Foto: Dok. Media Istiqlal

Hawamisy Istiqlal: Amalan yang Mendekatkan ke Surga dan Menjauhkan dari Neraka

Administrator 19 Jun 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Dalam kajian selepas shalat ashar, dibahas sebuah hadis penting yang memuat panduan praktis bagi setiap Muslim untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Hadis ini berakar dari sebuah kisah dialog langsung antara seorang sahabat (dalam riwayat disebut seorang Arab Badui) yang mencegat unta Rasulullah SAW di tengah perjalanan demi satu tujuan: mencari jaminan keselamatan dari api neraka.

Mendengar pertanyaan yang begitu berbobot, Rasulullah SAW memuji penanya tersebut sebagai orang yang telah mendapatkan taufik (petunjuk). Beliau kemudian merinci empat amalan utama yang menjadi kunci pembuka pintu surga. Berikut adalah penjabaran empat amalan tersebut berdasarkan poin-poin kajian KH. Zakky Mubarak:

1. Menegakkan Tauhid yang Murni (Pure Monotheism)

Amalan pertama dan yang paling mendasar adalah menyembah Allah SWT serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. KH. Zakky Mubarak menekankan pentingnya membangun tauhid yang murni (pure monotheism).

Prinsip Dasar: Keimanan seseorang harus bersih dari segala bentuk syirik, baik syirik yang lahir (terang-terangan) maupun syirik batin (tersembunyi di dalam hati). Tauhid yang murni inilah yang menjadi fondasi utama bagi diterimanya seluruh amal ibadah lainnya.

2. Menegakkan Salat (Bukan Sekadar Mengerjakan)

Poin kedua yang ditekankan dalam hadis tersebut adalah mendirikan salat. KH. Zakky Mubarak memberikan catatan kritis: redaksi yang digunakan agama adalah "menegakkan" (tuqimus salah), bukan sekadar "mengerjakan" (ya'malunas salah).

Oleh karena itu, shalat yang benar-benar ditegakkan harus membawa pengaruh nyata dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

"Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-‘Ankabūt [29]:45)

Orang yang rajin salat tetapi perilakunya masih menzalimi orang lain, menyakiti sesama, atau mengambil hak orang lain, maka nilai salatnya di hadapan Allah dinilai kosong (nol besar). Beliau menyitir peringatan Nabi SAW tentang golongan orang yang salat tetapi hakikatnya tidak dianggap salat (yusalluna wala yusallun).

Terkait hubungan antarluar manusia, KH. Zakky Mubarak mengingatkan betapa beratnya urusan utang piutang. Bahkan, Rasulullah SAW pernah melarang sahabat yang masih terlilit utang untuk ikut berjihad sebelum menyelesaikannya, karena dosa orang yang gugur syahid di medan perang pun diampuni untuk segala hal, kecuali utang.

3. Menunaikan Zakat dengan Ikhlas

Amalan ketiga adalah menunaikan zakat secara sungguh-sungguh, ikhlas, dan tepat takarannya (bahkan lebih baik dilebihkan daripada kurang). KH. Zakky Mubarak mengupas makna mendalam dari zakat ke dalam 4 aspek berdasarkan fungsi:

1. At-Tathir (Mensucikan), untuk menyucikan diri orang yang berzakat dari sifat kotor (kikir) sekaligus menyucikan hartanya.
2. At-Zaskiyah (Pembersihan), untuk membersihkan hati pembayar zakat dan memisahkan bagian harta yang bukan miliknya.
3. An-Numuw (Tumbuh), untuk mengembangkan harta yang dizakati. Berdasarkan hadis Nabi, harta tidak akan pernah berkurang karena sedekah atau zakat.
4. Al-Barakah (Keberkahan), untuk menghilangkan jurang pemisah (kesenjangan sosial) antara si kaya dan si miskin, sehingga mencegah potensi konflik atau revolusi sosial.

4. Merajut Tali Silaturahim

Amalan keempat yang menjadi penutup kunci surga adalah menyambung hubungan silaturahim. Dalam kehidupan sosial, silaturahim bukan sekadar anjuran moral, melainkan memiliki dampak langsung yang logis dan nyata:

1. Silaturahim dapat melapangkan rezeki, karena secara logis, rezeki datang melalui interaksi, usaha, perdagangan, dan kerja sama. Tanpa adanya silaturahim dan komunikasi, seseorang tidak dapat mengenalkan produk atau jasanya kepada orang lain.
2. Memperpanjang Umur (Menghilangkan Stres). KH. Zakky Mubarak menjelaskan bahwa berkumpul dengan kerabat atau teman lama di hari libur dapat melepaskan kepenatan kerja. Kebahagiaan dan hilangnya stres inilah yang secara medis dan psikologis membuat hidup lebih sehat dan berumur panjang.
3. Memakmurkan Lingkungan. Silaturahim yang hidup antaranggota keluarga (seperti anak cucu yang rajin mengunjungi kakek-nenek) akan membuat suasana lingkungan dan rumah tangga menjadi lebih hidup, harmonis, dan makmur.

Di akhir kajiannya, KH. Zakky Mubarak menegaskan kembali janji Rasulullah SAW di dalam hadis tersebut: Barang siapa yang mampu berkomitmen dan melaksanakan amalan-amalan ini (menjaga tauhid, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan merajut silaturahim), maka ia dijamin akan melangkah masuk ke dalam surga.Esensi dari kajian ini mengajarkan kita bahwa kesalehan seorang Muslim tidak boleh berhenti pada ritual ibadah pribadi saja, melainkan harus berdampak baik pada hubungan sosial antarsesama manusia.

Selengkapnya tonton di sini Youtube Masjid Istiqlal TV

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.