Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Manusia, Toleransi, dan Perbedaan Agama

Admin 13 Sep 2024 Warta Istiqlal

Oleh : Minhajul Afkar, SH.I

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ

Artinya: "Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna." (QS. Al-Isrā' [17]:70)

Para ulama berbeda pandangan terkait bagaimana bentuk dan dengan apa Allah memuliakan manusia. Allah menjaga dan menjamin kemuliaan manusia, hak-hak manusia, menjadikan manusia sebagai khalifah (pengelola) di bumi, bahwa Allah memuliakan manusia dari sisi penciptaa-Nya.

Bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna, Imam Fakhruddin Al-Razi (544-704 H) dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib (Vol. 21, h. 13) menjelaskan perihal ayat ini dengan penjelasan yang sangat menarik. Menurutnya, manusia adalah komponen paling halus (jauhar) yang tersusun dari jiwa (nafs) dan jasmani (badan).

Lanjutnya, jiwa manusia adalah jiwa yang paling mulia yang ada di dunia (‘alam al-sufla) begitu juga dengan jasmani manusia.

Disamping lima ciri manusia makan (ightidza’), berkembang (al-numwu), berkembang biak (al-taulid), perasaan (al-hasasah), dan bergerak, manusia memiliki ciri khas lain, yaitu, kekuatan intelektual untuk mampu mengetahui hakikat sesuatu (alquwwah al-’aqilah al-mudrikah lihaqaiqi al-asyya’ kama hiya).

Kekuatan inilah yang menjadi tempat bersinarnya cahaya ma’rifat kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ ࣖ

Artinya: (Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.” (QS. Ṣād  [38]:26)

Manusia dengan makhluk Allah lainnya sangat berbeda, apalagi manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain, salah satunya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk penciptaan, namun kemuliaan manusia bukan terletak pada penciptaannya yang baik, tetapi tergantung pada; apakah dia bisa menjalankan tugas dan peran yang telah digariskan Allah atau tidak, bila tidak, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala kesengsaraannya.

Sedangkan toleransi berasal dari bahasa latin, “tolerare” yang berarti menahan diri, bersikap sabar, menghargai orang lain berpendapat lain, berhati lapang dan tenggang rasa terhadap orang yang berlainan pandangan atau agama.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia diterangkan bahwa toleransi adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri.

Sedangkan dalam islam terkait toleransi memiliki kesamaan arti dengan sebutan tasamuh, tasamuh berasal dari bahasa Arab yang artinya berlapang dada, toleransi. Selain itu tasamuh bisa berarti mentoleransi atau dapat menerima perkara yang ringan.

Menukil buku Quran Hadist oleh Muhaimin, tasamuh adalah sikap menerima perbedaan pendapat, pandangan, kepercayaan atau kebiasaan. Sikap tasamuh akan membawa pada suasana saling menghargai dan saling membantu.

Saiful Hambali dalam bukunya Eksistensi Beragama dalam Perspektif Psikologi menjelaskan, tasamuh merupakan sikap saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Dalam kehidupan sosial, manusia tidak seharusnya merendahkan suku bangsa, agama, atau kebudayaan suatu kelompok, apalagi menunjukkan sikap menghina, membenci, dan saling memusuhi.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Artinya : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terkait perbedaan agama, Islam telah mengatur. Bahwa sikap tasamuh memiliki batas yang telah digariskan, selama tidak terkait dengan ritual agama maka kita diperintahkan untuk saling menghargai, sebagai tamu, dalam bermuamalah. Apabila terkait agama dan ritual ibadah kita berpegang pada Qur'an surat al-Kafirun ayat 1 - 5. Wallahu a’lam.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.