Oleh: (Dr. TG KH. Ahmad Husni Ismail, M.Ag)
Pernahkah kamu membayangkan, bagaimana jadinya jika semua orang di dunia ini punya wajah yang sama? Hidung yang sama, warna kulit yang sama, bahasa yang sama pula? Mungkin terdengar sepele, tapi coba pikirkan lebih dalam kita bahkan tidak bisa membedakan suami kita dari orang lain di jalan. Rumit, bukan?
Inilah cara sederhana untuk memahami bahwa keberagaman bukan masalah melainkan sebuah keniscayaan, bahkan karunia dari Allah.
Perbedaan Adalah Takdir Allah
Keberagaman yang kita lihat setiap hari mulai dari perbedaan warna kulit, bahasa, suku, hingga budaya bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Dalam Quran Surat Ar-Rum ayat 22, Allah subhanahu wata'ala berfirman :
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ
Artinya :Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berilmu. (QS. Ar-Rum Ayat 22)
Bahwa di antara tanda-tanda keagungan-Nya adalah diciptakannya langit dan bumi, serta beraneka ragam bahasa dan warna kulit manusia.
Allah juga berfirman dalam Al-Qur'an bahwa seandainya Dia menghendaki, niscaya kita semua akan dijadikan satu umat saja. Tapi kenyataannya tidak demikian. Artinya, ada hikmah besar di balik perbedaan itu. Kita dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bukan untuk saling bermusuhan, melainkan agar saling kenal-mengenal (lita'arafu).
Bahkan hal kecil seperti peci hitam yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dan rumpun Melayu pun adalah bagian dari identitas budaya yang patut kita jaga dan banggakan. Itu adalah salah satu wujud nyata dari keindahan perbedaan yang Allah ciptakan di antara kita.
Adapun nama Islam sendiri berasal dari kata salam yang berarti damai. Maka sudah seharusnya setiap ajaran dan perilaku seorang Muslim mencerminkan kedamaian itu bukan sebaliknya.
Coba perhatikan bagaimana Islam mengajarkan kedamaian bahkan dalam ibadah sehari-hari. Shalat yang kita lakukan selalu diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri, sebuah pesan bahwa siapapun yang shalat harus menyebarkan kedamaian kepada orang-orang di sekitarnya.
Puasa Ramadhan diiringi dengan perintah berzakat dan berbagi makanan. Ibadah haji bergandengan dengan perintah berkurban dan berbagi daging. Bahkan kafarat atas berbagai pelanggaran dalam Islam hampir selalu melibatkan berbagi makanan kepada fakir miskin.
Semua ini berbicara satu hal : Beliau mengutip sebuah hadist
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلاَمٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أيُّهَا النَّاسُ : أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ ))
Dari ‘Abdullah bin Salam Radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian pasti masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Tebarkan kedamaian dan berbagi makanan. Itulah inti dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Maka sangat tidak biasa jika ada yang mengatasnamakan Islam untuk menebarkan kebencian atau bahkan meniadakan kehidupan orang lain, padahal tidak ada satupun ajaran Islam yang memerintahkan hal demikian.
Misi Rahmatan Lil ‘Alamin Adalah Tanggung Jawab Kita Bersama
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Artinya: Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya Ayat : 107)
Ayat ini bukan hanya pujian untuk Nabi Muhammad SAW, melainkan sebuah misi yang harus kita teruskan sebagai umatnya. Di tengah kehidupan yang penuh keberagaman ini, kita semua dipanggil untuk menyebarkan Islam yang rahmah, ramah, santun, toleran, dan menghargai perbedaan.
Jangan pernah terbersit dalam pikiran kita untuk memaksa orang lain menjadi sama seperti kita, karena memang begitulah Allah menciptakan kita berbeda-beda. Tugas kita bukan menyeragamkan, tapi memberi warna kebaikan di tengah keberagaman itu.
Tunjukkan Jati Diri Islam dengan Kebaikan, Bukan Kekerasan
Sayangnya, masih ada sebagian dari kita yang justru menutup keindahan ajaran Islam dengan pemahaman yang sempit dan picik, lalu menebarkan sikap yang keras dan kasar. Padahal itu sama sekali bukan yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
Beliau mengatakan “Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa Nabi bahkan memberikan nama pada bejana dan perkakas yang beliau gunakan sehari-hari menandakan bahwa benda mati pun harus diperlakukan dengan santun”. Lalu bagaimana mungkin kita bersikap kasar terhadap sesama manusia?
Mari kita pegang semangat fastabiqul khairat berlomba-lomba dalam kebaikan. Tunjukkan jati diri Islam yang sesungguhnya: penuh kasih sayang, menghargai sesama, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Karena keindahan sejati Islam justru akan semakin bersinar ketika kita mampu memeluknya dengan hati yang lapang di tengah segala perbedaan.
(HERUL/Humas Dan Media Masjid Istiqlal)