Oleh : Dr. KH. Muchlis M Hanafi, Lc, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Allah subhanahu wata'ala berfirman pada Al-Qur'an surat Al-'Alaq ayat 1,
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!” (QS. Al-'Alaq [96]: 1).
Objek Ilmu Pengetahuan pada unit wahyu pertama, kata iqra’ yang mengandung arti membaca, mengumpulkan, menganalisa sehingga menjadi satu himpunan yang padu, tidak disebutkan objeknya. Sesuai dengan kaidah ilmu tafsir, redaksi seperti ini menunjukkan bahwa objeknya bersifat umum.
Dari sini, Al-Qur'an tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan; ilmu agama dan umum, ilmu dunia dan akhirat. Dalam pandangannya ilmu mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam menunjang kelangsungan hidupnya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika. Kesan ini diperkuat dengan dikaitkannya perintah iqra’ dengan sifat rubûbiyah Tuhan yang maha mencipta, bismi rabbika alladzî khalaq.
Kata “Rabb” yang sering diartikan Tuhan mengandung makna pemeliharaan dengan segala kelazimannya. Kaidah ilmu tafsir lain mengatakan, penyebutan suatu perintah yang disertai dengan suatu sifat menunjukkan keterkaitan perintah tersebut dengan sifat yang menyertainya.
Dengan kata lain ayat pertama ini berpesan, “Bacalah dengan nama Tuhan pemelihara yang telah mencipta, segala apa saja yang dapat memelihara kelangsungan hidupmu.” Dan jika kita merujuk kepada asal makna kata ism yang berarti tanda yang dapat mengenalkan identitas pemiliknya, maka dapat ditangkap kesan lain bahwa objek perintah iqra' pada ayat ini secara khusus tertuju pada tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terbentang di alam luas ini.
Demikian tergambar jelas bahwa di antara objek ilmu di dalam Islam bersifat empiris atau fisik, yaitu alam yang merupakan tanda kekuasaan Tuhan. Tetapi berbeda dengan epistemologi Barat yang membatasi objek ilmu pada bidang empiris atau fisik, menurut epistemologi Islam kita dapat mengetahui bukan hanya yang fisik melainkan juga yang metafisik.
Dalam Al-Qur'an, Allah subhanahu wata'ala di dalam Al-Qur'an surat Al-Haqqah ayat 38 sampai 39, bersumpah dengan menyebut kedua objek tersebut:
فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٨ وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَۙ ٣٩
Artinya: “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat (fisik), dan dengan apa yang tidak kamu lihat (metafisik)” (QS. al-Haqqah [69]: 38 - 39).
Dari ayat di atas diketahui objek ilmu meliputi materi dan nonmateri, fenomena dan nonfenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak.
وَّالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةًۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٨
Artinya : “Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya” (QS. Al-Nahl [16]: 8).
Pengakuan terhadap wujud metafisik dalam epistemologi islam melahirkan dua jenis ilmu pengetahuan, pertama : ilmu kasbiy (diperoleh melalui usaha), yaitu ilmu yang diperoleh melalui penginderaan; dan kedua : ilmu ladunni, yaitu ilmu yang diperoleh tanpa usaha manusia.
Pada unit wahyu pertama Allah menjelaskan, bahwa di samping ilmu yang diperoleh melalui pengajaran yang dilakukan dengan pena ('allama bil qalam), juga ada yang tanpa qalam, yaitu yang berasal dari sesuatu yang tidak diketahui manusia ('allamal insâna mâ lam ya'lam).
Kebenaran ilmu ladunniy melebihi kebenaran hasil pengindraan dan penalaran. Ini diuraikan oleh Al-Quran melalui kisah Nabi Musa bersama seseorang yang dianugerahi Allah subhânahu wata'ala ilmu ladunniy. Nabi Musa as. yang demikian cerdas dan kritis, yang tentu saja menimbang segala sesuatu dengan sangat cermat, telah dinilai keliru.
Siapa yang menggunakan nalarnya pasti akan berkata bahwa membocorkan perahu milik orang miskin dan sarana pencariannya adalah sesuatu yang buruk; membunuh anak kecil adalah tindakan kriminal; membangun bangunan yang hampir roboh dengan mminta upah adalah sanagt wajar dan rasional.
Tetapi, seperti kata Quraish Shihab, satu persatu dipersalahkan oleh dia yang mendapat ilmu ladunniy itu guna membuktikan bahwa di balik fenomena yang dilihat dan menjadi bahan pertimbangan Nabi Musa as masih ada sekian banyak hal yang tersembunyi, yang tidak diketahuinya dan yang menuntutnya untuk percaya dan mengikuti (baca QS. Al-Kahf [18]: 60-82).