Oleh: Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A.
(Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Dirjen Pendis Kemenag RI)
Jamaah Shalat Jum'at yang dirahmati Allah Swt. Sebagai khatib, pertama-tama saya berwasiat kepada saya sendiri dan kepada seluruh jamaah untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan cara menjalankan semua perintah-Nya dan Rasul-Nya dan menjauhi semua yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada kita semua, baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin YRA.
Jamaah rahimakumullah! Beberapa hari yang lalu kita baru saja memperingati 1 Muharram 1448 H. Hal ini berarti bahwa kita, umat Islam, baru saja memasuki tahun baru hijriah. Ketika memperingati masuknya tahun baru ini kita telah memanjatkan berbagai macam doa dan aktivitas lainnya yang baik dengan harapan bahwa kita selalu mendapatkan maghfirah dan rahmat Allah, baik terhadap hal-hal yang sudah kita lakukan di tahun lalu maupun yang sedang dan akan dilakukan di tahun ini.
Selanjutnya, hal yang perlu kita jawab adalah: 'Apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita sudah memasuki pergantian waktu, khususnya memasuki tahun baru ini?' Apabila kita merenungi makna eksplisit dan implisit dari ayat-ayat suci Al-Qur'an dan Hadis-hadis Nabi, maka kita akan mendapati ajaran dan tuntunan terkait dengan apa yang sebaiknya kita laksanakan dalam menjalani kehidupan ini dan melakukan peningkatan kualitas kehidupan kita di tahun ini dan tahun- tahun yang akan datang.
Terkait dengan waktu dan pergantian waktu, Allah SWT memberikan atensi yang sangat signifikan di dalam Kitab Suci-Nya, Al-Qur'an, yang salah satunya adalah bahwa Allah 'bersumpah' atau membuat struktur qasam (sumpah) dengan 'waktu'. Beberapa ayat, seperti Q.S. al- 'Ashr:1 (wa- l-'ashri; “Demi waktu”), Q.S. al-Dluha:1-2: (wa al-dluhā wa allayli iżā sajā; “Demi waktu dluha dan demi waktu malam apabila hening!”) dan Q.S. al-Fajr:1-2 (wa al-fajri wa layālin 'asyr; “Demi fajar dan demi malam-malam sepuluh!”).
Para mufassir Al-Qur'an berbeda pendapat terkait dengan sumpah Allah dengan waktu-waktu tersebut. Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak perlu saya sampaikan di dalam khutbah Jumat ini. Saya merasa cukup untuk hanya menyampaikan pendapat al-Imam Fakhr al- Din al-Razi dalam kitab tafsirnya, Mafatih al-Ghayb, sebagai berikut:
“Ketahuilah, sesungguhnya waktu-waktu (yang disebutkan di dalam Al-Qur'an), yang dengannya Allah bersumpah itu pasti mengandung faidah atau manfaat, baik itu manfaat diniyyah (keagamaan), misalnya bahwa keberadaan waktu-waktu tersebut merupakan bukti yang jelas dan kuat atas keesaan Allah, atau faidah/manfaat duniawiah yang dapat membangkinkan kita untuk bersyukur, atau bahkan mengandung kedua manfaat tersebut secara sekaligus” (al- Razi, Mafatih al-Ghayb, vol. 31, hlm. 162).
Jamaah Shalat Jum'at yang berbahagia, Berdasarkan hal tersebut di atas, perubahan tahun hijriah ini (dari 1447 H. ke 1448 H.) harus kita sikapi dengan sebaik mungkin, sehingga kita bisa mendapatkan manfaatnya, baik dari segi keagamaan maupun dari segi keduniawian. Dengan demikian, kita akan terus maju dalam hal peribadatan dan hal-hal lainnya. Ada tiga hal yang seharusnya kita lakukan dalam memasuki dan menjalani tahun baru ini, yakni (1) syukur, (2) muhasabah (introspeksi diri) dan (3) peningkatan yang terus menerus (continuous improvement; tanmiyah mustamirrah).
(1) Bersyukur
Dengan masuknya tahun baru hijriah ini, kita diharapkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk bersyukur. Hanya berkat izin Allah, kita masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan di dunia ini, memperbaiki perilaku, melakukan amal shalih, mengembangkan potensi dan prestasi diri serta meningkatkan pengabdian dan layanan kepada umat dan bangsa. Dengan bersyukur atas kenikmatan ini, Allah SWT akan menambahkan kenikmatan kepada kita semua. Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim:7, ْ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
(2) Muhasabah/introspeksi diri
Muhasabah/introspeksi diri ini sangat penting pada masa pergantian tahun. Dalam muhasabah ini kita mengevaluasi tentang apa saja yang sudah kita lakukan di tahun yang lalu, capaian dan kemajuan apa saja yang sudah kita raih, dan kelemahan apa saja yang masih kita miliki. Aspek-aspek yang kita evaluasi tentunya terdiri dari aspek-aspek keberagamaan dan keduniawian kita.
Dalam hal keberagamaan, misalnya, kita dapat mengevaluasi sejauhmana kita sudah mengamalkan ajaran-ajaran Islam, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kita juga bisa merenungi kekurangan-kekurangan dalam hal ibadah ini, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun yang berhubungan dengan sesama manusia dan lingkungan.
Demikian pula halnya dengan bidang keduniawian. Kita dapat merenungi sejauhmana keberhasilan dan ketercapaian kita dalam hal peningkatan karir, layanan, bisnis dan lain sebagainya. Sebaliknya, dengan muhasabah, kita juga akan mengetahui dan merasakan kekurangan dan kelemahan dalam hal-hal yang telah disebutkan tadi.
