Oleh: KH. Muhammad Mahdi, MA
Kitab "Afatul Lisan" karya Imam Al-Ghazali, membahas tentang bahaya lisan dan pentingnya menjaga tutur bicara bagi setiap muslim. Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ: «قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ: «هَذَا»
"Dari Sufyan bin Abdullah At-Tsaqafi, ia berkata: Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang dapat aku jadikan pegangan.' Beliau menjawab: 'Katakanlah: Tuhanku adalah Allah, kemudian istiqamahlah.'
Aku bertanya lagi: 'Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan atas diriku?' Maka Rasulullah SAW memegang lisannya sendiri seraya bersabda: 'Ini.'" (HR. At-Tirmidzi no. 2410, Ibnu Majah no. 3972, dan Ahmad. Imam At-Tirmidzi menyatakan hadis ini Hasan Shahih).
Dengan demikian betapa pentingnya perhatian Rasulullah SAW untuk menjaga lisan hingga akrab di telinga kita sebuah sabdanya SAW,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhori dan Muslim)
Kemudian terdapat juga dalam sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu,
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ، وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Artinya: "Iman seorang hamba tidak akan istiqamah (lurus/benar) sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah sehingga lisannya istiqamah. Dan tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya." (HR. Ahmad)
Bahaya lisan ini bisa memudahkan seseorang berdusta, bahaya lisan membuat kesaksian palsu, karenanya dalam sebuah pepatah Arab, "keselamatan manusia amat sangat terletak pada kemampuan menjaga lisannya,"
Lidah tidak bertulang, namun jika sudah keliru mengeluarkan kalimat bisa melukai. Oleh karenanya KH Mahdi berpesan bahwa seyogianya kita memprioritaskan hal-hal penting, mulai dari memikirkan hal penting, hingga mengucapkan perkataan yang baik, memperbanyak dzikir atau diam sebagaimana pesan Rasulullah SAW.
Menjaga lisan bukan hanya tentang menghindari dosa, tetapi juga merupakan bentuk ibadah yang sangat tinggi namun ringan dijalankan. Rasulullah SAW bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَيْسَرِ الْعِبَادَةِ وَأَهْوَنِهَا عَلَى الْبَدَنِ؟ الصَّمْتُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
Alā ukhbirukum bi-aysaril 'ibādati wa ahwanihā 'alal badani? Ash-shamtu wa husnul khuluq.
Artinya: "Maukah kalian aku beritahukan tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? (Yaitu) diam dan berakhlak yang baik." (HR. Imam Al Baihaqi)
KH Mahdi juga memimpin lantunan zikir yang bisa diterapkan Jamaah setiap hari, yaitu:
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
"Hasbunallāhu wa ni’mal wakīl, ni’mal mawlā wa ni’man nashīr."
Artinya: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong."
Dengan memperbanyak zikir, tidak ada ruang lagi bagi lisan untuk membicarakan keburukan orang lain atau hal-hal yang tidak penting. Zikir dapat menjadi refleks diri saat kondisi emosi tidak stabil. Bacaan hasbunallahu juga dapat menjadi cerminan hati; jika hati tenang karena berzikir, maka lisan pun akan mengeluarkan kata-kata yang menenangkan pula.
Tiga Golongan Manusia Terkait Lisan
1. Orang yang Menang (Ghonim): Mereka yang lisannya senantiasa digunakan untuk berzikir kepada Allah.
2. Orang yang Selamat (Salim): Mereka yang memilih berkata baik atau diam (daripada bicara yang tidak bermanfaat).
3. Orang yang Binasa (Syahib): Mereka yang banyak berbicara tentang kebatilan.
Tips Menjaga Lisan agar Terhindar dari Dosa
Sahabat Nabi SAW Umar bin Khattab RA berkata,
مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ، وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
Artinya: "Barangsiapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula kesalahannya (tergelincirnya ucapan). Barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka banyak pula dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, maka neraka lebih pantas baginya."
Berdasarkan pesan atsar tersebut, KH. Mahdi memberikan empat cara agar lisan kita selalu terjaga:
1. Akrab dengan Tilawah Al-Qur'an: Membiasakan membaca Al-Qur'an meskipun hanya surat-surat pendek yang dihafal.
2. Basahi Lisan dengan Zikir: Memperbanyak zikir dan selawat agar lisan tidak kaku untuk menyebut nama Allah dan enggan bicara yang sia-sia.
3. Meluangkan Waktu untuk Tafakur dan Muhasabah: Merenungi kebesaran Allah melalui alam semesta serta menghisab (menilai) kesalahan diri sendiri daripada membicarakan orang lain.
4. Berinteraksi dengan Asmaul Husna: Menggunakan nama-nama baik Allah dalam setiap doa dan ucapan sehari-hari.
Allah subhaanahu wata'ala berfirman,
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: "Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas [28]: 77) (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.