Oleh : KH. Bukhori Sail Attahiri Lc, MA (Kabid Penyelenggaraan Peribadatan BPMI)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wata’ala. Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Iman dalam pengertian yaitu percaya atau yakin sepenuh hati terhadap seluruh ajaran yang dibawa oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Adapun taqwa adalah kita melaksanakan segala perintah Allah subhanahu wata’ala dan kita menjauhi segala larangan-Nya. Sirran wa alaniyatan. Baik berupa keyakinan dalam hati maupun dengan perbuatan nyata. Dhâhiran wa bâtinan. Lahir maupun batin. Dilihat maupun tidak dilihat orang. Dipuji maupun tidak dipuji orang. Marilah tetap melaksanakan apa yang diwajibkan Allah subhanahu wata’ala kepada kita.
Wasiat tersebut bukanlah sekedar wasiat rutin yang disampaikan para khatib di mimbar Jumat, namun menurut Imam al-Haddad, dalam kitab An-Nashaih ad-Diniyyah, wasiat taqwa adalah sebagai berikut:
Artinya: "Wasiat Allah subhanahu wa ta’ala Tuhan semesta alam bagi orang-orang dahulu, sekarang maupun yang akan datang."
Semoga Allah ta’ala menerima ketaqwaan kita baik yang wajib maupun yang sunnah. Amin ya Rabbal Alamin.
Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala. Imam al-Habib Abu Bakar bin Hasan Al-Athas Azzabidi, dalam dalam bukunya berjudul "Cahaya" menyebutkan, pernah terjadi dialog antara Allah subhanahu wata'ala dengan Nabiyullah Dawud alaihissalam.
Yaitu Nabiyullah Dawud alaihissalam bertanya kepada Allah ta’ala: "Ya Allah, nikmat apakah yang kecil di sisi-Mu?", Allah ta’ala menjawab, "Napas yang kamu hirup sehari-hari adalah nikmat yang kecil di sisi-Ku."
Bayangkan, napas yang kita hirup sehari-hari, yang menjadi oksigen bagi kita, bagi Allah ta’ala adalah nikmat terkecil.
"Lalu nikmat apakah yang paling terbesar di sisi-Mu?" Tanya Nabi Daud lagi. "Diciptakannya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam," jawab Allah ta’ala.
Tak heran, dalam hadist Qudsi dikatakan, "Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidaklah aku ciptakan alam semesta ini."
Kelahiran Nabi Muhammad shalllallahu alaihi wasallam, memang anugerah dan hadiah terindah sekaligus terbesar bagi umat manusia dari Allah subhanahu wata'ala, yang wajib kita syukuri. Allah ta’ala berfirman dalam QS. Ali Imran: 164.
Artinya: "Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali Imran: 164)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti kita tahun, tak terasa kita sudah memasuki bulan Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Seorang Rasul yang diutus untuk membawa rahmat dan kasih sayang bagi manusia dan semesta alam. Rahmatan lil ‘alamîn. Penyeru kepada seluruh umat manusia ke jalan Allah subhanahu wata'ala. Jalan kebenaran. Jalan tauhid. Jalan yang lurus (as-Shiratul mustaqim). Yaitu jalan orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah ta’ala, dari para Nabi dan Rasul, dan orang-orang terdahulu yang shalih. Yaitu, jalan Islam. Semua Nabi dan Rasul terdahulu, membawa ajaran aqidah yang sama, akiqah Tauhid.
Sejak Nabiyullah Adam ‘alaihissalam, hingga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mereka menyerukan kalimat tauhid untuk mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala. La Ilaha Illallah.
Meski syariatnya berbeda-beda, pada akhirnya semua syariat para Nabi dan Rasul terdahulu disempurnakan oleh syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yang berat diringankan, yang susah menjadi mudah. Itulah ciri khas syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Sebelumnya manusia hidup sebagaimana kehidupan di dalam rimba pada masa primitif, atau ibarat kehidupan di dalam lautan lepas, di mana yang besar menelan yang kecil, yang kuat menindas yang lemah. Kesemana-menaan, kekacauan, kebatilan adalah hukum yang berlaku saat itu.
