Oleh : KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc., MA.
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata “Hubbul Watan Minal Iman” (Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman). Tanah air adalah hal yang paling berharga yang ada. Mencintai tanah air, melestarikannya, dan bekerja untuk membesarkannya adalah inti dari agama. Tidak ada agama yang menganjurkan mencintai tanah air dan mengabdikan diri untuk melayaninya seperti Islam. Tanah air memiliki hak atas setiap orang yang telah tinggal di tanahnya, menikmati naungannya, langitnya, meminum airnya, belajar di sekolahnya, dan menikmati karunianya. Para penyair, penulis, cendekiawan, dan orang bijak telah bernyanyi tentang cinta tanah air.
Beberapa dari mereka berkata: Mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Allah subhanahu wata'ala telah memerintahkan jihad untuk membela iman dan tanah air, untuk melindungi hak-hak tanah air. Tanah air adalah harta paling berharga yang ada. Hal ini ditegaskan oleh Al-Qur'an dan Sang Pencipta ketika beliau mengucapkan selamat tinggal kepada Mekkah: (Demi Allah, engkau adalah tanah Allah yang terbaik dan tanah Allah yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, aku tidak akan meninggalkannya.)
Dalam hadis lain, beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: (Betapa baiknya tanahmu dan betapa aku sangat mencintainya. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu, aku tidak akan menetap di mana pun selain di tempatmu.) Allah subhanahu wata'ala berfirman: (Sesungguhnya, Dia yang telah memerintahkan kepadamu Al-Qur'an pasti akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Katakanlah, "Tuhanku lebih mengetahui siapa yang memberi petunjuk dan siapa yang dalam kesesatan yang nyata) dan beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) yakin bahwa Allah subhanahu wata'ala akan mengembalikannya ke Mekkah dengan kemenangan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah kepergiannya dan menetap di Madinah, tidak melupakan tanah air pertamanya, melainkan terus menantikannya dan mengulang doa ini yang dipenuhi dengan cinta dan ketulusan. Beliau berdoa: Ya Allah, tanamkanlah cinta kami pada Madinah sebagaimana Engkau telah menanamkan cinta kami pada Mekah. Ini adalah semacam perjuangan psikologis untuk cinta tanah air meskipun beliau menetap di pengasingan.
Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Seorang Penyair kenamaan berkata tentang cinta tanah air: “Tanah airku, jika aku disibukkan dengan keabadian untuknya, Jiwaku akan memperjuangkannya dengan keabadian. Negaraku, cintanya ada di lidahku dan di darahku, Hatiku memuliakannya dan mulutku berdoa untuknya. Keharusan seseorang untuk mencintai terhadap tanah airnya adalah masalah yang tidak perlu penjelasan secara detil, karena kecintaannya ini adalah suatu kehormatan baginya dan gelar kemuliaan dan kebanggaan.
Seorang pemuda atau siapapun tidak dapat hidup tanpa tanah air, tanpanya ia akan kehilangan identitas dan kepribadiannya. Nabi Muhammad saw, yang pernah disusui oleh Sayyidah Halimah Al-Sadiah dari Bani Saad, suku tempat beliau tinggal untuk waktu yang lama di masa kecil dan sebagian masa mudanya, beliau menganggapnya sebagai sumber kebanggaan dan kehormatan, sehingga beliau biasa bersabda: “Akulah yang paling Arab di antara kalian... Akulah Quraisy... dan aku disusui di Bani Saad.”
Penyair berkata: “Negaraku, meskipun tidak adil bagiku, tetaplah aku sayang, Dan keluargaku, meskipun mereka kikir kepadaku, tetaplah terhormat. Jika aku menjual agamaku untuk tujuan duniawi, Dan jika aku mengikuti suatu tanah air, maka dua-duanya adalah kekufuran yang sama”.
Ikatan batin yang kuat seseorang terhadap tanah airnya, tanah tumpah darahnya dan temapt ia dibesarkan serta yang selama ini melindunginya, maka wajar, jika ia melimpahkan rasa keperpihakannya, kasih sayangnya, dan membelanya di saat-saat sulit.
Khalil Mutran berkata: Aku rela memberikan napasku tanpa harga Agar aku dapat melihatmu sebagaimana aku mencintaimu, tanah airku. Negaraku, kecintaanku padamu akan tetap ada dalam diriku cinta kasih yang tulus tak pernah putus. Maka mencintai Tanah Air adalah bagian dari ajaran Islam. Dan Mencintai Tanah Adalah tuntutan jiwa siapapun yang berakal sehat. Dirgahayu Negeriku Indonesia, Selamat Hari Ulang Tahun ke-80. Semoga menjadi Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur.