Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Labbaik Allaahumma Labbaik bukan sekadar lantunan talbiyah yang diucapkan jutaan jamaah haji ketika mengenakan ihram, melainkan pernyataan ketundukan total seorang hamba kepada panggilan Allah SWT. Kalimat itu mengandung makna kesiapan jiwa untuk meninggalkan kesombongan, permusuhan, prasangka, serta segala bentuk penyakit hati yang merusak persaudaraan manusia.
Ketika seorang muslim mengucapkan Labbaik, sesungguhnya ia sedang menyatakan bahwa dirinya siap memenuhi seruan Allah SWT sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an agar manusia datang berhaji dari berbagai penjuru dunia. Di tanah suci, seluruh manusia berdiri sejajar tanpa membedakan jabatan, kekayaan, bangsa, ataupun warna kulit. Inilah salah satu makna dari hakikat ibadah haji, yaitu ibadah yang menyatukan manusia dalam ikatan tauhid, persaudaraan, dan kedamaian.
Spirit tersebut ditegaskan Rasulullah SAW dalam Haji Wada' yang menjadi pesan agung bagi peradaban manusia. Dalam khutbah tersebut, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa darah, harta, dan kehormatan manusia adalah suci. Beliau juga menegaskan pentingnya persaudaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Pesan itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan Surah Al-Hujurat.
Pada ayat kesembilan, Allah memerintahkan kaum mukmin untuk mendamaikan dua kelompok yang bertikai dengan adil. Dalam Tafsir Al-Maraghi dijelaskan bahwa perdamaian harus ditegakkan demi menjaga keutuhan umat dan menghindarkan masyarakat dari kerusakan yang lebih besar.
Haji mengajarkan semangat yang sama, karena jutaan manusia berkumpul dalam satu ibadah dengan tujuan menghapus perpecahan dan menumbuhkan persatuan umat Islam. Harmoni umat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan, dan keadilan tidak akan berdiri tanpa ketakwaan kepada Allah SWT.
Selanjutnya, pada ayat kesepuluh Allah menegaskan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Menurut Tafsir Al-Maraghi, ukhuwah Islamiyah merupakan ikatan yang lahir dari keimanan dan harus diwujudkan dalam sikap saling menolong serta mendamaikan perselisihan. Nilai ini tampak nyata dalam pelaksanaan ibadah haji.
Jamaah dari berbagai negara saling membantu, berbagi makanan, menunjukkan jalan, dan menjaga satu sama lain meskipun berbeda bahasa dan budaya. Talbiyah Labbaik Allaahumma Labbaik menjadi simbol kesatuan hati seluruh umat Islam dalam penghambaan kepada Allah SWT. Dalam harmoni haji, manusia belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, melainkan jalan untuk saling mengenal dan saling menguatkan.
Ayat kesebelas Surah Al-Hujurat melarang manusia saling menghina, mencela, dan memanggil dengan gelar buruk. Tafsir Al-Maraghi menerangkan bahwa kebiasaan merendahkan orang lain lahir dari kesombongan dan merasa diri lebih mulia. Padahal, kemuliaan sejati hanya berada di sisi Allah. Dalam ibadah haji, pakaian ihram menjadi simbol penghapusan status sosial dan kebanggaan duniawi. Semua manusia memakai pakaian sederhana yang sama, sehingga tidak ada ruang bagi kesombongan dan penghinaan terhadap orang lain.
Rasulullah SAW dalam khutbah Haji Wada’ juga menegaskan bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, kecuali karena ketakwaannya. Dengan demikian, haji menjadi madrasah akhlak yang mengajarkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kemudian, ayat kedua belas melarang prasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan ghibah. Tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa prasangka dan ghibah merusak hubungan sosial serta menghancurkan persaudaraan. Haji mendidik manusia untuk menjaga lisan, kesabaran, dan kebersihan hati. Di tengah kepadatan jamaah, seseorang dituntut menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan mengedepankan kasih sayang.
Semua itu menjadi latihan spiritual agar manusia kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. Harmoni umat tidak hanya dibangun melalui perkataan, tetapi juga melalui pengendalian diri, empati, dan kemampuan menghargai sesama manusia. Puncaknya terdapat pada ayat ketiga belas Surah Al-Hujurat. Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling membenci.
Tafsir Al-Maraghi menekankan bahwa perbedaan merupakan sunnatullah yang harus melahirkan kerja sama dan persaudaraan. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh nasab, warna kulit, ataupun kedudukan, melainkan oleh ketakwaan. Pesan inilah yang menjadi inti khutbah Haji Wada’ Rasulullah SAW dan tercermin dalam kalimat Labbaik Allaahumma Labbaik. Talbiyah itu mengajarkan bahwa seluruh manusia adalah hamba Allah yang sama-sama memenuhi panggilan-Nya dengan hati tunduk, jiwa damai, serta semangat persaudaraan universal.
Oleh karena itu, ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi juga perjalanan moral dan spiritual menuju kematangan iman. Seorang haji yang memahami makna talbiyah akan membawa pulang nilai-nilai Al-Hujurat dalam kehidupan sehari-hari. Ia akan menjadi pribadi yang mencintai perdamaian, menjaga kehormatan sesama, menjauhi hinaan dan fitnah, serta menghormati perbedaan sebagai rahmat Allah SWT. Dalam Tafsir Al-Maraghi disebutkan bahwa masyarakat beriman yang kuat adalah masyarakat yang dibangun di atas keadilan, kasih sayang, dan akhlak mulia.
Karena itu, gema Labbaik Allaahumma Labbaik seharusnya tidak berhenti di Padang Arafah atau di sekitar Ka’bah semata, melainkan terus hidup dalam perilaku umat Islam di rumah, di masjid, di lingkungan sosial, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, “Haji Harmoni Umat” menjadi pesan abadi bahwa Islam hadir untuk menghadirkan persaudaraan, kedamaian, dan kemuliaan bagi seluruh manusia. Wallahu A’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.