Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Mari Menuju Kebahagiaan

Admin 07 Nov 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain

Betapa beruntungnya orang-orang yang dianugerahi iman dan Islam. Mereka hidup di bawah cahaya petunjuk, di tengah dunia yang gelap oleh kebingungan. Mereka memiliki arah ketika yang lain tersesat, dan memiliki harapan ketika yang lain kehilangan makna. Kebahagiaan mereka bukan karena banyaknya yang dimiliki, tetapi karena hati mereka mengenal Allah SWT, tunduk kepada-Nya, dan percaya kepada janji-Nya. Inilah keberuntungan yang sejati, yang tidak lekang oleh waktu dan tidak terguncang oleh keadaan.

Setiap hari, dari menara-menara masjid di seluruh penjuru bumi, terdengar panggilan yang menggetarkan hati manusia: “hayya ‘alal-falah”, marilah menuju kebahagiaan, marilah menuju keberuntungan. Seruan ini tidak sekadar panggilan menuju shalat, tetapi panggilan menuju hidup yang berarti. 

Suara adzan memecah kesibukan dunia yang melalaikan, mengingatkan manusia bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada tumpukan harta, sorotan pujian, atau gemerlap jabatan, melainkan pada saat seorang hamba menundukkan hatinya di hadapan Allah SWT. Adzan adalah panggilan cinta dari Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang penat oleh dunia, agar mereka kembali kepada kedamaian yang abadi.

Kata falah dalam seruan itu memiliki kedalaman makna yang indah. Ia berasal dari akar kata ف ل ح (fa-la-ha), yang berarti berhasil, beruntung, dan menang. Dalam bahasa Arab klasik, fallah berarti petani, sosok yang bekerja dengan sabar, membelah tanah, menanam, merawat, dan menanti hasilnya dengan harap dan doa. 

Begitu pula hidup seorang mukmin, ia menanam amal, memelihara iman, menahan diri dari hawa nafsu, lalu menanti panen kebahagiaan di hadapan Allah SWT. Maka falah adalah buah dari kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan seorang hamba dalam menapaki jalan kebenaran.

Al-Qur’an menegaskan rahasia kebahagiaan itu dengan kalimat yang indah: 

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ (10)

Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minūn/23:1–2). Inilah inti dari kebahagiaan sejati. Falah bukan sekadar hasil dari perjuangan lahir, melainkan dari ketenangan batin. Ia berawal dari shalat yang khusyuk, perjumpaan antara hati yang tenang dengan Allah yang Maha Kasih. 

Maka ketika muadzin menyeru “hayya ‘alal-falah”, sejatinya ia sedang mengajak manusia untuk menjadi bagian dari mereka yang disebut Allah SWT sebagai al-muflihun, orang-orang yang beruntung karena hidupnya berpaut pada ibadah.

Namun kebahagiaan itu tidak akan lahir tanpa pembersihan jiwa. Allah SWT berfirman: “Qad aflaha man zakkāhā”, sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya. (QS. Asy-Syams/91: 9). Shalat yang kita tunaikan atas panggilan adzan bukan sekadar kewajiban, tetapi penyucian batin. Dalam rukuk, kita tunduk dari keangkuhan; dalam sujud, kita lepaskan beban dunia; dalam salam, kita berdamai dengan sesama. Setiap gerakan shalat adalah gerak menuju kebersihan hati, menuju falaḥ yang hakiki.

Namun waktu tidak pernah berhenti, dan manusia sering terseret olehnya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ashr: 

وَالْعَصْرِۙ (1) اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ (2)

Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian.” (QS. Al Asr ayat 1-2)

Kehidupan terus berjalan, dan siapa pun yang tidak mengisinya dengan iman dan amal, akan kehilangan segalanya. Karena itu Allah SWT menyambung ayat itu dengan pengecualian yang agung: 

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

"kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran." (QS. Al Asr ayat 3)

Maka ketika adzan memanggil kita, hayya ‘alal-falah adalah ajakan agar kita menyelamatkan waktu dari kesia-siaan, mengubah setiap detik menjadi ladang amal, agar hidup ini tidak berakhir dalam penyesalan.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan merasa qana‘ah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Muslim) Inilah falah yang dijanjikan Nabi SAW, Islam sebagai cahaya, kecukupan sebagai ketenangan, dan qana‘ah sebagai kebahagiaan sejati. Dalam hadits lain beliau bersabda: “Menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur; jika ditimpa kesulitan, ia bersabar.” (HR. Muslim)

Inilah kemenangan spiritual, kebahagiaan yang tidak bergantung pada situasi, melainkan pada hati yang yakin kepada Allah SWT. Dan tatkala beliau bersabda: “Dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i). Kita tahu, bahwa shalat adalah taman kebahagiaan bagi jiwa yang rindu Tuhan. Ia bukan beban kewajiban, tetapi pelabuhan rindu seorang hamba kepada Penciptanya. Maka manusia tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati sebelum ia mengenali hakikat dirinya, bahwa ia adalah ‘ābid, hamba Allah.
Allah berfirman: 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt/51:56)

Kebahagiaan sejati hanya muncul ketika manusia menjalankan fungsi teragungnya, mengabdi kepada Allah SWT dengan penuh cinta dan keikhlasan. Dalam ibadah, manusia menemukan kemerdekaan dari dunia; dalam sujud, ia menemukan makna keberadaannya; dan dalam doa, ia menemukan kedamaian yang tidak dapat digantikan oleh apa pun di dunia. Maka setiap kali adzan berkumandang, anggaplah itu bukan sekadar suara, tetapi sapaan lembut dari Allah SWT.  

Marilah kita menuju kebahagiaan, bukan kebahagiaan yang fana, tetapi kebahagiaan yang abadi, kebahagiaan seorang hamba yang mengenal Tuhannya dan hidup dalam cahaya-Nya.

Dan semoga kita termasuk dalam firman Allah SWT: 

وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah/2:5). 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.