Jakarta, www.istiqlal.or.id - Mengkaji Kitab Al-Adzkar an-Nawawiyyah, khususnya pada Bab Kitabus Shiyam fi Bab ma Yudha bihi 'inda Lailatul Qadar, dalam kajiannya, KH Dzulfatah Yasin menekankan betapa agungnya bulan Ramadhan,sehingga setiap muslim berpeluang emas untuk meraih banyak pahala dengan memperbanyak amal kebaikan, dan berjumpa dengan malam lailatul qadar.
Sebagai landasan tausiah, KH Dzulfatah Yasin membacakan firman Allah SWT dari Surah Al-Qadr yang menjadi inti pembahasan malam tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Qs. Al-Qadr ayat 1-3)
Ayat mulia di atas, menurut KH Dzulfatah Yasin, menjadi penguat betapa luar biasanya nilai Lailatul Qadar. Satu malam yang lebih baik dari 1.000 bulan setara lebih dari 83 tahun adalah karunia Allah SWT yang tidak ternilai bagi setiap mukmin yang mengisinya dengan ketaatan.
Saat merasakan kehadiran Lailatul Qadar, KH Dzulfattah menjabarkan tuntunan Rasulullah SAW dalam menyambut malam mulia tersebut dan doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca.
Sebagaimana yang termaktub dalam itab Al-Adzkar An-Nawawiyyah meriwayatkan dengan sanad yang shahih bersumber dari Imam at-Tirmidzi, Imam An-Nasai, Ibnu Majah, dan perawi lainnya dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau mengisahkan bahwa suatu ketika ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:
"Ya Rasulullah, apabila aku merasakan kehadiran Lailatul Qadar, doa apakah yang sebaiknya aku panjatkan?"
Rasulullah SAW menjawab dengan singkat namun sarat makna:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku." (HR. at-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah — Hasan Shahih)
KH Dzulfatah Yasin menjelaskan bahwa doa ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Allah SWT disifati sebagai Al-'Afuww Maha Pemaaf yang bukan sekadar memaafkan, melainkan mencintai perbuatan memaafkan itu sendiri. Ini sekaligus menjadi cermin bagi seorang muslim untuk ikut melatih diri memaafkan sesama. Beliau menganjurkan agar doa ini diresapi maknanya dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat memperbaiki akhlak.
Terdapat pula riwayat lain dengan redaksi: "Allahumma innaka 'afuwwun karimun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" dengan tambahan kata "Karim" (Maha Mulia). Keduanya sahih dan dapat diamalkan, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Salah satu poin terpenting dalam tausiah ini adalah ajakan KH Dzulfatah Yasin agar umat Islam tidak bersikap pasif dalam menanti Lailatul Qadar. Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi ada yang menyebut waktunya berpindah-pindah, ada pula yang menguatkan pendapat bahwa malam itu terdapat di sepuluh malam terakhir Ramadhan pada malam-malam ganjil namun semangat beribadah tidak seharusnya hanya muncul di malam-malam tertentu.
Beliau mengutip prinsip dari kitab lain: "Ramadhan mustahiqun lil qadar" Ramadhan adalah masa persiapan untuk Lailatul Qadar. Artinya, seorang mukmin yang cerdas harus selalu siap di setiap malam bulan Ramadhan untuk menyongsong dan menyambut Lailatul Qadar, serta terus mengerjakan amal-amal baik tanpa menunggu.
"Pada hakikatnya kita tidak menunggu itu. Tapi kita kerjakanlah amal-amal saleh yang memang dianjurkan oleh Rasulullah ketika bulan Ramadhan ini," tegas KH Dzulfatah Yasin. Di antara amal yang dianjurkan adalah: tilawah Al-Qur'an, qiyamul lail, shalat tarawih, puasa, berinfak dan bersedekah, serta berbagai bentuk kebaikan lainnya.
Mengacu pada Surah Al-Qadr, KH Dzulfatah Yasin menyampaikan bahwa orang yang melakukan ketaatan kepada Allah di malam Lailatul Qadar, amalnya bernilai lebih baik daripada amal selama 1.000 bulan. Yang lebih menggembirakan lagi, hal ini berlaku baik bagi yang mengetahui maupun yang tidak mengetahui bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar.
"Baik ketika dia sudah istiqamah dengan perbuatan baik itu dia melihat Lailatul Qadar atau tidak sama saja," ujarnya. Hal ini mendorong umat Islam untuk tidak menjadikan Lailatul Qadar sebagai satu-satunya motivasi beramal, melainkan menjadikan istiqomah dalam beribadah sebagai gaya hidup sepanjang Ramadan.
KH Dzulfatah Yasin turut mengutip pandangan Imam Syafi'i rahimahullah yang menegaskan bahwa hendaklah seseorang yang cerdas itu mengisi hari dan malamnya dengan amalan-amalan saleh. Seseorang tidak perlu menunggu datangnya Lailatul Qadar untuk baru kemudian meningkatkan ibadah. Justru sebaliknya, keistiqamahan dalam beribadahlah yang membuka pintu untuk bertemu dengan malam tersebut.
