Oleh: KH Zia ul Haramein
Kitab Is'af Thalibi karya Al Imam Alhabib Umar ibn Hafidz hafidahullahu taala, merupakan sebuah kitab tentang akhlak dan sifat-sifat baik. Dalam kesempatan ini, tiba masa membahas judul "Kejujuran Dalam Perkataan, Sifat Jujur Dalam Berucap". yang di dalamnya membagi tiga bagian mengenai kejujuran, "As-sidqu fil qaul, wa fil 'amal, wa fin-niyah," yaitu jujur dalam perkataan, jujur dalam amal, dan jujur dalam niat.
Jujur dalam perkataan
وَالصِّدْقُ وَصْفٌ مِنْ شَأْنِهِ يُثْبِتُ اللهُ بِهِ النَّفْعَ لِصَاحِبِهِ فِي دَارَيْهِ وَيُعْلِي بِهِ رُتْبَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Wash-shidqu washfun min sya’nihi yutsbitullahu bihin-naf’a lishahibihi fi daraihi wa yu’li bihi rutbatahu yaumal qiyamah.
"Kejujuran adalah sebuah sifat yang telah ditetapkan oleh Allah bagi hamba-Nya, di mana Allah memberikan manfaat (pahala/keberkahan) melalui sifat tersebut bagi pelakunya, baik di dunia maupun secara nyata di hari kiamat kelak."
Dalam penjabarannya, KH Zia menyebutkan "muraqabatun lil-Haqqi Tabaraka wa Ta'ala, wa zakatul insani tadullu 'ala imanihi, hatta qala ba'dhul 'arifin: ma raitu taqwa ahadin fi lisanihi illa wa raitu dzalika fi jami'i a'malihi wa ahwalihi. (Kejujuran dalam berkata, merupakan bentuk merasa diawasi oleh Allah (Muraqabah) yang Maha Benar lagi Maha Luhur. Dan kesucian/kualitas diri manusia itu menunjukkan kadar imannya. Aku tidak melihat ketakwaan seseorang terpancar pada lisannya, melainkan aku pasti melihat (efek) ketakwaan itu juga pada seluruh amal perbuatan dan kondisi hidupnya.)
"Sebuah sifat di mana seorang insan itu bisa terlihat kualitas imannya dari perkataan, dari apa yang dia ucapkan dan tuturkan. Kalau dia senang berdusta maka kelihatan bahwa imannya lemah, tidak peduli dengan kebenaran. Berbeda dengan orang yang jujur yang akan senantiasa mendahulukan kebenaran, dai yang benar terjadi dan dilihat. Hal yang didengar itu sama dengan apa yang diucap."
Sehingga sebagian orang bijak mengatakan, para ulama kita mengatakan, "Aku tidak melihat ketakwaan pada lisan seseorang kecuali dia berpengaruh pada seluruh anggota tubuhnya." Seluruh anggota tubuh ini merasakan efek dari kita berbuat jujur.
Di era di masa yang penuh dengan kepalsuan dan manipulasi, kejujuran ibarat sebuah mutiara yang kita cari di dasar sungai. "Mutiara tidak ada di dasar sungai. Sulit mencarinya. (Mungkin pun ada) hanya satu banding sejuta kemungkinan di antara batu-batu sungai," terang KH Zia.
Maka penting bagi setiap kita untuk meninggalkan kebohongan sejauh-jauhnya dan senantiasa menerapkan yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW dan juga para sahabatnya yang selalu jujur dan bertakwa kepada Allah.
Sebab orang yang diketahui sekali berbohong akan disebut "mutham" atau tertuduh dusta. Misalnya dalam periwayatan hadis, orang yang tertuduh dusta meski belum divonis sebagai pendusta, hadisnya sudah tertolak, disebut sebagai hadis matruk di mana perawinya itu adalah orang yang tertuduh dusta.
Begitu pentingnya urusan kejujuran dan dusta di dalam agama kita. Karena tidak mungkin agama ini sampai kepada kita apabila dibawakan oleh orang-orang yang berdusta. Pada zaman Nabi, orang-orang yang berdusta disebut sebagai munafik, sebagai orang-orang yang menyembunyikan kekufurannya dan menampakkan kebaikannya.
Maka jemaah yang dimuliakan Allah, seringkiali kita mendengar bahwa lebih baik berkata baik atau diam atau berkata benar meskipun itu pahit.
قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
"Sampaikanlah kebenaran itu, walaupun terasa pahit."
Meski seringkali tidak membuat nyaman, acapkali menyakitkan, tapi itulah yang Allah tekankan, perintahkan, yang Nabi Muhammad SAW ajarkan. Sebab kebohongan ketika sudah diucapkan satu kali, akan menjadi sebuah aib yang harus ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lainnya. "Maka biasakanlah jujur dalam hal-hal kecil sehingga kita mampu untuk jujur dalam hal-hal yang besar," pesan KH Zia.
Jamaah yang dimuliakan Allah, seringkiali juga kita takut kehilangan sesuatu karena jujur. Namun ketahuilah bahwa apa yang hilang dari kita karena jujur dan menerapkan sifat baik itu jauh lebih Allah terima dan sukai dibanding kita mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak benar, dengan kebohongan, manipulasi.
Rasulullah SAW bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
‘Alaikum bish-shidqi, fa innash-shidqa yahdi ilal-birri, wa innal-birra yahdi ilal-jannah. Wa iyyakum wal-kadziba, fa innal-kadziba yahdi ilal-fujuri, wa innal-fujura yahdi ilan-nar.
"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menuntun ke surga. Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta, karena sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu menuntun ke neraka." (HR Bukhari Muslim)
Tanamkan niat kita bahwa setiap ucapan, perbuatan itu pasti dilihat dan didengar Allah subhanahu wata'ala, dan kebohongan itu jauh lebih merugikan, membawa pada kebinasan di dunia dan akhirat.
Di saat banyak orang menggunakan lisan sebagai alat kepentingan, maka sudah saatnyalah seorang muslim, seorang mukmin yang baik itu setia terhadap kebenaran, setia terhadap kejujuran, dan itulah yang menjadikan kita umat-umat yang beruntung kelak di hari kiamat. Karena Rasulullah senang dengan umatnya yang mengikuti sunah-sunahnya. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)