Tidak ada tuntunan, tidak ada yang menunjukkan untuk menemukan Tuhannya. Sesembahan mereka adalah batu dan berhala berhala, Nabi mereka adalah hawa nafsu dan syaitan, serta ritual mereka adalah pertumpahan darah.
Tepat seperti bulan ini, pada Rabiul Awal tanggal 12 tahun 571 Miladiyah, telah lahir ke dunia seorang Nabi yang menjadi panutan bagi seluruh alam, Imam para Nabi dan Rasul, beliaulah Nabi Besar Kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Pembawa kebenaran, penerang gegelapan, pembawa syafaat bagi orang-orang beriman pada hari akhir nanti. Hingga Ahmad Syauqi yang bergelar Amirus Syu’ara menuliskan bait syairnya, artinya sebagai berikut.
Artinya: "Telah dilahirkan seorang Rasul pembawa hidayah, hingga segenap alampun menjadi terang benderang Mulut zaman tersenyum bembira serta memuji Para Malaikat berada di sekelilingnya, Kelahiran Nabi itu sebagai berita gembira bagi dunia hingga hari kiamat nanti."
Memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak sekedar agar kita ingat kepada Nabi Besar kita, karena nama Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa kita sebut dalam setiap adzan, dalam setiap shalat, bahkan kita dalam setiap kita bersyahadat dan beshalawat, karenanya kita senantiasa ingat kebesarannya.
Akan tetapi kita perlu memperingati hari kelahiran Nabi, agar kita mengingat perjuangan dakwah beliau, menelaah kembali sejarah terbesar sepanjang sejarah dunia, agar kita introspeksi kembali implementasi dari syariat Islam yang beliau ajarkan kepada kita, agar kita mawas diri terhadap praktik keberagamaan kita, masih sesuaikah dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah dan rasul-Nya?
Karena dalam melaksanakan ajaran Islam, Allah subhanahu wata'ala mewanti-wanti agar kita senantiasa mengambil jalan tengah, yaitu jalan terbaik. Hal itu sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala pada QS. Al-Baqarah: 143, artinya sebagai berikut.
Artinya: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah : 143)
Selanjutnya Allah subhanahu wata’ala melarang kita untuk lalai dalam melaksanakan ajaran Islam, sehingga tidak memenuhi target alias serba kurang.
Sebaliknya Allah juga melarang kita memahami dan melaksanakan ajaran Islam secara berlebihan, yang sunah dianggap wajib, yang makruh dianggap haram, yang halal dianggap haram.
Islam mesti dilaksakan sesuai porsinya, itulah yang diistilahkan oleh al-Qur’an dengan istilah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Adakalanya Nabi bersikap begas, namun sikap lemah lembut, sikap rahmah adalah ciri khas akhlaq Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membawa Islam, yaitu agama yang diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Ali Imran: 19, artinya sebagai berikut.
Artinya: "Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah al Islam." (QS. Ali Imran: 19)
Syekh An-Nawawi Al-Bantani, dalam Tafsirnya, menuliskan bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa tidak ada agama yang diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali Islam, yaitu agama tauhid dan syariat yang mulia, yang pernah ditempuh oleh para Rasul terdahulu.
Turunnya ayat ini karena ada klaim agama-agama lain yang merasa lebih baik, lebih benar, dan lebih utama dibandingkan Islam.
Semoga kita diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kekuatan dan istiqamah dalam mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Meneladani jejak kehidupannya yang penuh cahaya ilmu dan hikmah. Banyak bershalawat kepadanya.
Kecuali kekhususan-kekhususan yang melekat pada diri beliau, semua ucapan dan tindakan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam adalah untuk diikuti. Sebagaimana dikatakan Syekh Abdul Hamid Hakim dalam kitab ushul fiqih Mabadi Awwaliyah:
Artinya: "Dalam diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sungguh terdapat suri teladan yang baik dan patut dicontoh."
Artinya: "Hukum asal segala perbuatan Nabi adalah untuk diikuti kecuali ada dalil yang mengkhususkannya." (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)