Foto: Ahmad Hidayat

Menggali Hikmah di Balik Kisah Nabi Adam AS. dan Hawa dalam Surah Al-Baqarah

Muhammad Rizki Putra Ramadhan 17 Sep 2026

Kisah Nabi Adam AS. dan Hawa merupakan salah satu kisah penting yang banyak memberikan pelajaran dalam Al-Qur’an. Kisah tentang penciptaan Adam, kehidupannya bersama Hawa, hingga peristiwa keduanya keluar dari surga tidak hanya berbicara mengenai awal kehidupan manusia, tetapi juga menyimpan berbagai hikmah yang dapat dipahami melalui berbagai pendekatan tafsir.

Dalam sebuah kajian, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. mengulas Surah Al-Baqarah ayat 35–36 dengan melihatnya dari berbagai sudut pandang. Pembahasannya tidak hanya merujuk pada penafsiran ulama, tetapi juga mengaitkannya dengan sejarah, bahasa, dan sejumlah literatur klasik.

Keutamaan Berdoa di Malam Jumat

Sebelum memasuki pembahasan mengenai kisah Nabi Adam AS., Prof. Nasaruddin Umar mengingatkan tentang keutamaan berdoa pada malam Jumat. Ia menjelaskan bahwa waktu tersebut merupakan salah satu kesempatan bagi seorang hamba untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Menurutnya, doa yang dilakukan secara berjamaah di masjid juga memiliki nilai tersendiri. Berkumpul dalam majelis doa menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama dalam memohon pertolongan dan dikabulkannya berbagai hajat kepada Allah SWT.

Adam dan Pertanyaan Para Malaikat

Dalam pembahasan Surah Al-Baqarah ayat 35–36, Prof. Nasaruddin Umar turut mengangkat pandangan sejumlah ulama tafsir mengenai keberadaan Nabi Adam AS. dan manusia sebelum beliau.

Jika dilihat dari garis keturunan hingga Nabi Muhammad SAW., masa antara Nabi Adam AS. dan Nabi Muhammad SAW. menurut sebagian pandangan belum mencapai jutaan tahun. Sementara itu, berbagai temuan antropologi menunjukkan adanya fosil manusia purba yang diperkirakan telah berusia jutaan tahun.

Perbedaan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi sebagian ahli tafsir untuk membicarakan kemungkinan adanya beberapa siklus kehidupan manusia sebelum Nabi Adam AS. Pandangan ini juga dikaitkan dengan pertanyaan para malaikat ketika Allah SWT. menyampaikan rencana penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Para malaikat mempertanyakan kemungkinan manusia melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di bumi.

Dari sini muncul sebuah pertanyaan menarik: dari mana para malaikat memiliki gambaran mengenai perilaku tersebut jika manusia belum pernah ada? Sejumlah ulama kemudian mengaitkannya dengan kemungkinan adanya kehidupan manusia sebelum Nabi Adam AS.

Makna Nama Adam dan Penciptaan Hawa

Pembahasan selanjutnya berkaitan dengan makna nama Adam. Secara kebahasaan, nama tersebut oleh sebagian pandangan dikaitkan dengan makna yang menggambarkan kesendirian. Dalam kisahnya, Adam AS. digambarkan pernah merasakan kesepian ketika berada di surga.

Allah SWT. kemudian menciptakan Hawa sebagai pasangan bagi Adam AS. Kehadiran Hawa menjadi bagian dari rahmat Allah SWT. agar Adam tidak lagi hidup dalam kesendirian. Keduanya kemudian menjadi pasangan yang saling memberikan ketenangan atau sakinah.

Peristiwa tersebut juga memberikan gambaran mengenai kedudukan pernikahan sebagai sebuah ikatan yang memiliki nilai sakral. Dalam Al-Qur’an, ikatan tersebut disebut sebagai mitsaqan ghalizha, yaitu perjanjian yang kuat.

Memahami Makna Pohon yang Dilarang

Salah satu bagian yang menarik dalam kisah Nabi Adam AS. dan Hawa adalah larangan Allah SWT. untuk mendekati sebuah pohon, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 35:

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ 

Artinya: Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” (QS. Al-Baqarah [2] 35).

Para ulama memiliki beberapa pandangan dalam memahami makna asy-syajarah atau pohon yang dimaksud dalam ayat tersebut.

Dalam pemahaman tekstual, asy-syajarah dipahami sebagai sebuah pohon secara fisik. Kisah tersebut kemudian sering dikaitkan dengan istilah buah khuldi yang digunakan dalam bujukan Iblis kepada Adam dan Hawa.

Namun, terdapat pula penafsiran yang melihat kata tersebut secara majazi atau simbolik. Sebagian mufasir memahami bahwa bahasa Al-Qur’an terkadang menyampaikan suatu hal dengan cara yang sangat santun. Dalam salah satu penafsiran, larangan terhadap asy-syajarah dikaitkan dengan hubungan biologis antara Adam dan Hawa ketika berada di surga.

Pandangan tersebut didasarkan pada pemahaman bahwa surga pada saat itu bukanlah tempat berlangsungnya kehidupan manusia dan perkembangbiakan keturunan. Kehidupan manusia dengan proses beranak-pinak kemudian berlangsung di bumi.

Isyarat di Balik Kata Ihbitu

Hal lain yang menarik dari ayat tersebut adalah penggunaan bentuk kata dalam bahasa Arab. Ketika Allah SWT. memberikan larangan kepada Adam dan Hawa untuk mendekati pohon, digunakan bentuk mutsanna, yaitu bentuk kata yang menunjukkan dua orang.

Namun, ketika Allah SWT. memerintahkan keduanya untuk turun ke bumi, digunakan kata “ihbitu” yang berbentuk jamak.

Perubahan bentuk kata tersebut menjadi perhatian dalam penafsiran. Sebagian pandangan mengaitkannya dengan kemungkinan bahwa ketika perintah untuk turun ke bumi diberikan, telah terdapat cikal bakal keturunan di dalam rahim Hawa. Dengan demikian, kehidupan manusia di bumi tidak hanya dimulai dengan Adam dan Hawa sebagai dua individu, tetapi telah membawa awal dari generasi manusia berikutnya.

Dari sinilah perjalanan manusia di bumi dimulai. Bumi menjadi tempat berlangsungnya kehidupan manusia dengan berbagai dinamika, tantangan, pilihan, dan perjalanan yang telah ditetapkan Allah SWT.

Memahami Kisah Adam melalui Berbagai Pendekatan

Kisah Nabi Adam AS. dan Hawa menunjukkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki kedalaman makna yang dapat dikaji dari berbagai sisi. Pemahaman terhadap sebuah ayat tidak selalu berhenti pada makna literal, tetapi dapat diperluas melalui kajian bahasa, tafsir, sejarah, maupun literatur klasik.

Kisah tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai awal penciptaan manusia dan keluarnya Adam serta Hawa dari surga. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kehidupan, pasangan, keturunan, tanggung jawab manusia, serta awal perjalanan manusia menjalani kehidupan di bumi.

Dengan memahami berbagai sisi tersebut, kisah Nabi Adam AS. menjadi pengingat bahwa setiap ayat dalam Al-Qur’an memiliki pesan dan hikmah yang dapat terus digali untuk memahami kehidupan manusia dan hubungannya dengan Allah SWT.

Fotografer
Ahmad Hidayat

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.