Foto: Dok. Media Istiqlal

Renungan Fajar Istiqlal: Makna Birrul Walidain dan Kewajiban Orang Tua

Admin 21 Nov 2025 Warta Istiqlal

Jika mau menghitung nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, kita tidak akan bisa menyelesaikannya, sebagaimana yang terdapat dalam Qur’an Surah Ibrahim, yaitu:

…وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ …

Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya” (Q.S Ibrahim [14]: 34)

“Nikmat Allah SWT itu datang kepada kita dari yang kecil sampai yang besar. Jika kita ingin membuat daftar nikmat Allah SWT, kita akan tertinggal jauh untuk mencatatnya, karena begitu banyaknya nikmat Allah SWT yang mengalir,” ujar H. Mas’ud pada pembukaan kajian.

Mengucapkan “Alhamdulillah” merupakan tahap kesadaran awal, belum sampai tahap bersyukur sesungguhnya. Bagaimana caranya meningkatkan level bersyukur lebih dari sekadar ucapan?

Dengan menggunakan nikmat Allah SWT yang sesuai dengan fungsi dan ridho-Nya tanpa melanggar merupakan bersyukur yang sesungguhnya, seperti itu prinsip bersyukur dan bertahmid.

Memahami tingkat kebaikan seseorang dalam Islam

Birrul Walidain artinya berbakti kepada kedua orang tua. Birrun artinya berbuat baik. Dalam Al-Qur’an terdapat kata khairun yang artinya baik (kebaikan universal), selain itu kita menemukan kata baik di makruf (kebaikan lokal), lalu ihsan kebaikan yang diatas standar, dan birrun adalah puncak kebaikan yang tidak terukur berlaku hanya kepada orang tua. 

Perilaku kepada orang tua ditujukan kepada dua diksi yaitu, ihsan dan birrun. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Artinya: Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali” (QS. Luqman [31]:14)

Allah SWT menempatkan orang tua sebagai milik pribadi-Nya untuk diwasiatkan kepada kita. Bahwasanya, seorang anak yang bersyukur kepada Allah SWT adalah memperlakukan orang tuanya sesuai dengan kehendak-Nya.

“Tidak ada ruang yang Allah SWT berikan bagi seorang anak untuk menjadi pembangkang, menyakiti kepada orang tuanya,” jelas H. Mas’ud

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ 

اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “ Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beritahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan” (QS. Luqman [31]:15)

Ayat diatas bermakna perlakukan baik orang tua sesuai keadaannya dengan makruf bukan dengan ihsan. Misalnya, orang tua berbuat keburukan, anak tidak boleh taat, tetapi wajib memperlakukan mereka dengan makruf. 

Sebaliknya, orang tua diberi peringatan keras agar dapat mendidik anak supaya tidak lemah iman, mental, sosial, moral, dan lainnya. Sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya: 

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Artinya: Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya)” (QS. An-Nisa [4]: 9)

Orang tua memiliki tanggung jawab besar. Seorang anak berperilaku buruk bisa terjadi karena kemampuan orang tuanya dalam memberikan keteladanan, pendidikan, dan contoh perilaku moral. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيْرًا

Artinya: “Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar” (QS. Al-Isra [17]:31)

“Hubungan orang tua dan anak bukan hubungan duniawi, tapi hubungan yang sampai di akhirat,” pungkas H. Mas’ud

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖۖ وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْـًٔاۗ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

Artinya:Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah kamu diperdaya oleh penipu”  (QS. Luqman [31]:33) 

Kita menghadapi krisis moral, tantangan global, dan budaya terutama di era post-truth, kita sulit menilai kebenaran. Inilah yang disebut istilah borderless, yang berarti dunia tidak punya batasan. Jika tidak ada pondasi moral dan agama bisa membahayakan masa depan sebagai anak dan orang tua. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anaknya dengan tingkat kesabaran yang tinggi (washtabir) yang berbeda dengan sabar biasa (ishbir). 

Sebagai penutup kajian, H. Mas’ud mengingatkan para orang tua untuk mendidik anak-anak sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zamannya. (TANZA/ Humas dan Media Masjid Istiqlal)


 

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.