Para sahabat dan ulama pun menganjurkan agar di setiap malam Ramadhan dan terlebih di malam yang diduga sebagai Lailatul Qadar seseorang memperbanyak: membaca Al-Qur'an (tilawah), berdzikir dengan segala zikir yang dihafal, memanjatkan doa-doa yang dianjurkan termasuk doa di atas, serta melakukan amal-amal saleh lainnya.
Selain doa Lailatul Qadar, KH Dzulfatah Yasin juga mengingatkan pentingnya doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar senantiasa istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya: "Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk selalu mengingat-Mu, selalu bersyukur atas nikmat yang Kau berikan, dan berilah aku kemampuan untuk memperbaiki mutu ibadahku kepada-Mu." (HR. Abu Dawud & An-Nasa'i — diajarkan Rasulullah SAW kepada Mu'adz bin Jabal)
Doa ini, menurut beliau, adalah bekal utama agar ibadah Ramadhan tidak berhenti hanya di bulan Ramadhan, melainkan terus berdampak positif dan membawa kebaikan bagi diri, keluarga, dan umat setelah Ramadhan berlalu.
KH Dzulfatah Yasin tidak lupa mengingatkan jamaah akan sebuah hadis yang mengandung ancaman keras dari Rasulullah SAW:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ
Artinya: "Hinalah seseorang yang namaku disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat kepadaku. Dan hinalah seseorang yang datang kepadanya bulan Ramadhan lalu berlalu sebelum ia mendapat ampunan. Dan hinalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua namun keduanya tidak bisa memasukkannya ke surga." (HR. at-Tirmidzi no. 3545 — Hasan Gharib. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad)
"Nauzubillah. Mudah-mudahan kita tidak seperti ini," ujar KH Dzulfatah Yasin dengan penuh keprihatinan. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan sisa-sisa Ramadhan yang masih ada dengan seoptimal mungkin, dengan niat ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
Beliau mengutip ungkapan doa yang sering dipanjatkan: "Ilahi anta maqsudi wa ridhoka matlubi" "Wahai Tuhanku, Engkaulah yang aku tuju dan ridhomu yang aku cari." Dengan niat setulus ini, insyaallah setiap amal sekecil apapun akan diterima dan dibalas Allah SWT.
Tausiah KH Dzulfatah Yasin juga menyentuh dimensi kemanusiaan yang sedang terjadi di dunia Islam. Di tengah Ramadhan yang penuh keberkahan ini, beliau mengajak jamaah untuk tidak melupakan saudara-saudara Muslim di seluruh penjuru dunia yang sedang dilanda kesulitan terutama mereka yang berada di Jalur Gaza.
"Kita sekarang sedang dalam keadaan berita dunia yang luar biasa. Kita mohon kepada Allah keselamatan muslimin dan muslimat seluruh dunia," tuturnya dengan penuh keharuan. Saudara-saudara di Gaza, menurut beliau, menjelang Ramadhan dalam kondisi yang amat berat kekurangan pangan, air minum, dan tidak memiliki tempat tinggal yang layak.
KH Dzulfatah Yasin mendoakan agar mereka diberikan kesabaran yang maksimal, diteguhkan keimanannya, dan segera mendapatkan pertolongan Allah SWT. Sementara itu, bagi umat Islam Indonesia yang hidup dalam keamanan dan kenyamanan, beliau mengingatkan agar mensyukuri nikmat tersebut dengan memperbanyak ibadah dan kepedulian sosial.
Pada sore harinya, Masjid Istiqlal juga menyelenggarakan acara buka puasa bersama untuk 5.000 kaum dhuafa. KH Dzulfatah Yasin menyampaikan apresiasi dan doa untuk para dermawan yang telah berinfak dalam kegiatan tersebut.
"Mudah-mudahan ini tertular kepada tempat-tempat lain," harapnya. Beliau mendoakan agar setiap kebaikan yang diberikan oleh para dermawan dibalas oleh Allah SWT lebih dari apa yang mereka niatkan, karena Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan amal sekecil apapun yang dilakukan dengan keikhlasan.
Mengakhiri tausiahnya, KH Dzulfatah Yasin menyimpulkan bahwa tujuan akhir dari seluruh ibadah Ramadhan adalah meraih gelar al-muttaqin hamba Allah yang bertakwa. Gelar ini bukan sekadar simbol, melainkan buah nyata dari ibadah yang konsisten, niat yang ikhlas, dan amal yang berkelanjutan.
Beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum perbaikan diri yang sesungguhnya bagi yang sudah istiqamah agar terus mempertahankannya, dan bagi yang belum, agar segera menjadikan diri istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT. "Dengan itu, insyaallah kita dimatikan dalam khusnul khatimah," pungkasnya.
Beliau juga mengingatkan agar ilmu yang telah disampaikan sekecil apapun diniati sebagai ittiba' (mengikuti) kepada Rasulullah SAW, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan disebarkan kepada sesama. Karena itulah hakikat dari sebuah kajian ilmu yang bermakna. (FAISAL/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.