Dr. KH. Muhammad Ulinnuha, MA
Dalam hadist qudsi, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ.
‘An Abī Hurairata raḍiyallāhu ‘anhu qāla: qāla Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: qālallāhu ‘azza wa jall: kullu ‘amali-bni Ādama lahu illāṣ-ṣiyāma, fa-innahu lī wa ana ajzī bih. Waṣ-ṣiyāmu junnah, fa-iḏā kāna yaumu ṣaumi aḥadikum falā yarfuṯ yauma-iḏin wa lā yaṣkhab, fa-in sābbahu aḥadun au qātalahu falyaqul: innī-mru’un ṣā’im. Wallaḏī nafsu Muḥammadin biyadihi lakhulūfu famiṣ-ṣā’imi aṭyabu ‘indallāhi yaumal-qiyāmati min rīḥil-misk. Liṣ-ṣā’imi farḥatāni yafraḥuhumā: iḏā afṭara fariḥa bifiṭrih, wa iḏā laqiya rabbahu fariḥa biṣaumih.
Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.' Puasa adalah perisai. Maka apabila pada hari salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor (rafath) dan janganlah ia berteriak-teriak/bertengkar. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa.' Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada wangi minyak kasturi. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan: apabila ia berbuka, ia bahagia dengan bukanya; dan apabila ia bertemu Tuhannya, ia bahagia karena puasanya."
Dari hadist qudsi di atas, terdapat empat pembahasan penting oleh Imam Nawawi yaitu:
1. Bau Mulut Orang Berpuasa
Khulūfu famiṣ-ṣā’imi, perubahan bau mulut karena melaksanakan puasa dari fajar hingga maghrib, yang kemudian menjadi pertanyaan yaitu kaitannya hadist ini dengan hadist bersuci atau perintah Nabi SAW untuk tampil bersih, suci dan indah, namun konteks "bau mulut" ini seakan-akan bertentangan dengan hadist qudsi tersebut.
Mengenai pertanyaan tersebut, jumhur ulama bersepakat bahwa hadist ini tidak bertentangan, karena narasinya adalah "kelak di hari kiamat, bau mulutnya orang berpuasa jauh lebih disukai dan wangi daripada perwangian dunia". Adapun orang berpuasa, menurut jumhur ulama juga tidak dilarang untuk membersihkan giginya dengan siwak, dengan catatan tidak ada bagian-bagian yang tertelan.
Adapun menurut mazhab syafi'i, bersiwak dibolehkan hanya sampai sebelum zuhur, adapun ba'da zuhur hingga berbuka hukumnya makruh.
2. Sebab Puasa Disebut Perisai (Junnah)
الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ
Ash-shaumu junnatun minan-naar.
Artinya: "Puasa adalah perisai dari api neraka." (HR At-Tirmidzi)
Puasa disebut sebagai perisai dari api neraka, karena neraka itu mahfufatun bis-syahawat (dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan nafsu/syahwat), dan puasa berfungsi memutus atau melemahkan syahwat tersebut. Dengan berpuasa, seseorang belajar menahan keinginan makannya, minumnya, dan syahwat lainnya, sehingga jalan atau pintu yang bisa mengantarkannya ke neraka sedikit demi sedikit tertutup oleh perisai puasa tersebut.
Puasa tidak hanya menjadi perisai dari siksa neraka di akhirat, tetapi juga perisai dari perbuatan dosa dari maksiat di dunia yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Karena orang yang lapar saat berpuasa cenderung lebih lemah energinya untuk melakukan kemaksiatan. Puasa melatih pengendalian diri agar tidak mencuri, berbohong, atau melakukan hal sia-sia demi memenuhi keinginan materi.
3. Larangan Berkata Kotor (Rafath) dan Gaduh (Yash-hab)
Berdasarkan tafsir dari Ibnu Abbas, Ustaz Ulinnuha menjelaskan bahwa rafath bukan sekadar kata kotor, tetapi juga mencakup hubungan suami istri dan segala pendahuluannya (bercumbu) yang dilarang dilakukan di siang hari saat berpuasa.
Adapun makna Yash-hab, yaitu larangan berteriak-teriak, membuat kegaduhan, atau mencela orang lain. Jika seseorang berpuasa namun tetap berbohong atau mengganggu orang, maka puasanya tidak bernilai di sisi Allah subhanahu wata'ala.
4. Detail Dua Kebahagiaan (Farhatani) Bagi Orang Berpuasa
Orang yang berpuasa merasakan dua kebahagiaan, yaitu bahagia saat berbuka. Hal itu menjadi kebahagiaan pertama karena telah sukses menyempurnakan ibadah seharian dan selamat dari hal-hal yang membatalkan puasa.
Kedua, bahagia saat bertemu Allah subhanahu wata'ala, kebahagiaan saat itu karena dia akan diperlihatkan pahala puasa yang luar biasa besar dan anugerah nikmat di surga sebagai balasannya.
4. Sebab Allah Berfirman "Puasa itu untuk-Ku" (As-Shiyamu Lii)
Dr. Ulinnuha memaparkan empat alasan utama mengapa Allah secara khusus menyandarkan puasa kepada diri-Nya:
Pertama, tidak ada yang disembah selain Allah ketika seseorang berpuasa. Puasa merupakan ibadah ibadah yang tidak pernah ditujukan kepada berhala. Sepanjang sejarah, orang musyrik menyembah berhala dengan sesajen atau gerakan seperti shalat, namun tidak ada yang menyembah berhala dengan cara berpuasa. Jadi, puasa menjadi ibadah yang khusus, spesifik, murni ibadah dipersembahkan untuk Allah subhanahu wata'ala.
Kedua, jauh dan terhindar dari riya. Puasa adalah ibadah rahasia (sirr). Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar puasa kecuali dia dan Allah subhanahu wata'ala. Berbeda dengan shalat atau sedekah yang bisa dilihat orang lain.
Ketiga, hanya Allah yang tahu takaran pahala orang berpuasa. Jika amal lain pahalanya dilipatgandakan 10 hingga 700 kali lipat, pahala puasa tidak disebutkan batasnya; Allah sendiri yang langsung memberikannya sesuai kehendak-Nya.
Keempat, penghormatan (Idhofat Tasyrif). Sebagaimana Ka'bah disebut Baitullah (Rumah Allah), penyandaran puasa kepada Allah adalah bentuk penghormatan karena puasa membuat manusia berusaha "meniru" sifat-sifat Allah yang tidak butuh makan dan minum. Puasa juga mengantarkan kita untuk senantiasa dekat dengan Allah, sesuai dengan kadar dan kesanggupan kita masing-masing. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.