Oleh : KH. Ahmad Mulyadi, S.EI - Kajian Renungan Fajar
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Artikel kajian kali ini berkaitan dengan rusaknya tatanan kehidupan di dunia di laut maupun di darat karena ulah tangan manusia. Berkaitan dengan kehidupan kita kita ini diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk menjadi hamba yang selalu mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya : Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Az Zariyat [51] : 56).
Pada saat diciptakannya manusia Allah Subhanahu Wa Ta'ala mencari di mana di bumi ini akan ditempatkan manusia ini dan dipertanyakan di dalam firmannya. Bahwa saat langit dan bumi diberikan amanah untuk menjalankan yaitu yang namanya amanat kehidupan di dunia ini atau di muka bumi ini. Akan tetapi mereka Abai untuk menjalankannya maka dipilihlah manusia akan tetapi manusia adalah sangat bodoh dan sangat zalim.
Berkaitan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا
Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (QS. Ar. Rum [30] : 41).
Dalam Kitab Nashaihul Ibad sahabat Sayyidina Umar Bin Khattab menjelaskan berkaitan kerusakan berkaitan dengan lisan dan hati menurut sahabat Umar Bin Khattab bahwa kerusakan itu membuat manusia menangis dan malaikat menangis. Bagaimana kita menyikapi berkaitan dengan cara al-imam an-nawawi yang dijelaskan dengan tafsir oleh sahabat Umar Bin Khattab bahwa di dalam kehidupan ini saat tatanan kehidupan itu berubah tidak sesuai arahnya maka terjadilah kerusakan.
Saat lisan menyakiti seseorang kemudian hati ini jauh dari kebenaran maka disanalah bersedih manusia karena ulah lisan seseorang yang menyakitinya. Kemudian saat hati ini berubah dari kebenaran menjadi beku dan kaku tumbuh kesombongan maka banyak kerusakan lain yang diakibatkan melebihi dari sekedar kerusakan karena eksploitasi yang tujuannya adalah untuk mencapai keuntungan. Sungguh tajam apa yang dikatakan oleh Sayyidina Umar Bin Khattab berkaitan dengan tafsir ayat tersebut.
Berkaitan dengan kehidupan ini maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengikatkan kita tentang inti daripada kehidupan ini. Dalam firman yang sudah dibacakan bahwa tujuan kita adalah untuk menuju Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam suatu hadis sahabat mengatakan bahwa “Saat kita bersedih dengan kehidupan ini maka Allah menuntun kita menuju kebaikan akan tetapi saat kita lengah maka Allah akan menjauhkan kita dari kehidupan menuju jalan yang Allah ridhoi.
Sesungguhnya mereka lebih dekat dan mengenal sosok Baginda Nabi Besar kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengingatkan para sahabat di dalam hadisnya yaitu orang-orang yang menyayangi dalam artinya menyayangi kehidupan baik kehidupan dirinya antara manusia maupun antar makhluk ataupun malah antara benda. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan tentang bagaimana binatang yang ada di muka bumi ini dan burung yang berterbangan dengan sayapnya itu adalah seperti kita Umam itu umat.
Ibnu qatadah menafsirkan bahwa manusia adalah umat, binatang adalah umat, din juga adalah umat, maka hendaklah kita saling menyayangi dalam artian “antara makhluk kita saling menghormati dan menyayangi”. Arrohimun orang yang menyayangi maka akan disayangi oleh yang maha pengasih dan penyayang yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Selanjutnya dalam sabdanya Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi menyampaikan, “Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian”.
Bagaimana tatanan kehidupan saat kita menjalankan kehidupan mendengar suara burung bersiul bercuit Indah terasa nikmat kita menikmati kehidupan. Apakah burung yang melintas ini ada begitu saja? Allah Sesungguhnya jauh kita perhatikan banyak pohon-pohon rindang.
Ekosistem yang dibangun habitat-habitat burung dengan pohon-pohon yang ada maka mereka hinggap kemudian melintas yang membuat kita nyaman bagaimana saat-saat kita memperhatikan kalau pohon-pohon itu ditebang tentunya akan terjadi kegersangan kemudian habitat hewan juga akan hilang maka sesungguhnya saat kita merusak tatanan kehidupan di situ pun akan terjadi akibatnya. Maka saat kita lihat pada musim hujan terjadi longsor, banyak terjadi banjir bandang yang airnya keruh, kemudian bukit-bukit runtuh, jalan-jalan tertutup.
Dalam beberapa tahun terakhir saat cuaca ekstrim maka akan kita lihat. Bagaimana apa yang diakibatkan dari ulah manusia ini hutan ingin dibuka maka dilakukan penebangan massal atau ingin mengolah dengan olahan yang baru hutan dibakar terjadi kebakaran hutan kemudian saat seseorang lalai dengan kehidupannya. Kita ingat dengan ayat padahal ini adalah perbuatan pribadi tapi berpengaruh terhadap tatanan kehidupan manusia.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Artinya : Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.(QS. Al-Isra [17] : 32).
Allah mengingatkan janganlah engkau dekati zina. Karena itu adalah apa perbuatan yang buruk dan jalan yang tidak benar akan tetapi akibatnya banyak di sana lahir keturunan-keturunan yang tidak jelas. Kemudian bagaimana generasi-generasi yang terlantar membuat di jalanan hidup generasi-generasi yang tidak terurus tanpa ajaran agama yang benar, maka akan terjadi di sana kerusakan di tengah kehidupan umat bagaimana khamr yang Allah Ingatkan jangan kita mendekati khamr.
Saat khamr itu ada ditanam kehidupan, disajikan di tempat-tempat yang tersembunyi jauh dari kehidupan ramai akan tetapi kita lihat akibatnya. Maka di sinilah kebijakan pemimpin akan berpengaruh ternyata di dalam kehidupan sederhana satu kalimat tulisan tentang diharamkannya khamr dilarangnya khamar semuanya saling berkaitan dengan akan membentuk yaitu keutuhan kehidupan umat yang akhirnya menjadi hamba-hamba yang sholeh.
Mudah-mudahan kita semua menjadi hamba-hamba yang selalu dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala yaitu dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena kita selalu menjaga kehidupan ini saling menyayangi baik antar manusia antar makhluk benda-benda pohon dan sebagainya yang juga adalah makhluk hidup.
Kemudian kita jaga kebersihannya, mudah-mudahan kita dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala dengan kehidupan yang nyaman, itu sederhananya. Maka yang lebih dari itu adalah saat kita sudah jauh dari kebenaran hendaklah kita kembali kita ikuti keburukan yang sudah kita lakukan dengan kebaikan semoga kesalahan-kesalahan kita yang lalu, kezaliman, maksiat, keburukan Allah akan ikuti dengan kebaikan kemudian menghapus semua itu.
Selanjutnya saat tatanan kehidupan kita lebih baik menjadi orang-orang yang sholeh maka kita akan menggauli manusia dengan akhlak yang baik Itulah mudah-mudahan kerusakan yang kita buat walaupun kita tidak sadari mudah-mudahan kita dapat ikuti dengan kebaikan-kebaikan yang kadang-kadang kita tidak sadari. (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)