa yang berjalan bersama Al-Qur’an, ia tidak hanya menemukan arah bagi dirinya, tetapi juga dapat menjadi penuntun kebaikan bagi manusia lainnya. Wallaahu a’lam.


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.