Dengan muhasabah seperti inilah, diharapkan muncul dalam diri kita 'sikap moderat/tengah-tengah antara khawf (kekhawatiran; pesimisme) dan raja' (harapan; optimisme)'. Dari satu sisi, kita khawatir bahwa Allah SWT tidak memaafkan dan tidak ridla atas kesalahan, kekeliruan dan kelemahan kita. Di sisi lain, kita tetap berharap bahwa Allah akan terus melimpahkan rahmat-Nya, sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin dan berada dalam keberkahan-Nya.
Terkait dengan khawf (rasa khawatir; rasa cemas; rasa takut), Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan diajak berbicara langsung oleh Tuhannya (di akhirat nanti), yang antara dirinya dengan-Nya tidak terdapat penerjemah. Kemudian dia pun melihat ke sebelah kanannya, namun dia hanya melihat apa yang telah dikerjakannya. Dia melihat ke sebelah kirinya, namun dia hanya melihat apa yang telah dikerjakannya. Dia melihat ke hadapannya, namun dia hanya melihat api neraka tepat di hadapan wajahnya. Oleh karena itulah, takutlah kalian terhadap api neraka itu, mesti hanya dengan (menyedekahkan) separuh kurma.” (HR al-Bukhari dan Muslim, dari 'Adiyy ibn Hatim) (Lihat Riyadl al-Shalihin, hadis no. 405).
Adapun terkait dengan raja' (harapan; optimisme), Rasulullah SAWbersabda,
“Setelah Allah menciptakan makhluk, Dia menetapkan di dalam sebuah kitab yang berada di sisi-Nya di atas 'Arsy: 'Sesungguhnya, Rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku'.” (HR al-Bukhari dan Muslim) (Lihat Riyadl al-Shalihin, hadis no. 419).
Secara singkat, dapat dikatakan bahwa tujuan utama muhasabah ini adalah munculnya kesadaran pada diri kita untuk melakukan hal-hal yang lebih baik lagi di masa kini dan masa yang akan datang untuk mendapatkan ridla dan Rahmat Allah SWT.
(3) Peningkatan secara berkelanjutan (continuous improvement; tanmiyah mustamirrah)
Setelah kita melakukan muhasabah, kita hendaknya melakukan aksi positif, yang dapat disebut dengan peningkatan yang berkelanjutan (continuous improvement; tanmiyah mutalazimah) dari waktu ke waktu tanpa henti. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Q.S. al-Hasyr:18,
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok! Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian perbuat.”
Para sahabat Nabi dan ulama juga selalu mengingatkan kita dalam hal pentingnya peningkatan yang terus menerus ini. Dalam satu riwayat, Ali ibn Abi Thalib, misalnya, pernah mengatakan:
“Barangsiapa yang dua harinya sama, maka dia rugi. Barangsiapa yang hari besoknya lebih buruk daripada hari ini, maka dia terlaknat/celaka. Barangsiapa tidak dalam penambahan/peningkatan, maka dia dalam kekurangan. Barangsiapa dalam kekurangan, maka kematian lebih baik baginya.” (Abu Nu'aim al-Ashbahani, Hilyat al-Awliya', vol. 1, hlm. 77).
Hal senada disampaikan juga oleh al-Hasan al-Bashri:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari pergi, maka sebagian dari dirimu telah pergi.” (Abu Nu'aim, Hilyat al- Awliya', vol. 2, hlm. 148).
Dua pernyataan tersebut di atas dapat dipandang sebagai warning atau peringatan bagi kita agar kita selalu melakukan peningkatan-peningkatan yang positif dalam berbagai aspek kehidupan keagamaan dan keduniawian serta melaksanakan aktivitas-aktivitas yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi kita sendiri dan bagi masyarakat luas.
Jamaah Shalat Jumat yang berbahagia, Dalam konteks pembangunan di Indonesia, bangsa Indonesia memilili cita-cita yang sangat luhur, yakni memasuki tahun keemasan (the Golden Age of Indonesia) di tahun 2045, di mana ciri utamanya adalah pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan terciptanya kehidupan relijius yang dewasa, harmonis dan bersatu. Untuk mencapai cita-cita ini, pemerintah saat ini, pemerintah di masa sebelumnya dan pemerintah masa yang akan datang terus berusaha semaksimal mungkin agar cita-cita tersebut dapat tercapai.
Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran mencanangkan Asta Cita (delapan cita luhur). Semua menteri dengan penuh semangat membantunya dengan cara membuat dan melaksanakan program- program kerja di masing-masing Kementerian, yang mengarah kepada kemajuan bangsa Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan layanan kepada masyarakat dan terciptanya kehidupan bangsa yang penuh kedamaian, dan harmonis serta sejahtera.
Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., selaku Menteri Agama RI dan Imam Besar Masjid Istiqlal, mencanangkan dan merealisasikan seperangkat program- program prioritasnya di Kementerian Agama dan di Masjid Istiqlal ini untuk turut memberikan kontribusi yang berarti dan berdampak dalam upaya mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia tersebut.
Bahkan dalam beberapa kesempatan, beliau mengemukakan pentingnya menciptakan “Baitul Hikmah Kedua” di Indonesia, sebagai simbol kemajuan, kejayaan, dan kesejahteraan bangsa. Dalam rangka mencapai kesuksesan yang dimaksud ini, marilah kita bersama-sama melakukan, antara lain, tiga hal tersebut di atas, yakni (1) bersyukur kepada Allah dengan berbagai macam bentuknya, (2) melakukan muhasabah secara kontinyu dari waktu ke waktu, dan (3) melakukan tanmiyah mustamirrah; peningkatan terus menerus, berkesinambungan tanpa henti dalam semua bidang.
Demikianlah khutbah ini saya sampaikan, semoga bermanfaat.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.