Oleh : Dr. KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc., MA
Saudaraku seiman, saat ini kita sedang dalam suasana merayakan Hari Raya Idul Adha, hari di mana jutaan umat Islam di seluruh penjuru dunia menggemakan takbir, tahlil, dan tahmid, serta melaksanakan salah satu ibadah agung yaitu menyembelih hewan qurban. Ibadah qurban ini bukan sekadar ritual musiman yang hanya mengalir begitu saja tanpa makna.
Tidak. Di balik setiap tetes darah hewan qurban yang mengalir, di balik setiap helaan nafas tulus seorang hamba yang berqurban, terkandung hikmah- hikmah agung yang akan mengokohkan tauhid dan aqidah kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pertama dan yang paling fundamental, ibadah qurban adalah manifestasi nyata dari ketundukan dan kepasrahan mutlak kepada kehendak Allah. Ia adalah pengingat abadi akan kisah monumental Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail 'alaihissalam. Kisah ini bukan sekadar cerita dongeng, melainkan pelajaran tauhid yang paling mendalam.
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya, buah hati yang telah lama dinanti, bukan karena Allah membutuhkan darah atau daging, namun untuk menguji seberapa besar ketundukan dan kecintaan Nabi Ibrahim kepada-Nya.
Bayangkanlah, wahai saudaraku, betapa beratnya perintah itu. Namun, Nabi Ibrahim tidak sedikit pun ragu. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang lebih patut dicintai dan diutamakan melebihi kecintaan kepada Allah. Dan Nabi Ismail pun dengan jiwa yang lapang, pasrah sepenuhnya kepada kehendak Ilahi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al- Qur'an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
(QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]:102)
Kemudian Allah melanjutkan:
Artinya : Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaffat [37] : 103-107)
Dari kisah ini, kita belajar bahwa qurban adalah pelajaran tentang bagaimana menundukkan hawa nafsu, menanggalkan segala keterikatan duniawi, dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Bukan hewan yang menjadi tujuan, melainkan jiwa yang berkorban, ketaqwaan yang terpancar, dan keikhlasan yang teruji.
Kedua, ibadah qurban menegaskan pentingnya keikhlasan dan taqwa dalam beribadah. Allah tidak melihat rupa hewan qurban kita, tidak pula jumlah daging yang kita sembelih. Yang Allah lihat adalah hati kita, niat kita, dan sejauh mana taqwa kita kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin." (Qs. Al-Ḥajj [22]:37)
Ayat ini adalah inti dari hikmah qurban. Bukan darah dan daging yang sampai kepada Allah, melainkan "taqwa minkum" – ketakwaan dari kalian. Ini adalah penekanan mendalam pada aspek spiritual dan batiniah dari ibadah. Seorang hamba yang berqurban harus menghadirkan niat yang tulus karena Allah, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin disebut dermawan, apalagi sekadar ikut- ikutan. Inilah hakikat tauhid yang sebenarnya, memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata.
Ketiga, qurban adalah wujud syukur atas nikmat Allah dan pengagungan terhadap-Nya. Kita berqurban sebagai bentuk rasa terima kasih atas segala karunia yang tak terhingga, terutama nikmat iman dan Islam. Dengan menyembelih qurban, kita mengingat kebesaran Allah, Dzat yang Maha Memberi, Maha Kaya, dan Maha Berkuasa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
"Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!" (QS. Al-Kauṡar [108]:2)
Ayat yang singkat namun padat ini menghubungkan shalat, sebagai puncak ibadah fisik dan spiritual, dengan qurban, sebagai puncak ibadah harta dan pengorbanan. Keduanya adalah ekspresi syukur yang paling luhur kepada Allah. Dengan shalat kita menghadap dan memuji-Nya, dengan qurban kita memberikan sebagian harta terbaik kita di jalan-Nya. Ini adalah dua pilar penting dalam mengukuhkan tauhid dalam hati seorang mukmin.
Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang manusia mengamalkan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (hewan qurban). Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku- kukunya. Dan sesungguhnya darah itu benar-benar akan sampai kepada Allah pada suatu tempat sebelum jatuh ke bumi. Maka berlapang dadalah dengannya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadits ini menguatkan bahwa ibadah qurban adalah amalan yang sangat dicintai Allah. Ini adalah janji pahala dan motivasi bagi kita untuk menguatkan tauhid melalui pengorbanan yang tulus.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Ibadah qurban, dengan segala hikmahnya, sejatinya adalah madrasah tauhid. Ia mendidik kita untuk:
1. Mendahulukan perintah Allah di atas segalanya, bahkan di atas sesuatu yang paling kita cintai.
2. Memurnikan niat hanya untuk Allah, menyadari bahwa Dia Maha Melihat hati dan bukan sekadar melihat tampilan luar.
3. Bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dengan pengorbanan harta dan jiwa.
4. Meningkatkan ketaqwaan, yang merupakan bekal terbaik menuju akhirat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing hati kita untuk memahami setiap hikmah di balik syariat-Nya, mengokohkan tauhid kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan bertaqwa. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.