Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan 1447 H: Ramadhan Hijau Ramadhan Bersama

Administrator 22 Feb 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Ramadan disebut sebagai bulan membakar karena ia membakar hangus seluruh dosa-dosa yang pernah kita lakukan selama sebelas bulan yang lampau. Barang siapa yang berpuasa dengan penuh ketulusan lillahi ta'ala, maka diampuni seluruh dosa-dosanya di masa lampau. Diampuni dosa artinya dibakar seluruh dosa-dosa yang pernah lampau, dan dengan demikian kita tidak lagi memiliki beban dosa. Ada dua beban yang perlu kita singkirkan dalam diri kita, yaitu beban rasa bersalah dan beban rasa berdosa.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Beban rasa berdosa muncul karena kita melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah, sedangkan beban rasa bersalah muncul karena kita melanggar kesepakatan dengan sesama umat manusia, seperti menunda membayar utang atau menyakiti hati seseorang. Selama seseorang dihinggapi rasa bersalah dan rasa berdosa, ia tidak akan pernah tenteram menjalani kehidupannya karena dunia ini penuh dengan beban. 

Jika kita bisa menyingkirkan rasa bersalah terhadap sesama manusia, makhluk lain, binatang, tumbuh-tumbuhan, alam semesta, serta tidak ada dosa kepada Allah, maka beban hidup akan terasa ringan, tenteram, dan tenang.

Ramadan juga dimaknai sebagai Ramadan hijau, di mana hijau disimbolkan sebagai kesejukan. Secara bahasa, jannah atau surga berasal dari akar kata janana yang berarti menutupi. Itulah sebabnya orang gila disebut majnun karena akal normalnya tertutup, jin disebut jin karena terlindung atau tidak terlihat, dan janin disebut janin karena berada di dalam rahim yang terlindung. Surga disebut jannah karena adanya tumbuh-tumbuhan dan taman-taman rimbun yang menutupi gundulan tanah, memberikan pemandangan indah dan kesejukan yang luar biasa.

Dalam hal teologi, agama Islam mengajak umatnya untuk menjadi "hijau", yang melambangkan kelembutan, kesejukan, kepasrahan, dan kerinduan, serta menghindari sifat "merah" yang melambangkan ego dan perjuangan maskulin yang keras. Allah SWT lebih banyak menonjolkan diri-Nya melalui dimensi rububiyah atau sifat-sifat Jamaliah (kelembutan) sebagai pengasuh dan pemelihara. Sifat pengasih dan penyayang Allah jauh lebih sering terulang dalam Al-Qur'an dibandingkan sifat pendendam, angkuh, atau pemaksa. Kita diajak untuk mencontoh akhlak Allah yang Maha Lembut dan Maha Pengasih tersebut.

Pada awal bulan suci Ramadan ini, mari kita bertekad untuk menjinakkan diri, meluruskan pikiran, melembutkan hati yang keras, dan membersihkan pikiran yang kotor. Kita harus bersahabat dengan alam semesta karena alam, binatang, dan tumbuh-tumbuhan memiliki hak yang harus dipenuhi agar mereka tidak murka dan menyebabkan bencana. Mari kita berpuasa dengan penuh ketenangan di Masjid Istiqlal, tempat yang penuh berkah karena banyaknya sujud di hadapan kebesaran Allah, dengan harapan Allah menjinakkan pikiran liar kita dan menjadikan kita pribadi yang lebih lembut, halus, serta tidak suka mengganggu orang lain.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.